Jadi Jutawan Dadakan: Cerita Turis Malaysia Kalap Belanja di Jakarta dan Bandung
·waktu baca 7 menit

Tiba di Jakarta, koper Baayah (22) mulanya penuh sesak. Mahasiswi Universiti Teknologi MARA (UiTM), Selangor, Malaysia, itu sengaja membawa aneka camilan tradisional dari negerinya, seperti dodol dan sagun, untuk dibagikan saat ia melakoni kunjungan ke kawasan adat Baduy dan Universitas Indonesia (UI). Usai buah tangannya ludes dibagikan, separuh ruang di kopernya melompong.
Namun, sisa ruang kosong itu agaknya memang sudah ditakdirkan untuk tak bertahan lama. Saat menjejakkan kaki di pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta Pusat, pertahanan Baayah seketika runtuh melihat deretan pakaian muslim dan kain.
"Untuk bapak saya, saya beli (sarung) merek Gajah Duduk, lima puluh ribu aja. Beli abaya untuk kakak saya, kalau di Malaysia itu 100 ringgit, di sini saya convert tadi dalam 30 ringgit atau 150 ribu," cerita Baayah dengan mata berbinar. Setel mukena seharga Rp 100 ribu dan dua outerwear batik murah pun tak luput dari buruannya.
Hanya bermodalkan uang tak sampai Rp 1 juta, koper Baayah yang semula longgar kembali terisi penuh sesak. “Eh penuh lagi tu. Tapi nggak apa-apa ya, ada 20 kilo (batas bawaan bagasi pesawat), nggak apa-apa ya,” selorohnya.
Hal serupa terjadi pada Anis Shamimie (27), staf Politeknik dan Kolej Komuniti (POLYCC) asal Johor. Jika Baayah menyisakan ruang, perempuan yang akrab disapa Mimie ini justru siap berekspansi. Ia datang ke Bandung hanya menenteng satu koper kosong, namun sudah memproyeksikan akan pulang membawa dua hingga tiga koper tambahan.
Semuanya gara-gara kunjungannya ke Pasar Baru Trade Center di Bandung. "Pasar Baru, ini saya rasa kalau untuk wanita ini macam surgalah. Semua tempat semua toko saya rasa mau beli," kelakarnya.
Daya pikat utamanya ada pada deretan gaun berenda (full lace) yang desainnya sulit ia temukan di Malaysia. Lebih gila lagi, harganya sangat miring saat dikonversikan ke mata uang negaranya. Di Pasar Baru, gaun berenda penuh itu bisa ia tebus di bawah 100 ringgit per potong; harga yang menurutnya bisa menyentuh dua kali lipat jika dibeli di Malaysia.
Saat ditanya berapa total potong pakaian yang sudah ia borong hari itu, Mimie mengaku sudah memborong 10 hingga 14 potong dari tiga-empat toko yang ia kunjungi
"Ini kalau kita berbelanja, kita tak boleh kira, nanti kita rasa menyesal. Kita happy saja, tak usah dipikir-pikir," jawabnya santai.
Surga Belanja, Kuliner, dan Sensasi Jutawan Dadakan
Euforia yang dirasakan Baayah dan Mimie juga dirasakan oleh Muhammad Al-Ameen. Lima hari berada di Indonesia, pria tersebut mengaku merasa seperti orang kaya di Indonesia.
Pria itu mengaku terkejut dan untung besar saat menukarkan uang di Indonesia. Menukarkan 500 ringgit, ia mengantongi uang tunai lebih dari Rp 2 juta.
"Jadi merasa, 'Ush, kaya di sini!', tapi sekejap beli-beli habis," kenang Ameen saat ditemui di destinasi wisata ritel By The Sea Pantai Indah Kapuk, Rabu (20/5).
Dengan uang sebanyak itu, ia mencontohkan sebotol parfum dan kemeja batik yang ia beli masing-masing seharga Rp 159 ribu, jika dikonversi hanya sekitar 35 ringgit. Padahal, parfum dengan kualitas serupa di Malaysia harganya bisa menyentuh 60 hingga 100 ringgit.
Secara kalkulasi kasar, Ameen merasa barang-barang tersebut 80 persen lebih murah dibandingkan di negaranya.
Dompet yang tebal usai menukar mata uang ini rupanya tak hanya lari ke urusan sandang, tetapi juga merambat deras ke wisata kuliner. Keterjangkauan harga membuat Ameen leluasa menjelajah deretan kedai kopi; dalam satu hari ia bahkan sanggup menenggak hingga enam gelas kopi dari berbagai kafe.
Kenikmatan serupa dirasakan Mimie di ranah kuliner. Di sela memborong gaun di Bandung, ia memberikan nilai sempurna, 10/10, untuk semangkuk Bakso Cap Haji. Porsi melimpah dan harganya yang masuk akal membuatnya sangat puas.
Tak ketinggalan, Baayah pun turut menikmati jajanan lokal yang murah meriah, seperti asyik menyantap batagor dan gorengan saat ia berkunjung ke kawasan adat Baduy.
Bagi Jannah, wisatawan yang sudah sepuluh tahun rutin bolak-balik berlibur ke Jakarta dan Bandung, label "surga belanja" ini makin komplet karena tak melulu soal ritel murah dan makanan jalanan.
Jannah lazim menyiapkan anggaran khusus 1.000 hingga 2.000 ringgit (sekitar Rp 3,4–6,8 juta) untuk setiap kunjungan santai selama 4-5 hari. Namun, godaan di lapangan kerap membuatnya keluar dari budget akibat kalap.
Menariknya, buruan utama Jannah cukup unik. Selain kuliner legendaris seperti bakso dan Bubur di Bawah Pohon Rindang, ia adalah seorang pemburu buku. Jannah kerap memborong buku sastra Indonesia dan buku terjemahan tokoh dunia—seperti Mahatma Gandhi—di toko buku Gramedia, yang menurutnya sangat sulit dijumpai dalam terjemahan bahasa Melayu di negaranya. Saking banyaknya borongan, koper Jannah sering kali lebih berat oleh tumpukan buku ketimbang pakaian.
Selain itu, ia sangat gemar berburu parfum jenama lokal seperti Alchemist di Grand Indonesia, memborong parfum isi ulang beraroma jenama mewah di Bandung, hingga berburu kain pasang untuk baju kurung di lorong-lorong Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.
Keperkasaan ringgit atas rupiah juga membuat barang mewah global terasa lebih ramah kantong. Jannah membandingkan harga sebuah tas lansiran Louis Vuitton (LV) di butik Jakarta dengan di negaranya.
"Bila Kak Jannah lihat handbag itu harganya kalau di Malaysia 6.000 RM. Kak Jannah convert ke Indonesia udahlah murah, kalau di airport kan bisa free tax. Kalau di Malaysia tas LV itu 6.000 RM, di Indonesia hanya sekitar 4.000 RM. Banyak bedanya," beber Jannah yang juga sangat betah di Indonesia karena keramahan warganya yang gemar menyapa.
Berkah Ekonomi untuk UMKM
Geliat kalap belanja pakaian hingga kulineran ini menurut Guru Besar Pariwisata Universitas Trisakti, Prof. Azril Azahari, membuat wisatawan Malaysia menjadikan Indonesia murni sebagai surga belanja alias tujuan shopping tourism. Destinasi alam, tambahnya, acap kali hanyalah menu pelengkap bagi mereka.
“Utamanya adalah shopping. Untuk mereka itu berwisata hiburan itu agak kalah dengan shopping-nya," papar Prof. Azril.
Di Jakarta, daya belinya tak kalah fantastis. Prof. Azril mengamati bahwa turis Malaysia tidak sekadar membeli satu atau dua potong baju, melainkan berlusin-lusin untuk dibawa pulang ke kampung halamannya.
"Mereka datang tuh kosong, pulang beli koper. Semuanya belanjaannya tuh masuk koper, dua koper besar-besar. Mereka belanja bukannya satu buah dua buah, berlusin-lusin mereka untuk keluarganya," ungkapnya menyoroti kebiasaan berbelanja di Tanah Abang dan Thamrin City.
Meski nilai tukar rupiah kerap jadi alasan pelancong Malaysia merasa kaya saat bepergian ke Indonesia, Kementerian Pariwisata menilai hal itu bukan satu-satunya faktor utama yang menarik wisatawan.
“Kondisi kurs yang relatif menguntungkan memang dapat meningkatkan persepsi value for money, namun wisatawan saat ini juga semakin mempertimbangkan aspek pengalaman, kualitas layanan, keamanan, serta keunikan destinasi,” kata Ni Made Ayu Marthini, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar.
Yang jelas, “banjir ringgit” ini menjadi berkah bagi roda perekonomian lokal. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, menggarisbawahi bahwa perputaran uang justru didorong untuk menyasar sektor akar rumput, yakni Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Iendra menuturkan, perilaku turis Malaysia saat ini telah bergeser dan semakin variatif. Jika dulu—terutama di era masih dibukanya penerbangan internasional langsung ke Bandara Husein Sastranegara—mereka datang ke Bandung mayoritas murni untuk wisata perdagangan tekstil di Pasar Baru, kini polanya meluas ke perburuan pengalaman wisata, ruang perkotaan, dan cendera mata.
Pengalaman baru ini ditopang oleh ragam pariwisata yang kini dikelompokkan oleh Disparbud Jabar menjadi tiga, yakni wisata alam, wisata buatan, dan wisata budaya. Khusus untuk wisata buatan, Iendra menyoroti daya pikat kuliner lokal serta lanskap bangunan heritage peninggalan Belanda, seperti kawasan Jalan Braga, yang kini amat digandrungi.
Di titik perburuan kuliner dan pengalaman estetik inilah produk-produk UMKM ludes dibeli oleh turis Malaysia sebagai buah tangan.
“Dampak ekonominya yang pertama terhadap perhotelan. Kedua, terhadap restoran. Ketiga terhadap UMKM: karena orang Malaysia kayak kita lah, lebih suka membeli suvenir gitu ya. Jadi terhadap UMKM itu yang kita dorong,” tutup Iendra.

