Otomotif
·
4 September 2019 22:04

Toyota Indonesia Mulai Produksi Innova Hybrid Tahun 2022?

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Toyota Indonesia Mulai Produksi Innova Hybrid Tahun 2022? (220420)
Toyota Innova Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono, memastikan bahwa mereka mulai memproduksi mobil hybrid pada tahun 2022. Hal ini ia beberkan di sela-sela penyelenggaraan Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (4/9).
ADVERTISEMENT
"Kami akan memproduksi mobil hybrid pada 2022 titik," ucap Warih ketika ditanyakan kapan waktu tepatnya produk hybrid lahir di Indonesia.
Bicara soal model hybrid yang akan diproduksi, Toyota, kata Warih, masih berkutat pada produk MPV dan SUV. Mengacu pada informasi yang baru saja bocor di India, kemungkinan produk yang akan diproduksi adalah Innova hybrid.
Toyota Indonesia Mulai Produksi Innova Hybrid Tahun 2022? (220421)
Toyota Innova. Foto: Istimewa
Karena sampai saat ini, mobil yang masuk dalam proyek IMV Toyota (International Innovative Multi-purpose Vehicle) hanya diproduksi di Indonesia.
"Sudah infonya sampai situ saja, mau sampai mana lagi," tuturnya.
Warih menambahkan, selain untuk pasar domestik mereka juga mesti memikirkan pasar baru untuk hybrid. Sehingga saat masanya tiba --peluncuran Innova hybrid-- bisa langsung diekspor.
Ketika ditanyakan soal tujuan ekspornya, Warih masih enggan untuk mengungkapkan. Pasalnya ini menyangkut strategi pasar tujuan ekspor.
Toyota Indonesia Mulai Produksi Innova Hybrid Tahun 2022? (220422)
Ekspor 1 juta unit mobil Toyota ke berbagai negara Foto: Gesit Prayogi/kumparan

TKDN Turun

Menanyakan soal Toyota Innova hybrid yang kemungkinan akan diproduksi di Indonesia, dan nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) akan mengalami penurunan, Warih mengiyakannya.
ADVERTISEMENT
Kendati demikian, setelah diproduksi dalam beberapa tahun ke depan, TKDN-nya bisa kembali meningkat. Seperti diketahui, konten lokal Innova saat ini sudah mencapai 85 persen.
"Iya ada penurunan cuma tak begitu banyak, kami belum menghitung-hitung lagi. Tugas kita adalah pengganti part itu juga bisa diproduksi di Indonesia," kata Warih.