Suzuki Berharap Ada Keberpihakan Pemerintah untuk Mobil Hybrid

25 Januari 2024 11:02 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suzuki S-Presso meluncur di GIIAS 2022.  Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suzuki S-Presso meluncur di GIIAS 2022. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Harold Donnel berharap pemerintah dapat memberi atensi lebih untuk teknologi mobil hybrid di Indonesia, sebagai salah satu cara untuk mencapai target netral karbon atau net zero emission (NZE).
ADVERTISEMENT
"Kalau pemerintah akan memiliki keberpihakan lebih kepada hybrid kita akan sangat berterima kasih sekali dan kita berharap ini sama-sama akan mendukung industri otomotif. Bukan masalah ini hybrid atau listrik, elektrifikasi atau segala macam, tujuannya adalah target netral karbon 2060 tercapai," kata Harold ditemui di Jakarta.
Menurutnya, teknologi hybrid saat ini paling tepat untuk menjadi jembatan bagi masyarakat sebelum beralih ke teknologi ramah lingkungan yang lebih tinggi seperti contohnya mobil listrik murni atau BEV.
"Ibaratnya untuk mencapai lantai tiga dari bawah tidak bisa lompat begitu saja, pasti melewati lantai satu dan dua terlebih dahulu. Memang terkesan oleh market dan media kalau pergerakan Suzuki agak lamban (di mobil listrik) untuk mencapai lantai tiga itu, istilahnya begitu," jelasnya.
Suzuki XL7 mild hybrid di GIIAS Surabaya 2023. Foto: dok. Suzuki Indomobil Sales
Namun, sebagai pabrikan yang sudah berkiprah selama 53 tahun di Indonesia dan sudah memiliki segmen pasar serta konsumen loyal, Suzuki merasa transisi teknologi ramah lingkungan paling tepat dilakukan secara bertahap dan hati-hati.
ADVERTISEMENT
"Cuma, Suzuki percaya saat ini masih sangat banyak masyarakat yang masih berada di lantai satu. Kalau nanti sudah teredukasi dan infrastruktur pendukung memadai, baru kita bisa ke lantai berikutnya," imbuh Harold.
Apalagi, pihaknya ingin segmen kendaraan dengan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan tumbuh secara berkelanjutan di Indonesia. Bukan sekadar menyeruak sebagai tren sesaat tanpa adanya mitigasi untuk menghadapi masalah tertentu.
Suzuki eVX di Japan Mobility Show 2023, Tokyo, Jepang, Rabu (25/10/2023). Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
"Selain kemampuan daya beli dan infrastruktur (untuk mobil listrik), hal paling penting lainnya adalah sustainable growth. Kita tidak mau ini hanya sekadar bubble, tapi tiba-tiba besok hilang istilahnya begitu. Kita sudah 53 tahun di Indonesia, ini bukan industri main-main. Kita ingin punya jalur yang lebih panjang lagi di pasar Indonesia," tukasnya.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, Harold menegaskan bukan berarti Suzuki sama sekali tidak mau berkecimpung di segmen kendaraan ramah lingkungan dengan teknologi baru seperti BEV.
"Di Japan Mobilty Show sudah ditunjukkan kita punya konsep (calon mobil listrik) eVX. Artinya kita juga siap secara teknologi, hanya saja untuk menyajikannya ke pasaran tentu butuh langkah ekstra hati-hati," paparnya.

Penjualan mobil elektrifikasi Suzuki meningkat di Indonesia

PT Suzuki Indomobil Sales meluncurkan Suzuki Ertiga Hybrid (10/6/2022). Foto: Sena Pratama kumparanOTO
Seolah menjadi bukti, Suzuki melaporkan penjualan ritel-dari diler ke konsumen-mobil elektrifikasi mereka selama tahun 2023 lalu memberi kontribusi yang cukup signifikan yakni pada rasio 36 persen dari total 37.853 unit kategori kendaraan penumpang.
Sebanyak 13.557 unit di antaranya disumbangkan dari model-model Ertiga mild hybrid sebesar 43 persen, XL7 mild hybrid 47 persen, dan Grand Vitara mild-hybrid 10 persen. Harold mengaku, konsumen Suzuki sudah sangat menerima mobil elektrifikasi dengan jenis teknologi hibrida.
ADVERTISEMENT
"Penerimaan pasar hybrid, habis itu insentif keberpihakan. Insentif pemerintah terhadap kendaraan hybrid pastinya kita sangat terbuka sekali dan memang sangat mendukung apabila memang pemerintah memiliki keberpihakan yang sama terutama dengan teknologi hybrid," katanya.
Menyoal bentuk dukungan teknologi hybrid, ia menyerahkannya kepada pemerintah. Baik dalam bentuk regulasi keringanan atau insentif tambahan lainnya.
"Kami yakin pemerintah sudah memiliki instrumen-instrumen dan analisator sendiri istilahnya begitu. Kita tidak menitipkan harapan harus free pajak 20 persen atau bahkan bebas pajak, kami yakin pemerintah yang bisa mengkalkulasi penerimaan insentif yang baik untuk negara," pungkasnya.

Suzuki canangkan target turunkan karbon emisi sebesar 41 persen

Fasilitas pabrik Suzuki di Indonesia. Foto: dok. Suzuki Indomobil Sales
Tidak hanya melalui produk dengan teknologi hybrid dan mesin yang efisien bahan bakar serta rendah emisi, Suzuki juga melakukan upaya lain untuk mengurangi emisi karbon untuk mencapai target netral karbon 2060.
ADVERTISEMENT
Caranya dengan membangun sistem produksi pabrik yang ramah lingkungan terhitung sejak tahun 2020. Berbagai upaya diaplikasikan dengan strategi yang unik, memperhitungkan kondisi geografis sebagai negara kepulauan tropis dan kekayaan alam yang sesuai untuk mendukung agenda besar terhadap lingkungan ini.
Pertama penerapan Suzuki Green Procurement Guideline, yaitu panduan peraturan dan kesepakatan atas pengujian dan pengawasan bahwa seluruh vendor yang menyuplai bahan produksi kepada pabrik Suzuki telah memiliki landasan hukum akan komitmen penjagaan lingkungan dan bebas dari 30 bahan kimia berbahaya yang sudah disahkan secara global.
Hingga tahun 2023, Suzuki Green Procurement Guideline telah mengawasi 464 vendor aktifnya, tujuannya agar konsumen dapat yakin dan tenang seluruh produk Suzuki Indonesia aman untuk digunakan dan telah berstandar global.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Suzuki Indonesia juga menargetkan setiap vendor untuk dapat mengurangi 5 persen emisi di keseluruhan proses produksinya setiap tahun, dimulai dari tahun 2024. Hal lainnya adalah pemanfaatan panel surya sebagai kebutuhan tambahan suplai listrik dan penanaman pohon di kawasan fasilitas produksi.
Dalam tiga tahun terakhir, Suzuki Indonesia berhasil mencatatkan lebih dari 9,000 ton sampah yang disalurkan untuk didaur ulang, guna mencegah dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
***