Tantangan Manufaktur Jika ABS Jadi Fitur Wajib Motor Baru di 2027

Usulan kewajiban fitur Anti-lock Braking System atau rem ABS pada seluruh sepeda motor baru mulai 2027 tidak hanya berkaitan dengan aspek keselamatan, namun meninggalkan catatan penting dari sudut pandang manufaktur.
2W and OBM Service Head PT Suzuki Indomobil Motor, Victor Assani menyebutnya sebagai kompromi antara keselamatan dan keterjangkauan harga.
“Kalau berbicara cost tentu yang namanya penambahan fitur atau upgrade komponen pasti akan berimbas ke situ termasuk multiplier setelah itu, tapi itu bukan variabel tunggal,” buka Victor dihubungi kumparan, Rabu (7/10).
Menurut Victor, penerapan ABS secara menyeluruh perlu melihat lebih jauh karakteristik kendaraan dan penggunaannya di Indonesia. Hal ini mencakup kondisi jalan, peruntukan sepeda motor, hingga perilaku dan kemampuan pengendara.
Ia menilai setiap perubahan spesifikasi kendaraan perlu mempertimbangkan bagaimana teknologi tersebut bekerja dalam kondisi penggunaan yang beragam. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak hanya berorientasi pada penambahan fitur, tetapi juga mempertimbangkan efektivitasnya dalam konteks penggunaan sehari-hari.
“ABS memang sebuah teknologi, namun kita juga harus bijak melihat pada beberapa variabel yang perlu diperhatikan misalnya berbicara kondisi jalan di Indonesia seperti apa, penggunaan sepeda motor untuk apa atau behaviour termasuk skill dalam berkendara, ini justru yang menjadi fondasi,” ujarnya.
Dari perspektif industri, konsekuensi penambahan komponen juga tidak berhenti pada harga komponen itu sendiri. Perubahan tersebut dapat memiliki dampak lanjutan terhadap struktur biaya kendaraan, sehingga diperlukan perhitungan menyeluruh sebelum penerapan regulasi dilakukan.
Karena itu, Victor menilai kebijakan mengenai kewajiban ABS perlu dikaji secara komprehensif. Menurut dia, proses pengambilan keputusan harus memperhitungkan berbagai aspek agar hasil akhirnya memberikan manfaat keselamatan yang optimal tanpa mengabaikan kondisi industri dan pasar.
“Sehingga saya pikir ini masih memerlukan kajian komprehensif yang lebih lanjut. Jadi dalam proses pengambilan keputusan tentu kita harus mengambil hasil yang paling optimal termasuk aksi yang lebih strategis,” kata Victor.
Di sisi lain, industri sepeda motor sebenarnya sudah tidak asing dengan penerapan teknologi ABS pada sejumlah produk. Fitur tersebut telah digunakan beberapa anggota AISI, terutama pada model dengan kapasitas mesin 150 cc ke atas.
Artinya, tantangan manufaktur bukan semata-mata mengenai kemampuan industri untuk memasang teknologi tersebut pada kendaraan.
Persoalan yang perlu diperhitungkan adalah bagaimana penerapan secara menyeluruh dapat dilakukan dengan mempertimbangkan struktur produk, biaya, karakteristik konsumen, serta kebutuhan penggunaan sepeda motor di Indonesia.
Victor juga melihat bahwa teknologi kendaraan sebaiknya tidak berdiri sendiri dalam strategi meningkatkan keselamatan. Peningkatan fitur perlu berjalan beriringan dengan pembentukan perilaku berkendara yang aman agar manfaat keselamatan dapat diperoleh secara lebih optimal.
Menurutnya, kemampuan pengendara tetap menjadi fondasi penting karena teknologi hanya merupakan salah satu bagian dari keseluruhan sistem keselamatan. Faktor manusia, kondisi jalan, dan karakter penggunaan kendaraan tetap perlu menjadi bagian dalam kajian sebelum sebuah kebijakan diterapkan secara luas.
“ABS memang sebuah teknologi, namun kita juga harus bijak melihat pada beberapa variabel yang perlu diperhatikan,” tutur Victor.
Dengan demikian, rencana kewajiban ABS pada seluruh motor baru berpotensi menjadi tantangan baru bagi industri dari sisi manufaktur maupun struktur biaya.
Namun, Victor menilai keputusan akhir perlu didasarkan pada kajian menyeluruh agar penerapan teknologi tersebut dapat memberikan hasil yang paling optimal bagi keselamatan sekaligus mempertimbangkan kondisi industri sepeda motor nasional.
Sementara General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM), Rina Listiani mengapresiasi upaya berbagai pihak terkait keselamatan berkendara untuk mengurangi potensi kecelakaan bagi pengendara sepeda motor.
"Saat ini semua sepeda motor Honda telah memiliki fitur dan teknologi keselamatan berkendara sesuai kebutuhan dan karakter berkendara di setiap segmen, sehingga membantu pengendara dapat berkendara dengan aman dan disiplin serta memastikan kondisi sepeda motor yang baik dalam keselamatan berkendara di berbagai kondisi jalan," katanya kepada kumparan.
