Jejak Ojak, Menginspirasi Anak Muda Lewat Seni Pertunjukan

kumparanPLUSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Fathur Rizki alias Ojak (kanan). Foto: Djarum Foundation
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Fathur Rizki alias Ojak (kanan). Foto: Djarum Foundation

Sejak usia lima tahun, Muhammad Fathur “Ojak” Rizki sudah akrab dengan dunia panggung. Membaca puisi, marawis, hadrah, tari tradisi, akting, hosting, hingga menyanyi—semua ia pelajari satu per satu.

Dalam berkesenian, pemuda kelahiran 1997 ini tak pernah melepaskan identitasnya budayanya sebagai orang Betawi. Ojak justru membawanya kemanapun ia berkesenian, lengkap dengan kepiawaiannya membawakan tari tradisional serta lagu dangdut dan melayu.

Keterlibatannya yang terus-menerus dalam dunia teater, musikal, dan film lambat laun menumbuhkan ketertarikan yang lebih serius: mendalami keterampilan yang dibutuhkan dalam teater musikal modern.

Ini bukan tantangan kecil. Disiplin ilmu teater musikal modern banyak berkiblat ke Barat, sementara Ojak lebih terbiasa dengan pertunjukan tradisi khas Indonesia dan belum terlalu terampil berbahasa Inggris. Namun alih-alih menjadi penghalang, perbedaan itu justru ia lihat sebagai ruang untuk memperkaya diri sebagai seniman.

Ojak berlatih di Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya di London. Foto: Djarum Foundation

Niat belajar itulah yang membawa Ojak bergabung dengan pelatihan Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya pada 2024–program besutan Bakti Budaya Djarum Foundation dalam menumbuhkan talenta seni Tanah Air.

Dari sekian banyak peserta, Ojak terpilih menjadi salah satu yang terbaik, dan kesempatan besar pun datang: ia diterbangkan ke West End, London, untuk belajar langsung dari para produser dan pemain teater musikal kelas dunia melalui workshop singkat bersama West End Stage.

Keterbatasan bahasa tidak menyurutkan langkahnya. Ojak berhasil mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan baik, bahkan mendapatkan pujian dari para pengajarnya.

Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya sendiri merupakan program pelatihan musikal intensif gratis yang digagas Indonesia Kaya—inisiatif Bakti Budaya Djarum Foundation—dengan mengintegrasikan tiga disiplin utama seni panggung: akting, musik, dan tari, dipandu kurikulum yang memadukan teknik berstandar internasional dengan muatan Nusantara.

Para peserta RK IMB saat menjalani latihan singkat di London pada 2025. Foto: Djarum Foundation

Program ini bukan hal baru; sejak pertama digelar pada 2019, tercatat sekitar 672 peminat mendaftar dan hanya 70 orang yang lolos seleksi ketat, sebelum kembali digelar secara hybrid pada 2021–2022 untuk 100 peserta terbatas.

Dari rahim program itulah, sejumlah talenta panggung Indonesia mendapat kesempatan untuk unjuk kemampuan. Di antaranya Ojak yang sampai jauh berkelana mencari pengalaman ke panggung West End, London, salah satu kiblat teater musikal dunia.

“Orang Betawi nyampe London, kata gue,” canda Ojak ketika berangkat menuju London untuk pelatihan intensif pada 2025.

Ojak dan rekan-rekan dalam kelulusan program RKIMB. Foto: Djarum Foundation

Peran-Peran yang Membekas

Jauh sebelum ke London pun, Ojak sudah mulai membangun jam terbangnya di panggung musikal Ibu Kota. Salah satunya lewat Teater Musikal Cek Toko Sebelah (adaptasi panggung dari film karya Ernest Prakasa) yang dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada Desember 2022.

Ojak turut tampil memukau sebagai Agus, tokoh utama dalam Drama Komedi Reuni Nestapa: Cita-cita Dibalas Realita (2023) garapan Jakarta Movin. Ia juga menghidupkan karakter Bang Opik dalam Musikal Joshua Oh Joshua (2024), serta Bang Wendy dalam Musikal Dangdut Kukejar Kau Sayang (2024) produksi Aulion.

Sepulang dari London, ia membawa pengalaman dan semangat baru yang menyemarakkan teater musikal Tanah Air.

Ojak saat beradu peran dalam teater musikal. Foto: Djarum Foundation

Bersama Djarum Foundation, Ojak turut menjadi bagian dari Musikal Perahu Kertas—adaptasi dari novel karya Dee Lestari yang dipentaskan 30 Januari hingga 15 Februari 2026 dengan total 21 kali pertunjukan dan melibatkan 38 pemeran. Pertunjukan ini bahkan dibuka langsung oleh Dee Lestari, yang menyanyikan lagu "Perahu Kertas" versinya sendiri di atas panggung.

Dalam produksi tersebut, Ojak memerankan karakter Eko berpasangan dengan Putri Indam Kamila sebagai Noni. Sutradara kenamaan Riri Riza bahkan menyoroti banyak momen adu karakter antara Eko dan Noni yang membuatnya “kecanduan”.

Pada Juni 2026, Ojak juga tampil di Galeri Indonesia Kaya berkolaborasi dengan Sinar Norray, kelompok kesenian Betawi asuhan mendiang Mpok Nori, dalam pertunjukan Pengantin Keder—sebuah pertemuan indah antara tradisi yang ia junjung dan panggung modern yang ia taklukkan.

Kini, di luar panggung teater, Ojak juga aktif menjadi host untuk konten video media sosial Indonesia Kaya dengan persona Bang IK, memperluas jangkauannya dalam memperkenalkan seni dan budaya kepada lebih banyak orang.

Ojak memerankan karakter Eko dalam Musikal Perahu Kertas. Foto: Djarum Foundation

Kisah Ojak adalah potret nyata bagaimana seorang seniman muda dapat tumbuh dari akar budayanya sendiri, mendapatkan ruang untuk berkembang lewat program pembinaan seperti yang digagas Djarum Foundation, dan pada akhirnya kembali memberi—lewat karya, lewat panggung, dan lewat semangat yang ia tularkan pada generasi berikutnya.

Dari Betawi ke West End, dari panggung tradisi ke musikal modern, Ojak membuktikan satu hal: ketika seni dirawat dengan sungguh-sungguh, ia akan terus menemukan panggungnya sendiri.