Kumparan Logo
Waspasa Ancaman El Nino
Waspasa Ancaman El Nino.

Dihantui “Godzilla” El Nino, Waspada Kemarau Superpanjang

kumparanPLUSverified-green

·waktu baca 15 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

Kemarau yang lebih kering dan panjang imbas El Nino diperkirakan melanda Indonesia beberapa bulan mendatang. Saking ekstremnya, anomali cuaca bahkan digambarkan bak Godzilla. Dampaknya bisa mengancam sektor pertanian.

***

Musim tanam pertama belum juga panen, tapi Ruskiyah sudah waswas memikirkan musim tanam kedua. Ada prediksi fenomena El Nino melanda Indonesia beberapa bulan ke depan atau pada musim tanam kedua.

Meski masih prakiraan, Ruskiyah sulit untuk tidak percaya, sebab ia sendiri sudah merasakan tanda-tanda kedatangan fenomena panas tersebut. Misalnya, biasanya ia kuat bekerja di sawah dari pagi sampai pukul 11 siang, tapi beberapa hari terakhir ini berbeda.

“Sekarang jam 9 aja sudah lempoh (lelah) karena panas. Panas sudah terasa… air cepat kering,” kata Ruskiyah, petani di Indramayu, kepada kumparan, Jumat (17/4).

El Nino benar-benar jadi momok bagi Ruskiyah. Bukan hanya karena panas matahari akan sangat menyengat, tapi fenomena alam itu juga sinyal ancaman gagal panen (puso). Ujung-ujungnya adalah kerugian bagi petani.

Daftar isi:

Indonesia bisa mengalami musim kemarau yang berkepanjangan dan musim hujan yang sangat ekstrem karena fenomena alam bernama El Nino. Foto: Shutterstock

Ruskiyah sudah membayangkan, ia setidaknya harus mengeluarkan modal lebih banyak walau hasil panennya bakal tak seberapa. Minimal ia harus membeli selang plastik yang harganya mencapai Rp 6–7 juta untuk pompanisasi seperti pengalamannya pada 2015 dan 2023.

Itu baru selang plastik, belum pestisida dan pupuk yang belakangan harganya melambung karena perang di Timur Tengah. Penggunaan pestisida dan pupuk saat musim tanam kemarau pun pasti lebih banyak, sebab kemarau bukan hanya membuat kering, tapi juga mengundang hama. Artinya, pengeluaran petani menjadi berkali lipat.

Saat El Nino menghantam Indonesia pada 2015 dan 2023, Ruskiyah mengalami gagal panen. Ia merugi. Modal yang ia keluarkan untuk menggarap sawah bak menguap ditelan panas. Nahasnya, modal hasil berutang yang mencapai Rp 29 juta per hektare ditanggung sendiri.

“Setiap ada El Nino-El Nino, ya petani sendiri yang bekerja. Modalnya [dari] petani sendiri,” ujar Ruskiyah di kediamannya yang terletak di pinggir sawah di Blok Darim, Desa Puntang, Indramayu.

Ruskiyah, petani Desa Puntang, Indramayu, saat ditemui oleh kumparan pada Jumat (17/4/2026). Foto: Amrizal Papua/kumparan

Meski El Nino selalu menghadirkan mimpi buruk bagi Ruskiyah, ia harus tetap “berjudi” menyiapkan modal untuk musim tanam kedua. Ruskiyah tak punya pilihan, sebab sawah adalah penghidupannya.

“Kalau nggak nanam, mau kerja apa?” kata dia.

Petani lain di Indramayu, Tarsono, punya kecemasan serupa. Ia sebetulnya tak begitu paham seberapa ekstrem ancaman El Nino di tahun ini. Namun dari kesehariannya di sawah, ia yakin kemarau panjang yang lebih kering dan panas akan melanda Indonesia, termasuk kampungnya di Desa Nunuk, Indramayu.

Berdasarkan informasi di ponselnya melalui teknologi Automatic Weather Station (AWS), suhu di daerahnya tercatat 32°C pada Jumat (17/4). Pada hari-hari sebelumnya, suhu bahkan mencapai 36–37°C.

Melihat tanda-tanda tersebut, Tarsono mulai bersiap diri agar tak gagal panen. Ia belajar dari pengalaman El Nino sebelumnya.

Tarsono, petani di Desa Nunuk, Lelea, Indramayu, Jawa Barat. Foto: Amrizal Papua/kumparan

“Kami tetap waspada dengan kondisi El Nino. Khawatirnya, ketika El Nino datang, kondisi tanaman padi belum keluar dan akhirnya gagal panen,” kata Tarsono yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (P2TPI).

Tarsono menggerakkan petani di daerahnya agar memulai musim tanam lebih cepat. Biasanya, musim tanam kedua baru dimulai September–Oktober, sebab dalam kondisi cuaca normal, bulan-bulan tersebut umumnya sudah mulai masuk musim penghujan.

Namun, kali ini Tarsono berencana memajukan musim tanam kedua sesaat setelah panen musim pertama rampung sekitar April–Mei 2026, mumpung tanah masih basah dan air berlimpah.

“Ketika sudah panen, kita harus cepat-cepat olah tanah lagi,” ujar Tarsono.

Tak hanya mengejar masa tanam, Tarsono juga merekomendasikan kepada para petani untuk menggunakan bibit padi varietas genjah (jangka pendek) dengan masa panen sekitar 100 hari.

“Mengejar supaya ketika tidak ada curah hujan atau tidak ada air, itu masih bisa panen,” ucap Tarsono.

Petani memanen padi menggunakan mesin potong padi modern di areal persawahan Indrapuri, Aceh Besar, Aceh. Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Benarkah El Nino “Godzilla” di Depan Mata?

Ancaman El Nino Godzilla bukan berasal dari perhitungan yang asal-asalan. Potensi anomali cuaca tersebut berdasarkan hasil analisa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ahli klimatologi BRIN Prof Erma Yulihastin menyatakan, fenomena El Nino Super atau Godzilla akan melanda Indonesia mulai Mei hingga September 2026.

El Nino Godzilla akan membuat kemarau lebih panjang, kering, dan panas. Erma menjelaskan, kesimpulan bahwa Indonesia bakal dihantam El Nino Godzilla didasarkan pada tiga pemodelan global yang dirilis European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) asal Inggris, Bureau of Meteorology (BOM) Australia, dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) dari Jepang.

Ketiga lembaga itu, kata Erma, menunjukkan adanya potensi El Nino Super, ditandai dengan kenaikan suhu permukaan air laut di atas 2°C di Samudra Pasifik pada luasan yang besar. Dalam kondisi normal, kenaikan suhu muka air laut di Samudra Pasifik hanya sekitar 0,5°C.

Pemanasan permukaan laut tersebut menjadi anomali karena menyebabkan akumulasi awan dan curah hujan yang hanya terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik. Artinya daerah-daerah di Pasifik akan mengalami banyak hujan, sedangkan wilayah yang jauh dari Pasifik seperti Indonesia justru mengalami sebaliknya.

“Tiga model global itu semuanya dari luasan area yang besar, kemudian intensitas yang di atas 2 [derajat] itu sama-sama menunjukkan Super El Nino akan terjadi di tahun ini. Jadi itu dasarnya,” jelas Erma kepada kumparan, Kamis (16/4).

Ilustrasi kekeringan dimusim kemarau. Foto: Shutter Stock

Kendati tiga lembaga itu menyimpulkan adanya potensi El Nino Super, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA)—bagian dari NASA yang menjadi salah satu acuan prakiraan iklim—belum memberikan kesimpulan yang bulat.

NOAA baru mencatat ada potensi El Nino kuat, di bawah ekstrem, dengan peluang kemunculan mencapai 62% pada Juni–Agustus. Walau demikian, Erma menyebut hasil prakiraan NOAA beberapa waktu terakhir memiliki tendensi yang mengarah pada potensi terjadinya El Nino Super atau Godzilla.

“Tidak ada satu pun model yang tidak mengatakan El Nino tidak akan terjadi atau netral sampai akhir tahun. Enggak ada. Atau misalnya [menyimpulkan] jadi lemah intensitasnya. Justru malah makin kuat. NOAA saja [memprediksi] makin kuat. Jadi tendensi terjadinya El Nino itu peluangnya menjadi semakin besar, dimulai dari Mei,” papar Erma.

Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

El Nino level Godzilla sebenarnya tak ada dalam kamus prakiraan iklim. Selama ini level El Nino yang dikenal hanya lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat. Adapun level super berada di atas sangat kuat. Tetapi BRIN tidak menggunakan istilah super, dan memilih menyebutnya “Godzilla”.

Erma menyatakan, penggunaan istilah “Godzilla” sudah familier dipakai di Amerika Serikat untuk menggambarkan seberapa besar dampak El Nino level super. Oleh sebab itu ia juga menggunakan istilah tersebut di Indonesia agar masyarakat tak menganggap enteng potensi El Nino tahun ini.

“Itu namanya science communication. Kalau tidak menggunakan bahasa yang mengejutkan, orang [menganggapnya] biasa-biasa aja… [Istilah ini] agar orang langsung tahu bahwa dampaknya besar. Supaya enggak cuma aware di masyarakat, tapi juga pemerintah yang paling penting,” kata Erma.

Ahli Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin. Foto: Dok. Pribadi

Erma menjelaskan, fenomena El Nino Godzilla tahun ini bisa makin parah dengan potensi munculnya anomali iklim lainnya yakni Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dimulai Juli. IOD positif membuat suhu permukaan laut di barat Samudra Hindia (pesisir Afrika) lebih hangat daripada di timur (Indonesia). Akibatnya kemarau di Indonesia bisa makin kering.

BRIN pun menganalisa efek munculnya El Nino Godzilla dan IOD positif secara bersamaan bagi Indonesia. Hasilnya cuaca yang panas dan kering bakal terjadi mulai Mei sampai September. Lalu pada Juni bakal ada hujan sedikit. IOD positif kemudian mulai terbentuk di Juni-Juli dan akan memperpanjang kemarau.

“Jadi puncak-puncaknya [kemarau] di Juli-Agustus. Intinya kita harus siap menghadapi paceklik,” tegas Erma.

Dari hasil analisa BRIN, daerah-daerah yang berpotensi terdampak parah El Nino Godzilla dan IOD positif berada di bagian Tenggara Indonesia. Daerah-daerah tersebut seperti Jawa Timur, Bali, hingga NTT-NTB. Di bagian Tenggara Indonesia itu, diprediksi tak ada hujan selama sekitar 120 hari dari Mei sampai September.

“Hari-hari kering tanpa hujan kalau ditotal dari Mei sampai September itu ada sekitar 120 [hari], rata-ratanya,” ucap Erma.

“Dan yang paling parah, yang benar-benar berturut-turut enggak ada hujan 48 hari mulai Juli sampai Agustus misalnya di Bali,” imbuhnya.

Hamparan persawahan di Blok Darim, Puntang, Indramayu, Jawa Barat. Foto: Amrizal Papua/kumparan

Erma menambahkan, daerah pantai utara (Pantura) Jawa juga diprediksi bakal mengalami kekeringan, terkecuali di bagian barat seperti Banten. Walau demikian, curah hujan di Jawa bagian barat, termasuk Indramayu, tak seperti biasanya.

“Curah hujannya kemungkinan hanya sekitar 50 mm/bulan atau kurang dari 50 mm. Kalaupun mengalami hujan per 10 hari,” kata Erma.

Ia pun mewanti-wanti masyarakat umum untuk menjaga kesehatan dari gelombang panas maupun penyakit seperti ISPA saat kemarau melanda. Sebab tidak ada hujan yang bisa menyapu polutan di udara.

Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia tertekan setiap El Nino muncul, terutama di bagian selatan khatulistiwa: Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Maluku, Papua, sebagian Sulawesi, dan sebagian Kalimantan.

Meski fenomena El Nino bersifat global, Ardhasena menegaskan dampak terhadapnya mesti disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Sebagai contoh pada El Nino 2015 yang berlangsung hingga Maret 2016, dampak di Indonesia selesai pada akhir Oktober 2015.

Begitu juga pada cakupan wilayah provinsi yang terdampak. Menurut Ardhasena, wilayah seperti Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Aceh akan baik-baik saja karena sistem iklimnya yang memiliki dua musim kemarau dan dua musim hujan.

Meski demikian, prakiraan El Nino tahun ini oleh BMKG tidak seekstrem BRIN. Ardhasena membenarkan adanya potensi El Nino pertengahan 2026. Tapi skalanya diprediksi masih lemah hingga moderat. Peluang menuju El Nino kuat memang bukan hal mustahil, sekitar 20%.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menunjukkan peta wilayah prediksi sifat musim kemarau terhadap normalnya saat konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Ardhasena menyatakan, kesimpulan prediksi El Nino kuat akan lebih akurat dilihat pada Mei, bukan pada Maret-April di mana belahan bumi utara masih musim semi.

Siklus El Nino bisa diprediksi tapi pemicu yang dapat mempengaruhi terjadinya dampak El Nino bisa berubah-ubah. Pemicu yang dimaksud adalah Westerly Wind Burst, fenomena di mana angin kuat yang mendorong laut panas dari Pasifik Barat ke Tengah dan Timur.

Angin kuat ini disebut yang memicu terjadinya El Nino. Tapi pergerakannya sekarang dianggap belum signifikan. Tak seperti tahun 2015 yang sejak Maret sudah diprediksi kemunculan El Nino.

“Saat ini memang lautnya sudah matang [memanas], tapi mekanisme pembangkitannya itu fenomena skala dua mingguan. Saat ini belakangan belum begitu banyak terjadi gitu [Westerly Wind Burst],” ucap Ardhasena dari Jenewa, Jumat (17/4).

“Fenomena cuacanya [pemicunya] yang mendukung pembentukan El Nino-nya tuh tidak bisa diprediksi terjadi jauh-jauh hari,” tambahnya.

Namun, BMKG mengingatkan El Nino di semester kedua (mulai Juni) 2026 kemungkinan akan membuat kemarau seolah semakin panjang. Sehingga masyarakat dan pemangku kepentingan mesti mewaspadai dan bersiap-siap.

“Jadi dampak signifikannya ke kita (El Nino)–kalau terjadi ya–sekitar bulan Juli, Agustus, September,” kata Ardhasena.

Mantan Kepala BMKG yang juga Guru Besar Geologi UGM Prof Dwikorita Karnawati di UGM, Kamis (4/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Adapun Guru Besar Geologi Lingkungan dan Kebencanaan UGM yang juga mantan Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati, mengatakan prediksi BMKG sejak 2019 selalu akurat. Sehingga ia meminta masyarakat tidak terlalu panik dengan kabar El Nino ‘Godzilla’.

“Tidak perlu panik, tapi tetap perlu siaga,” ucapnya.

Sementara itu pakar meteorologi Prof. Edvin Aldrian menilai BRIN terlalu bombastis dalam mempublikasikan kesimpulan prediksi El Nino. Padahal, kata dia, sekarang sudah masuk akhir April namun masih hujan setiap sore.

“Jangan menakutkan gitulah,” ucap Edvin.

Ancaman Puso

Lepas dari perdebatan level El Nino, yang pasti bila El Nino melanda, maka yang paling terdampak adalah sektor pertanian. Waduk bisa mengering. Debit air sungai untuk irigasi juga bakal menyusut. Ancaman gagal panen atau puso pun menanti.

“Kalau pertanian empat bulan enggak hujan sama sekali itu gimana? Kalau sawahnya irigasi it's okay, tapi ada sawah-sawah tadah hujan. Bahkan kalau bicara waduk, itu reduksinya akan luar biasa. [El Nino] 2023 kami melakukan survei di beberapa waduk di Jawa Timur itu hampir 70% enggak ada airnya,” jelas Erma.

Bayang-bayang puso tentu berbahaya bagi stok pangan nasional, khususnya beras. Produksi beras berpotensi turun. Berkaca pengalaman El Nino pada 2023, produksi beras turun menjadi sekitar 31,10 juta ton dari tahun 2022 yang mencapai 31,54 juta ton. Turun sekitar 440 ribu ton atau 1,39%.

embed from external kumparan

Produksi beras pada 2023 yang turun signifikan kala itu memaksa pemerintah mengimpor beras sekitar 3 juta ton lebih. Padahal, EL Nino pada 2023 itu baru berada di level moderat, tak sampai ekstrem sebagaimana diprediksi terjadi tahun ini.

El Nino 2023 mulai berkembang dari Mei-Juni 2023. Puncaknya terjadi rentang Agustus hingga November 2023, dan berlanjut hingga April 2024. Dampak El Nino berkepanjangan itu kembali mempengaruhi penurunan produksi beras tahun 2024 menjadi hanya 30,62 juta ton. Ada penurunan 480 ribu ton atau 1,54% dibanding 2023. Akibatnya, pemerintah lagi-lagi harus impor beras sebesar 4,52 juta ton.

embed from external kumparan

Impor tersebut untuk menutupi kekurangan konsumsi beras nasional yang mencapai sekitar 31 juta ton per tahun. Masuk tahun 2025, tak ada fenomena El Nino. Alhasil produksi beras melonjak menjadi 34,69 juta ton, naik 4,07 juta ton atau 13,29% dibanding 2024. Ini yang kemudian disebut pemerintah sebagai swasembada beras.

Ruskiyah dan Tarsono salah dua petani yang menjadi korban El Nino 2023. Panen keduanya turun 30-40%. Biasanya mereka bisa panen 7-8 ton per hektare, tapi saat El Nino 2023, hasilnya menyusut hingga 3 ton per hektare.

Bahkan, Ruskiyah yang mengelola sekitar 3 hektare sawah, gagal panen total pada musim tanam kedua di tahun 2023. Yang tersisa hanya utang. Sebab ia sudah keluar modal besar sejak awal tanam, tapi di tengah-tengah dihantam kekeringan.

“Enggak ada yang panen sama sekali. Saya jeblok [rugi] waktu itu hampir Rp 45 juta,” kata Ruskiyah mengenang.

Padahal, waktu itu ia sudah mengupayakan membeli sekitar 1 km lebih selang plastik untuk pompanisasi. Namun hasilnya nihil. Ternyata saat kekeringan bukan hanya air yang sulit, tapi hama tanaman yang membeludak.

“El Nino bukannya enggak ada hujan, terus nggak ada air, bukan. Tapi penyakitnya juga mungkin agak keras,” ucapnya.

Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor Prof. Dwi Andreas Santosa di ICBB Bogor, Rabu (4/12). Foto: Muhammad Fadli Rizal/kumparan

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Dwi Andreas Santosa, memastikan El Nino bakal mempengaruhi produksi pangan pokok, khususnya beras. Namun ia meyakini stok beras tahun ini masih aman, meski diprediksi terjadi kenaikan harga. Kementan menegaskan stok beras sejauh ini mencapai 4,9 juta ton.

“[Tapi] produksi padi saya pastikan turun tahun ini dan akan berlanjut di tahun 2027,” kata Andreas kepada kumparan, Kamis (16/4).

Dwi Andreas menilai, ancaman defisit beras karena turunnya produksi baru akan terasa tahun depan. Sehingga ia meminta pemerintah untuk bersiap, sebab impor juga akan sulit. Indonesia paling banyak mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Tapi di saat yang sama, kedua negara itu juga akan mengalami kekeringan.

Andreas menyinggung El Nino kuat pada 1997-1998 yang dianggap jadi salah satu penyebab tumbangnya Orde Baru. Saat itu sebenarnya pangan dunia tak sampai terganggu, tapi di dalam negeri terjadi krisis pangan sehingga terpaksa mengimpor beras terbesar sepanjang sejarah, mencapai 6,4 juta ton. Krisis itu kemudian memantik kekacauan.

“Menurut saya kejatuhan pemerintahan Soeharto pada 1998 itu karena krisis pangan. Bukan karena krisis moneter,” kata Andreas.

Ilustrasi beras. Foto: Ditjen Tanaman & Pangan.

Antisipasi Dampak Buruk

BRIN menyatakan hantaman ganda El Nino Godzilla dan IOD positif bakal memukul daerah yang rentan kekeringan. Berdasarkan Indeks Risiko Kekeringan (Drought Risk Index) yang dilakukan BRIN, daerah paling rentan saat ada kekeringan yakni Daerah Istimewa Yogyakarta dan selatan Jawa Barat. Sehingga perlu skenario khusus seperti metode pompanisasi atau membuat polder-polder air.

“Supaya nanti kalau ada daerah yang paling rentan ini kita masih bisa menyalurkan dari daerah terdekat yang ada stok airnya,” kata Erma.

Sementara itu Dwikorita berpendapat, berkaca pada pengalaman El Nino 2023, strategi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) harus dilakukan sedari dini. Mumpung masih ada awan-awan hujan.

Ketika itu, Dwikorita melakukan TMC dari Januari. Ia mengarahkan awan hujan untuk mengisi waduk-waduk, termasuk di daerah gambut untuk mengatasi kebakaran hutan.

“Di Gunung Kidul yang biasanya kekeringan. Air sungai masih mengalir itu sebagian alirannya itu dibendung, disimpan untuk persediaan di musim kemarau panjang,” kenang Dwikorita.

Ilustrasi kekeringan. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Dalam sektor pertanian, Dwi Andreas menyebut mitigasi dampak El Nino dapat dimulai dari perbaikan embung, bendungan, dan irigasi hingga ke saluran cacing. Termasuk menjaga agar air yang berada di jaringan irigasi tidak bocor ke pemanfaatan selain pertanian.

Sedangkan BMKG menyebut sektor yang paling terdampak ialah sumber daya air yang berdampak pada pertanian, energi, dan kehutanan. Sektor-sektor tersebut, menurut Ardhasena, perlu dimitigasi dengan menyimpan air selagi hujan masih mengguyur.

“Perlu melakukan pengelolaan tinggi muka air yang lebih baik di waduk-waduk yang berfungsi sebagai PLTA. Di kehutanan, lakukan pembasahan gambut. Di pertanian, kita perlu sesuaikan kalender tanam dan menanam varietas yang lebih tahan kering dan panas,” kata Ardhasena yang juga Ketua Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia itu.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kemarau panjang. Ia menggelontorkan Rp 3-4 triliun untuk bantuan pompanisasi dan irigasi.

"Kita berikan pompa (kepada petani) secara cuma-cuma," kata Amran kepada wartawan usai menghadiri rapat bersama Komisi IV DPR pada Selasa (9/4).

Amran juga mengoptimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan, pembangunan embung, sumur dangkal, sumur dalam, serta pemanfaatan pompa perpipaan dan irigasi perpompaan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, usai pertemuan dengan 170 bupati se-Indonesia, di kantornya, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

Upaya lain adalah strategi percepatan tanam menggunakan varietas tahan kekeringan dan pola tanam adaptif. Strategi ini, lanjut Amran, akan disertai dengan bantuan alat dan mesin pertanian yang disalurkan secara bertahap.

Sepanjang 2024-2025, kata Amran, pihaknya telah menyediakan sebanyak 171.000 unit alat dan mesin pertanian untuk memperkuat kesiapan petani menghadapi musim kemarau. Tahun ini, Kementan menargetkan distribusi 37.000 unit infrastruktur air. Meliputi irigasi perpompaan, perpipaan, konservasi, rehabilitasi jaringan tersier, serta tambahan 94.000 unit pompa air untuk mendukung produksi.

Optimasi lahan juga dioptimalkan. Kata Amran, ada sekitar 800 ribu hektare rawa dengan irigasinya yang siap dimanfaatkan. “Jadi persiapan kita jauh lebih baik," tuturnya.

El Nino memang akan mempengaruhi sektor pertanian. Tapi di sisi lain ada sektor yang berpotensi tumbuh. Seperti perikanan tangkap dan produksi garam. Periode El Nino menjadi waktunya para nelayan, khususnya di selatan Jawa, panen raya. Hal ini karena ada fenomena upwelling atau fenomena naiknya massa air laut dalam yang kaya nutrisi ke permukaan. Sehingga ikan-ikan akan lebih banyak berada di dekat permukaan laut.

“Produksi garam juga bisa dimanfaatkan untuk swasembada. Jadi meskipun pertanian akan terpukul, tetapi masih ada harapan dari garam dan perikanan tangkap,” kata Erma.

Ilustrasi dampak El Nino. Foto: kumparan/Basith Alif