Subsidi Mobil Listrik Bukan untuk Turunkan Emisi Semata

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengisian daya baterai mobil listrik Toyota Prius PHEV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengisian daya baterai mobil listrik Toyota Prius PHEV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan selisih harga mobil listrik dengan ICE masih cukup tinggi. Inilah yang membuat sejumlah negara akhirnya memberikan potongan harga untuk mobil berbasis baterai.

“Beberapa pemerintah, terutama untuk EV masih mendapat subsidi dari pemerintah. Bahkan subsidinya cashback, bukan pajak mewahnya saja yang dinolkan,” kata Bob di sela-sela Seminar Nasional: 100 Tahun Industri Otomotif Indonesia ‘Teknologi Energi Terbarukan untuk Transisi Menuju Net-Zero Emission dan Tantangannya’ di ITS Surabaya.

Menurut Bob, negara yang memberikan cashback atau diskon mobil listrik bukan semata untuk kepentingan penurunan emisi saja. Di sisi lain, mereka juga berusaha menjadi pusat dari pengembangan teknologi itu sendiri.

Mobil listrik Toyota C+Pod di xEV Center. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Ia mencontohkan, bagaimana California mau memberikan diskon setara hingga Rp 100 juta untuk pembelian mobil listrik. Sementara China potongannya hingga Rp 200 juta dan Thailand Rp 25-50 juta.

“Jawabannya bukan cuma soal masalah emisi, tapi mau bergerak di depan perubahan: in front of the change. Kelak mereka mau me-lead perubahan teknologi itu menjadi benefit bagi mereka. Dan sekarang, ya, kembali lagi ke kita, mana yang paling efektif bagi Indonesia,” imbuhnya.

Di samping itu, pemberian diskon juga tak terlepas dari kondisi pasar otomotif di masing-masing negara di atas. Sementara di Indonesia, mayoritas mobil yang terjual harganya berada di bawah Rp 300 juta.

Toyota Multi-pathway

Maka Toyota, kata Bob, menggunakan pendekatan multi-pathway untuk mendorong tercapainya netral karbon. Di mana, masing-masing negara memiliki strategi yang berbeda-beda disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

“Tidak pernah ada konsep yang berlaku di suatu negara diterapkan di negara lain. Tapi silakan di masing-masing negara disesuaikan dengan energi mixed-nya. Kami memang fokus mengurangi emisi baik dari pembangkit dari teknologi prosesnya, kemudian hingga ke kendaraannya. Jadi konsepnya dari ujung ke ujung,” kata dia.

Toyota sendiri menyediakan sejumlah teknologi seperti hidrogen, kendaraan elektrifikasi berbasis baterai, mobil dengan teknologi hybrid, dan flexi engine.

“Masing-masing negara berbeda. Eropa (mobil listrik) sudah middle dan premium segmen. Sementara di Indonesia masih di premium segmen,” tutupnya.