TKDN Motor Listrik Rata-rata 47,5 Persen, Naik Jadi 60 Persen Mulai 2027

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kunjungan ke pabrik Polytron di Sayung, Demak, Jawa Tengah untuk melihat proses perakitan motor listrik. Foto: Sena Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kunjungan ke pabrik Polytron di Sayung, Demak, Jawa Tengah untuk melihat proses perakitan motor listrik. Foto: Sena Pratama/kumparan

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) motor listrik di Indonesia saat ini sudah mencapai rata-rata 47,5 persen. Angka tersebut berasal dari 98 produk kendaraan listrik roda dua dan roda tiga yang telah mengantongi sertifikat TKDN.

Berdasarkan data Pusat P3DN Kementerian Perindustrian per 22 Juli 2026, capaian TKDN kendaraan listrik roda dua dan roda tiga berada pada rentang 27 persen hingga 74,27 persen.

Secara keseluruhan, terdapat 48 perusahaan dengan total 213 produk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang telah mendapatkan sertifikat resmi TKDN. Khusus segmen roda dua dan roda tiga, jumlahnya mencapai 31 perusahaan dengan 98 produk.

Rata-rata TKDN sebesar 47,5 persen tersebut sudah melampaui batas minimum yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2026, yakni sebesar 40 persen.

Partisipasi GESITS di pameran Periklindo Electric Show (PEVS) 2024. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Namun, batas tersebut akan kembali naik dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah menetapkan target minimum TKDN KBLBB sebesar 60 persen untuk periode 2027-2029. Setelah itu, mulai 2030, target minimum TKDN kendaraan listrik akan kembali meningkat menjadi 80 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, peningkatan kandungan lokal diperlukan agar pertumbuhan kendaraan listrik ikut mendorong perkembangan industri di dalam negeri.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi harus menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik yang memiliki daya saing global,” kata Agus melalui keterangan resmi yang diterima kumparan, Jumat (14/8/2026).

Sejumlah pengunjung melihat motor listrik di stan ALVA pada GIIAS 2023 di ICE BSD, Tanggerang, Jumat (11/8/2023). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Agus mengatakan, penggunaan komponen lokal yang semakin besar juga dapat memberikan dampak terhadap investasi, penguasaan teknologi, dan aktivitas industri di dalam negeri.

“Kita ingin setiap peningkatan penggunaan kendaraan listrik memberikan multiplier effect sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional. Artinya, semakin banyak kendaraan listrik digunakan masyarakat, semakin besar pula komponen yang diproduksi di Indonesia, investasi yang masuk, teknologi yang kita kuasai, serta aktivitas industri yang tumbuh di dalam negeri,” ujarnya.