Gapai Kebebasan Finansial Lewat Gaya Hidup Frugal
·waktu baca 9 menit

Frugal bukan pelit, tapi cermat mengatur pengeluaran sesuai perencanaan keuangan. Ini kisah mereka yang bebas finansial dengan frugal living.
***
Tahun 2011, saat usianya baru menginjak 22 tahun, Samuel Ray memulai langkah pertamanya di dunia kerja. Kala itu, menjadi sosok yang cermat secara finansial sama sekali tidak ada dalam bayangannya.
Layaknya anak muda di awal usia dua puluhan, Samuel tak ragu menghamburkan gaji demi gaya hidup. Segala barang yang disuka langsung dibeli. Ia juga menjajal berbagai makanan mahal tanpa pikir panjang.
“Banyak juga pengeluaran yang sia-sia sebenarnya yang keluar di usia awal 20-an,” kenang Samuel saat berbincang dengan kumparan.
Gaya hidup impulsif itu baru menemui titik pengereman ketika ia bersiap melangkah ke jenjang pernikahan. Sebuah ultimatum tegas dari kedua orang tuanya menjadi tamparan keras yang menyadarkan Samuel.
“Papa mama tanggung jawabnya hanya sampai kamu sekolah. Sekarang kamu udah kerja, kamu mau nikah, kamu pikirkan sendiri mau tinggal di mana,” ujar Samuel menirukan ucapan orang tuanya kala itu.
Dari situlah ia mulai melek bahwa uang bukan sekadar untuk digunakan, tapi juga mesti dikelola. Perjalanan finansial Samuel semakin terarah setelah ia menikah dengan seorang perempuan yang sangat melek keuangan.
Sang istri, Claudya, sudah terbiasa bekerja memberi les sejak SMA demi membantu perekonomian keluarganya yang sulit. Ketika Samuel mulai mencatat anggaran keuangan keluarganya pada 2019, istrinya sudah lebih dulu melakukannya, jauh sebelum mereka menikah.
Dari pencatatan itu, pola belanja dari tahun ke tahun terlihat sehingga pengeluaran mereka dapat diukur dan jadi patokan untuk tahun berikutnya.
“Mata saya mulai terbuka bahwa uang itu penting. Kalau tidak dikelola dengan baik untuk kebutuhan yang penting, akan merepotkan saya sendiri,” kata pria kelahiran 1989 itu.
Pada 2020, saat pandemi COVID-19 melanda, terjadi perubahan besar pada hidup Samuel. Ketika itu ia tengah memegang posisi manajer menengah bidang sumber daya manusia di sebuah bank. Tekanan pekerjaan yang berat mencekiknya setiap hari sehingga batinnya tersiksa.
Di tengah rutinitas korporat yang tanpa henti, Samuel merasa stres dan kehilangan kebahagiaan. Pikirannya terus berkecamuk mencari jalan keluar: Bagaimana caranya bisa segera lepas dari jerat pekerjaan yang terus menyita kewarasan dan waktu berharganya?
Bebas Finansial dengan Gerakan FIRE
Di tengah keputusasaan itu, sebuah video di internet memperkenalkan Samuel pada gerakan FIRE (Financial Independence Retire Early) alias bebas finansial dan pensiun dini.
Salah satu konsep FIRE berhasil meyakinkan Samuel untuk mengubah pola pikirnya, yakni menabung untuk menikmati kebebasan. Ia tak lagi berpikir bahwa menabung mencuri kenikmatan hidup di masa muda.
“[Dalam FIRE] kamu tidak sedang menabung, tapi mencicil kebebasan kamu,” tutur Samuel membagikan filosofinya.
Sejak itulah ia dan istrinya menarget untuk mengumpulkan angka FIRE di usia 35 tahun. Namun, target FIRE mereka justru tercapai lebih dini, yakni pada usia 33 tahun—lebih cepat dua tahun dari rencana awal.
Kini, Samuel telah menanggalkan karier kantorannya dan memilih profesi utama sebagai bapak rumah tangga. Porsi hidupnya berbalik drastis: 80% waktunya didedikasikan untuk mengurus anak, sementara urusan pekerjaan hanya 20%.
Samuel dan istrinya beralih dari kerja kantoran menjadi kreator konten yang membagikan pengalaman finansial mereka di media sosial, sambil sesekali menerima sponsorship dan menjadi narasumber gelar wicara.
Lantas, bagaimana Samuel menghitung kebutuhan pensiun dininya?
Konsep FIRE bertumpu pada formula Safe Withdrawal Rate atau angka penarikan aman sebesar 4% dari total tabungan.
Formula 4% ini bersumber dari Trinity Study yang dipopulerkan ekonom William Bengen. Riset ini menelusuri sejarah pasar saham Amerika Serikat, dan menguji ketahanan portofolio bahkan saat krisis Great Depression melanda pada 1929–1939.
Asumsinya sederhana: jika investasi bertumbuh sekitar 7% per tahun, Anda bisa menarik 4% untuk biaya hidup. Sementara sisa imbal hasilnya akan terus menggulung di pasar saham untuk melawan laju inflasi.
Begini simulasinya: Jika pengeluaran hidup tahunan keluarga kita mencapai Rp 400 juta, maka angka target FIRE yang harus dicapai adalah Rp 10 miliar.
Angka Rp 10 miliar itu berasal dari angka pengeluaran tahunan dikali 100/4 agar akumulasi uang itu menghasilkan setidaknya 4% per tahun jika diinvestasikan.
Tanpa mengumpulkan “gunung uang” sebesar itu, mustahil seseorang bisa pensiun dini dengan aman.
Yang menarik, ujar Samuel, tujuan FIRE bukan semata pada jumlah uang yang dapat dikumpulkan, tapi juga seberapa frugal atau cermat seseorang bisa hidup.
Angka FIRE bisa lebih besar atau lebih kecil tergantung dari pengeluaran bulanan atau tahunan yang sudah ditetapkan bersama pasangan. Misalnya, kita akan hidup di Solo dengan pengeluaran Rp 15 juta sebulan atau Rp 180 juta setahun, maka angka FIRE-nya ialah 180 dikali 100/4 = Rp 4,5 miliar.
Komitmen hidup frugal demi meraih kebebasan finansial ini sudah tentu memiliki konsekuensi besar, misalnya mengharuskan seseorang untuk mengunci hasrat upgrade gaya hidup tersier. Itu sebabnya mobil yang dikendarai Samuel masih sama seperti yang dulu. Ia pun tak berniat membesarkan ukuran rumah.
Samuel mengontrol pengeluarannya secara presisi menggunakan tabel. Baginya, Excel adalah sahabat karib yang harus ia tengok sebelum memutuskan membeli apa pun atau bepergian ke mana pun.
Bahkan, keputusan untuk menambah anak atau tidak tak luput dari kalkulasi. Samuel secara sadar memilih hanya memiliki satu anak, sebab bertambahnya anggota keluarga berarti membengkaknya pengeluaran secara permanen yang bisa mengancam perhitungan FIRE-nya.
“Mindset FIRE ini enggak bisa kita jalani dengan pola pikir hidup mengalir; bisa bubar semua. Kalau kita siap FIRE, berarti siap berhitung, disiplin, dan punya keteguhan,” tegas Samuel.
Frugal Bukan Berarti Pelit
Banyak yang salah kaprah menyamakan gaya hidup frugal dengan hidup pelit atau serba menyiksa diri. Padahal, menurut Samuel, frugal living sejatinya adalah hidup cermat.
“Hidup cermat ini bukan berarti selalu membeli barang yang paling murah atau menunda-nunda membeli barang sampai tidak wajar,” kata Samuel. Namun, ia sangat menghindari gaya hidup impulsif dan belanja serba-dadakan.
Samuel menyeimbangkan gaya hidup frugal dengan tetap menjaga kualitas hidup keluarganya. Misalnya, ia memastikan kebutuhan gizi terpenuhi dengan mengganti daging mahal ke protein terjangkau seperti ikan.
Dengan cara itu, ia tetap bisa makan enak dan kulineran, bahkan menganggarkan pendidikan anak berbiaya premium.
Samuel juga tidak kaku. Sesekali ia memenuhi keinginan tersiernya, seperti membeli kaset game PlayStation yang sudah lama ia nanti. Namun, pengeluaran itu harus lebih dulu didiskusikan dengan istri dan dimasukkan ke dalam bujet.
Kuncinya ada pada komunikasi dengan pasangan untuk menentukan “batas bawah hidup layak” karena batas yang dimiliki tiap orang berbeda-beda.
Samuel mengingatkan agar tidak membandingkan diri dengan orang lain, termasuk dengan tidak membawa standar TikTok atau Instagram ke kehidupan keluarga.
Untuk menentukan batas hidup layak, ujar Samuel, bisa berangkat dari latar belakang keluarga dan agama, sebab semua agama tidak mengajarkan foya-foya dan mendorong umatnya untuk hidup sederhana seraya bisa bermanfaat untuk orang lain.
Pandangan Samuel sejalan dengan perencana keuangan SHila Financial, Ila Abdulrahman. Menurutnya, frugal living sebenarnya tidak sebegitu mengerikan seperti anggapan orang.
Ila mendefinisikan frugal living sebagai upaya memprioritaskan kebutuhan hidup. Setelah kebutuhan utama dipenuhi, barulah seseorang boleh melirik dan merencanakan keinginannya yang bersifat sekunder.
Ia mencontohkan pilihan antara membeli pakaian dalam yang sudah rusak atau ikut buka puasa bersama di hotel seharga Rp 299 ribu. Orang yang frugal tentu akan mendahulukan kebutuhan sandangnya ketimbang sekadar kumpul-kumpul.
Apakah hal itu berbeda dengan pelit?
Ila menjelaskan, pelit cenderung ekstrem, menyiksa diri, dan memiliki unsur zalim. Perilaku pelit sering kali dipicu oleh sindrom FOMO (Fear of Missing Out) alias takut ketinggalan tren di media sosial.
“Misalnya, makan sehari sekali demi [mengirit uang] untuk beli iPhone,” kata Ila.
Agar hidup frugal terasa realistis dan nyaman, Ila menyarankan masyarakat untuk rajin memetakan kondisi keuangannya. Langkah esensialnya adalah disiplin melakukan budgeting atau penganggaran.
Bagi pekerja dengan pendapatan stabil dan tanpa utang, rumus 50-30-20 bisa diterapkan. Rinciannya: 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan.
Namun, bagi keluarga yang berada dalam mode bertahan hidup (survival mode) atau memiliki cicilan, rumusnya bergeser menjadi 40-30-20-10. Artinya 40% kebutuhan, 30% cicilan utang, 20% investasi, dan 10% keperluan sosial/donasi.
Yang perlu diingat memiliki dana darurat sebagai penyangga adalah harga mati. Angkanya bervariasi, mulai dari 3 bulan pengeluaran untuk lajang, hingga 12 bulan pengeluaran untuk yang sudah berkeluarga dengan anak lebih dari satu.
Sebagian dana darurat tersebut idealnya disimpan dalam bentuk uang tunai (cash on hand) atau di rekening yang sangat mudah diakses.
Fondasi utama agar tidak minder menjalani hidup frugal adalah memiliki tujuan keuangan sendiri.
“Dengan punya tujuan hidup, dia akan ‘bodo amat’ dengan [pandangan orang] sekitarnya,” ujar Ila.
Hidup Frugal Bersama Keluarga
Sikap memprioritaskan tujuan keuangan keluarga tanpa peduli omongan orang sudah dipraktikkan Sarah, seorang karyawan swasta di Jakarta. Bersama sang suami, ia sepakat mengetatkan pengeluaran rumah tangga demi masa depan.
Salah satu siasat terbesarnya adalah menekan biaya tradisi tahunan. Ia memutuskan absen mudik ke kampung halaman suami di Jawa selama dua tahun berturut-turut pada 2025 dan 2026 .
Jika tahun-tahun sebelumnya ia selalu menghabiskan 100% Tunjangan Hari Raya (THR) untuk Lebaran, kini ia memangkasnya drastis.
“[Tahun ini] kayaknya aku cuma ngeluarin 25% [THR],” kata Sarah.
Penghematan itu ia lakukan dengan memangkas jatah parsel atau hampers untuk kerabat. Ia juga membatasi pembagian uang THR hanya untuk anak-anak kecil di keluarganya.
Gaya hidup cermat Sarah tak hanya di momen Lebaran. Sejak awal menikah, ia rutin bangun lebih pagi untuk memasak dan membawa bekal ke kantornya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
Untuk urusan mobilitas harian dari rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur, ke kantor, ia tetap setia menggunakan motor pribadi. Baginya, itu jauh lebih hemat dan efisien dibanding kendaraan umum yang mengharuskannya transit tiga kali.
Tak hanya berhemat, Sarah juga mulai membangun ketahanan pangan skala rumah tangga. Berbekal tutorial dari YouTube, pekarangan rumahnya kini disulap menjadi kebun mini.
“Jadi kalau suatu saat nanti BBM mandek [karena imbas perang di Timteng] dan enggak lancar distribusinya di pasarnya, kami udah punya stok [pangan] sendiri di pekarangan rumah,” terang Sarah.
Ia belajar menanam aneka kebutuhan dapur seperti kangkung, cabai, jeruk nipis, hingga sereh. Hasil kebun ini sangat membantu untuk menekan pengeluaran biaya bahan pokok sehari-hari.
Praktik cermat yang dimulai dari lingkup terkecil ini mendapat sorotan dari sosiolog UGM Derajad Sulistyo. Menurutnya, transisi menuju gaya hidup frugal memang tidak mudah bagi masyarakat perkotaan, sebab di kota-kota besarlah kekuatan konsumsi dan gengsi masyarakat sering kali diuji.
“Mereka yang dianggap berhasil adalah mereka yang tinggal di perkotaan dan yang mengonsumsi barang-barang perkotaan,” ujar Derajad.
Oleh karena itu, menurutnya, untuk mengerem perilaku konsumtif, mutlak harus dimulai dari rumah tangga. Jika imbauan hanya datang dari pemerintah, dampaknya sering kali tidak mempan.
Namun, jika kesadaran itu dibangun dari diskusi keluarga seperti yang dilakukan Samuel dan Sarah, penerapannya akan jauh lebih sistematis dan masuk akal. Ketahanan rumah tangga inilah yang pada akhirnya menjadi benteng terakhir menghadapi ketidakpastian di masa depan.

