Siswa SMA Makassar Ciptakan Bahan Bakar Nabati dari Buah Simpalak

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tim SMAN 21 Makassar yang menciptakan biodiesel dari buah simpalak. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tim SMAN 21 Makassar yang menciptakan biodiesel dari buah simpalak. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Siapa sangka, buah yang sering berserakan di jalan dan tidak bisa dimakan rupanya dapat disulap menjadi bahan bakar nabati.

Buah simpalak atau dikenal juga sebagai buah bintaro, berhasil diekstraksi menjadi biodiesel oleh para siswa dari SMAN 21 Makassar. Alasannya sederhana, tanaman simpalak ini tumbuh banyak di sekitar sekolahnya. Buahnya yang tidak bisa dimakan akhirnya mengotori jalan dan dianggap sampah.

Fairuz Zacky Sadewa, salah satu anggota tim menjelaskan proses pembuatan minyak biodiesel bertaraf B100 ini. Awalnya, buah simpalak yang jatuh dikumpulkan, kemudian diambil bijinya sebagai bahan dasar pembuatan.

”Kami kumpulkan lalu belah untuk ambil bijinya yang di bagian dalam. Setelah itu, kami keringkan dan haluskan biji buah simpalak tadi,” kata Fairuz di Awarding Ceremony Toyota Eco Youth ke-13 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Tim SMAN 21 Makassar yang menciptakan biodiesel dari buah simpalak. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Biji yang sudah kering kemudian ditumbuk hingga halus untuk diekstraksi hingga mendapatkan minyak nabati dari biji buah simpalak. Minyak nabati yang terkumpul selanjutnya akan memasuki tahap esterifikasi.

”Masuk ke tahap esterifikasi untuk mengikat asam lemak bebas yang terkandung di dalam biji buah simpalak,” jelasnya.

”Setelah itu kami titrasi untuk mengetahui apakah asam lemak bebasnya sudah di bawah dua persen atau belum,” imbuh Fairuz.

Tahap titrasi penting dilakukan untuk memastikan kadar asam lemak bebas di dalam minyak tersebut. Sebab, apabila masih di atas dua persen, maka akan menyebabkan penyabunan pada tahap pencucian.

Tim SMAN 21 Makassar yang menciptakan biodiesel dari buah simpalak. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Setelah proses tersebut, ekstrak biji buah simpalak masuk ke tahap transesterifikasi untuk mendapatkan hasil berupa biodiesel. Minyak biodiesel yang didapat kemudian dicuci terlebih dahulu sebelum pengemasan.

”Dari 600 kilogram buah simpalak, bisa jadi 500 mililiter biodiesel,” ungkapnya.

Meski telah berhasil merubah biji buah simpalak menjadi bahan bakar biodiesel, hasil temuan ini baru dikembangkan dalam skala kecil. Sehingga masih membutuhkan persiapan agar bisa dioptimasi.

”Kami masih dalam skala kecil, jadi belum bisa dicoba di mesin-mesin. Karena biodiesel ini sifatnya korosi, ketika kena benda besi di dalam tangki, nanti yang ada muncul karat,” ujarnya.

Ilustrasi Biodiesel 40. Foto: Daff Picture/Shutterstock

Meski sama-sama berasal dari bahan nabati, minyak karya siswa SMA ini punya perbedaan jika dibandingkan minyak kelapa sawit. Khususnya ketika dicoba menggunakan sumbu bakar.

Ketika sumbu bakar dicelupkan ke minyak sawit, maka minyaknya tidak akan menyerap dan naik hingga bagian atas. Sementara, minyak dari buah simpalak akan menjalar ke bagian atas sumbu dan menjadi bahan bakar. Mirip seperti minyak tanah.

Selain karena pohon simpalak banyak di lingkungan SMAN 21 Makassar, proses tumbuh pohon ini juga terhitung cepat. Sehingga bisa lebih cepat dalam menghasilkan bahan bakar biodiesel.