Kumparan Logo
Bakti Lingkungan Djarum
Ketua Yayasan Pengiat Konservasi Muria/ PEKA Muria Teguh Budi Wiyono saat ditemui kumparan di Desa Colo, Kudus, Senin (11/8/2025).

Beli Lahan Pakai Uang Pribadi demi Selamatkan Habitat Elang Jawa dan Macan Tutul

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hutan Gunung Muria. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Hutan Gunung Muria. Foto: Dok. Pribadi

Teguh Budi Wiyono (51) bukan orang ‘have’. Ia hanya lulusan SMK akuntansi. Sempat bekerja di pabrik plastik di Semarang dan beberapa tahun di salah satu hotel di Kudus. Usai meninggalkan pekerjaan itu, Teguh memilih menjadi tukang ojek di lereng Gunung Muria.

Teguh banting setir jadi ‘kang ojek’, mengantarkan peziarah menuju makam Sunan Muria. Pengojek jadi pilihan realistis karena jasa ini sangat dibutuhkan di lereng Gunung Muria. Sebab untuk menuju ke makam Sunan Muria, peziarah harus mendaki tanjakan curam. Dan ojek menjadi pilihan.

Lima tahun Teguh menjadi ojek peziarah. Namanya sohor di kalangan peziarah makam Sunan Muria.

Namun selain kesohorannya sebagai ‘kang ojek’, Teguh juga mendapatkan pelajaran besar. Profesi ojek membuatnya semakin lekat dengan kawasan Gunung Muria. Membuatnya semakin sadar mengenai keberadaan Gunung Muria. Pegunungan tersebut tak hanya sebagai tujuan ziarah religi, melainkan keseimbangan alam: hutan, satwa, dan manusia.

Foto udara menunjukkan lereng gunung Muria di Desa Colo, Kudus, Senin (11/8/2025). Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Secara bersamaan, ia menyadari ancaman yang dihadapi bahkan telah dialami tempat lahirnya itu. Teguh menyaksikan “luka” yang menggerogoti kawasan Gunung Muria dari tahun ke tahun. Pengikisan hutan dan pembalakan liar menghantui sepanjang waktu.

Sejak masa transisi Orde Baru menuju Reformasi, rentang tahun 1999, pembalakan liar marak di kawasan hutan. Akibatnya, hanya tersisa 2.000 hektar hutan dari sebelumnya 11.000 hektar. 2.000 hektar yang tersisa tersebut berada di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara.

Tak hanya pembalakan, kawasan hutan Gunung Muria juga digerogoti alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi. Menyaksikan “luka-luka” itu, Teguh tergerak mengabdikan diri memperjuangkan konservasi Muria.

Salah satu aksi nyata yang dilakukan Teguh adalah membeli lahan kopi di batas antara hutan dan lahan kopi warga sejak 2022 untuk menahan laju perambahan hutan. Ia berusaha memagari laju perambahan hutan lewat lahan-lahan yang dibelinya secara mandiri. Lahan-lahan tersebut kemudian ditanami pohon dan menjadi pembatas kawasan hutan.

Anggota tim Yayasan Penggiat Konservasi Muria/PEKA Muria menanam bibit pohon dan penanda titik kordinat di jalur mata air di lereng gunung Muria di Desa Colo, Kudus, Senin (11/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Sebagaimana namanya, Teguh benar-benar teguh di jalan konservasi Muria hingga diamanahkan menjadi Ketua Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria).

Atas keteguhan Teguh dan kawan-kawannya di PEKA Muria, mereka memperoleh dukungan penuh dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Dukungan berupa bibit pohon dan peralatan lainnya sebagai bentuk semangat, dukungan, gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Data dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, total sudah ratusan ribu pohon yang ditanam di Colo, lereng Muria, sejak 2021 hingga sekarang.

“Untuk satu tahun kami ditarget 1.000 tanaman. Ada dua jenis: ficus dan bambu. Bambu itu untuk penguatan mata airnya, untuk membersihkan mata airnya, ficus untuk pemulihan habitatnya,” kata Teguh kepada kumparan, Rabu (5/8/2026).

Teguh Budi Wiyono (51) di lokasi pemantauan konservasi Gunung Muria. Foto: kumparan

Dari Ojek ke Pemantau Macan Tutul dan Elang Jawa

Teguh lahir dan besar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Setelah sempat merantau keluar, ia kembali lagi ke Colo dengan cerita dan semangat berbeda. Sebab, Colo adalah salah satu kawasan paling luas menyimpan tutupan hutan Gunung Muria. Dari 2.000 hektar hutan tersisa, hampir separuhnya berlokasi di Colo sebab lokasinya dekat dengan makam Sunan Muria.

Kedekatan Teguh dengan Colo dan makam makin menyambungkan dirinya dengan kawasan Gunung Muria dan satwa yang berdiam di sana, termasuk macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Satwa endemik tersebut kerap disebut kiai karena konon merupakan hewan sahabat Sunan Muria.

Tak jauh dari makam Sunan Muria terdapat hutan keramat seluas 10 hektar yang menjadi wilayah jelajah macan tutul. Dan ternyata tak hanya macan tutul, kawasan Gunung Muria juga menjadi habitat elang jawa (Nisaetus bartelsi). Dua satwa liar, asli Pulau Jawa ini, terancam punah dan berstatus endangered.

Elang Jawa. Foto: Ikmal M. Huda/Burung Indonesia

Tahun 2025, Djarum Bakti Lingkungan bersama PEKA Muria serta sejumlah lembaga swadaya, dan masyarakat melakukan aktivitas pelindungan satwa endemik macan tutul dan elang jawa. Lewat pemantauann, pendataan, dan konservasi habitat atau hutan tersisa.

Beberapa tahun sebelumnya, sejak tahun 2000-an, pegiat konservasi telah memasang kamera jebak. Berkat kamera pinjaman itu, Teguh dan kawan-kawan tak sekadar mendengar dongeng mengenai macan tutul. Mereka bisa menyaksikan dan melihat lewat gambar tangkapan kamera.

“Kami pinjam kamera dari Peduli Karnivor Jawa, satu unit kami pasang. Lalu, 2016 itu, kami pertama kali mendapatkan gambar macan tutul,” ujar Teguh.

Perasaan bercampur seketika menyerang Teguh saat menyaksikan gambar macan Jawa itu. Ada rasa bangga, namun juga rasa khawatir soal pelestarian satwa tersebut. Sementara, pengikisan hutan juga semakin menyerang.

”Setelah kami pasang camera trap, dan bisa membuktikan, waktu itu memang ada rasa bangga. Cuma bagaimana apakah ini masih bisa lestari?” kata Teguh.

Macan tutul jawa di Gunung Muria pada 2018. Foto: PMPH Muria

Gambar macan tutul jawa kemudian dibawa ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Selain ke BKSDA, Teguh dan rekan-rekannya mempresentasikan gambar macan tutul ini ke lembaga swasta, Djarum Foundation, pada tahun 2017. Dari sana mereka mendapatkan dukungan berupa tambahan dua buah kamera jebak.

Sejak tahun itu, Djarum Foundation terlibat dalam konservasi Muria.

Selanjutnya, berkat bantuan Djarum Foundation dengan melibatkan lembaga konservasi lain, seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara, 35 kamera jebak mereka pasang di 25 titik pada 2018. Lalu pada tahun 2022 sampai tahun 2025, 80 kamera jebak tambahan yang dipasang di 40 titik. Setiap titik dipasangi dua jenis kamera: foto dan kamera video yang beroperasi dengan sensor gerak.

Hasil keteguhan dan berbagai bantuan, termasuk pihak swasta, Teguh dan kawan-kawan berhasil mengidentifikasi, mencatat, dan mendata dua jenis hewan dilindungi tersebut.

Mereka menemukan pola bahwa setiap individu macan tutul memiliki pola tutul yang berbeda. Pola tersebut kemudian dijadikan semacam sidik jari untuk identifikasi.

Anggota tim Yayasan Penggiat Konservasi Muria/PEKA Muria menanam bibit pohon di jalur mata air di lereng gunung Muria di Desa Colo, Kudus, Senin (11/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Hasil pemantauan dengan kamera pengintai mendeteksi 14 individu macan tutul, yang terdiri dari 9 jantan dan 5 betina. Jumlah 14 individu ini tergolong padat dan cenderung stabil dari 2020.

Selain memasang kamera di titik-titik tertentu, Teguh dan kawan-kawan juga memasang dua GPS collar pada leher dua individu macan tutul jantan untuk merekam pergerakan selama 6 bulan.

Mereka juga mengumpulkan sampel kotoran macan tutul untuk mengetahui struktur populasi dan preferensi satwa mangsanya. Temuannya, macan tutul di Muria ternyata lebih banyak memangsa kelelawar. Dari pantauan GPS tersebut juga menunjukkan bahwa, macan tutul sering kali menyambangi perkampungan warga untuk mencari mangsa, seperti ayam, bebek, dan kambing.

Bahkan dalam catatan Teguh, ada 12 kambing diserang macan tutul di tiga desa dalam sebulan belakangan. Konflik masyarakat dengan macan tutul umumnya terjadi pada bulan tertentu, yaitu Agustus hingga Maret di 10 desa.

Pegiat Konservasi Muria/PEKA Muria menyusuri hutan lereng Gunung Muria, Kudus, untuk penanaman bibit pohon, Senin (11/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Peningkatan konflik terekam terjadi setiap kurun empat tahun sekali, terutama ketika indukan macan tutul mulai bunting dan mengasuh anakan hingga enam bulan.

”Setiap dia mau melahirkan itu dia pasti harus turun ke desa, keluar dari teritori si jantan,” tambah Teguh.

Guna menghindari konflik antara warga dan macan tutul, dilakukan inovasi penguatan kandang. Agar, ketika ada serangan macan tutul ke ternak, warga biasanya segera melapor ke PEKA Muria.

Selain macan tutul, Teguh dan PEKA Muria berhasil memantau keberadaan elang jawa. pada pemantauan awal, mereka berhasil mengidentifikasi 14 ekor elang jawa. Data tersebut yang membuat Gunung Muria menjadi kantong habitat elang jawa dan enam jenis elang, serta 120 jenis burung lainnya.

”Untuk elang jawa, pemantauannya memang agak membosankan. Kami harus berdiam di satu tempat mengamati elang jawa muncul dari mana, jam berapa, terus hilangnya di mana. Jadi, kami lakukan pengamatan itu selama 63 hari di beberapa titik di Muria,” ungkap Teguh.

Elang Jawa. Foto: Burung Indonesia/Nisa

17 Tahun Tanam Pohon dan Rawat Gunung Muria

Sebagai orang yang lahir, besar, dan ingin terus berkontribusi bagi Muria, Teguh memantapkan diri untuk mengabdi untuk pelestarian lingkungan Muria. Ia mulai mandiri menanam pohon di Muria sejak 2009.

Kala itu, ia bersama 11 rekannya membentuk Kelompok Air guna menyalurkan air dari mata air menuju rumah warga. Teguh kemudian bergabung di komunitas Perkumpulan Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Muria pada 2011.

Sejak tahun itu, Teguh dan rekan-rekannya terus melakukan aksi perawatan hutan Muria. Bahkan pada 2015, PMPH Muria berupaya mengatasi dampak kebakaran hutan dengan menanam pohon kaliandra. Kegiatan mereka terus berjalan hingga vakum tahun 2021 ketika Ketua PMPH Muria Muhammad Shokib meninggal dunia.

Sadar pentingnya keberlanjutan konservasi, Teguh dan rekan-rekannya kemudian melanjutkan kegiatan PMPH dengan membentuk Yayasan PEKA Muria pada 2023. pada tahun yang sama, mereka kembali ke titik penanaman pohon sebelumnya untuk menambal bibit pohon keras, seperti bambu dan ficus. Gunanya untuk pemulihan habitat.

Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria/PEKA Muria Teguh Budi Wiyono saat ditemui kumparan di Desa Colo, Kudus, Senin (11/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Di luar kawasan hutan, reboisasi dilakukan dengan penanaman buah di lahan warga yang lebih bernilai ekonomis. Bibit-bibit pohon yang ditanam merupakan bantuan langsung dari Djarum Foundation.

Seiring penanaman pohon dan pemeliharaan satwa, PEKA Muria juga menerapkan edukasi mengenai pentingnya konservasi hutan. Perlindungan macan tutul dan elang jawa juga ditularkan kepada khalayak luas, seperti pelajar. Jalur pendakian ke Muria langsung dipandu tim PEKA Muria guna menyisipkan pembekalan pengetahuan tentang macan tutul, elang jawa, hingga penghijauan hutan.

Saat ini, kata Teguh, dampak dari pelestarian di lereng Muria, belum dirasakan langsung. Namun ia yakin, hasil kerja keras dan dukungan berbagai pihak akan dinikmati anak cucu dan generasi mendatang. Teguh berharap, upayanya kelak akan akan dilanjutkan dan terus tumbuh bersama generasi muda.

"Mungkin anak-anak kami juga harus melakukan dan itu menjadi PR kami, menjadi PR masyarakat Muria, menjadi PR anak-anak kami, cucu-cucu kami untuk terus melestarikan Muria, ekosistemnya, mata airnya, dan semua yang ada di Muria,” pungkasnya.