kumparan
search-gray
Otomotif29 Juli 2020 9:43

Tak Ada Campur Tangan Aliansi di Pengembangan Mitsubishi Xpander HEV

Konten Redaksi kumparan
Tak Ada Campur Tangan Aliansi di Pengembangan Mitsubishi Xpander HEV  (141336)
Mitsubishi Xpander Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Xpander Hybrid (HEV/hybrid electric vehicle) akan meluncur untuk pasar Asia Tenggara pada 2023. Ini masuk pada rencana bisnis jangka menengah Mitsubishi Motors tahun fiskal 2020-2022, yang dipresentasikan Senin (27/7/2020).
ADVERTISEMENT
Bukan tidak mungkin juga, produksinya bakal dilakukan di Indonesia. Mengingat basis produksi MPV andalan pabrikan tiga berlian itu ada di sini.
Terkait hal tersebut, termasuk soal penjualannya di Indonesia, Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura, belum mau mengungkapkannya.
"Untuk saat ini kami belum bisa memberikan komentar terkait hal tersebut," ucapnya kepada kumparan, Selasa (28/7).
Tak Ada Campur Tangan Aliansi di Pengembangan Mitsubishi Xpander HEV  (141337)
Mitsubishi Xpander Cross Foto: Istimewa

Pengembangan Xpander HEV

Menanyakan soal teknologi HEV yang digunakan pada Xpander HEV, MMKSI menyebut tak melibatkan aliansi, alias dikembangkan sendiri oleh Mitsubishi.
"Ini akan menjadi kendaraan HEV pertama yang akan kami kembangkan sendiri. Selain itu Xpander merupakan kendaraan MPV dengan target konsumen yang beragam, sehingga kami ingin menyediakan produk yang terjangkau," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Selain membahas soal strategi mereduksi pengeluaran di tengah kondisi sulit, pabrikan tiga berlian juga akan fokus ke pasar ASEAN dan masuk ke kendaraan ramah lingkungan.
Tak Ada Campur Tangan Aliansi di Pengembangan Mitsubishi Xpander HEV  (141338)
Mitsubishi akan fokus ke Pasar Asia Tenggara (ASEAN). Foto: Istimewa
Dalam presentasinya, laba operasi Mitsubishi di kawasan Asia Tenggara (Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam) jadi penyumbang terbesar, atau mencapai 63,6 miliar yen atau sekitar Rp 8,8 triliun.
Sedangkan di wilayah lain (Eropa, Amerika Utara) hanya 12,8 miliar yen, pada tahun fiskal 2019 yang berakhir di Maret 2020.
Kemudian market share di empat negara inti tersebut berada di angka 10,6 persen, atau tumbuh cukup baik dari 6,4 persen pada 2007 silam. Sementara Jepang 2,1 persen, Eropa 1 persen, dan Amerika Utara 0,8 persen.