Kisah Alya Menembus Dapur Internasional dari SMK di Jawa Tengah
·waktu baca 4 menit

Di sebuah hotel bintang lima di Amman, Yordania, seorang perempuan muda asal Blora, Jawa Tengah, tengah sibuk mengoordinir jalannya operasional dapur hingga melakukan pengecekan kualitas bahan. Dari 19 orang dalam timnya, ia satu-satunya perempuan.
Namanya I'zaaz Alyaa Ramadhana, akrab disapa Alya, dan jabatannya Chef de Partie di restoran La Capitale, Four Seasons Hotel Amman. Di dapur profesional–yang secara historis acap diisi oleh laki-laki–Chef de Partie merupakan posisi mid level yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dan operasional pada salah satu station di dapur.
Perjalanannya menuju dapur kuliner Timur Tengah tentu tak mudah. Di balik kesuksesannya, mimpinya menjadi Chef profesional terbentang jauh sejak anak pertama dari tiga bersaudara ini tumbuh di lingkungan keluarga sederhana.
Orang tuanya memiliki warung makan di rumah. Di situlah Alya dibesarkan, berkenalan, dan akhirnya kepincut dengan dunia kuliner.
Berbekal kecintaan dan mimpinya itu, Alya melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 1 Kudus yang bermitra dengan Djarum Foundation mengambil program studi Tata Boga.
Menurut Alya, enaknya sekolah tata boga adalah bisa langsung praktik—termasuk kesempatan bekerja bersama chef-chef profesional dari mancanegara semasa magang 6 bulan di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Karena dedikasi dan etos kerjanya selama magang itulah ia pun dipercaya melanjutkan berkarier di dapur hotel tersebut.
Baginya, SMK adalah langkah awal untuk mengasah keterampilan sekaligus membuka jalan menuju dunia kerja. Bukan hanya hard skill memasak yang ia pelajari, tetapi juga soft skill yang menurutnya masih sangat berguna hingga kini di dunia kerja.
Setelah menjajaki tiga tahun pengalaman di Hotel Kempinski, ia pindah ke sebuah hotel berbintang lima di Batam. Namun kerikil rintangan menerpa ketika pandemi COVID-19 datang, dan Alya terkena PHK.
Orang tuanya memintanya pulang ke kampung halaman di Blora, tapi Alya menolak—ia sudah terbiasa tidak ingin membebani orang tua. Seraya hidup mandiri, ia pun berusaha mengerek kariernya kembali sambil terus melamar kerja.
Menembus Dapur Timur Tengah
Titik baliknya datang ketika ia nekat berangkat ke Dubai dengan modal hanya sekitar Rp 1 juta untuk memulai semangat baru. Dari sanalah kariernya kembali bergerak, hingga pada 2022 seorang chef yang pernah bekerja dengannya menawarinya posisi di La Capitale, Four Seasons Hotel Amman, Yordania.
Pengalaman wawancara kerjanya di Yordania terasa sangat berbeda dari di Indonesia.
"Enggak ditanya ijazah apa. Mereka fokus sama pengalaman dan kemampuan kita," kenang Alya dalam YouTube Srikandi Vokasi.
Untuk sampai pada posisi Chef de Partie, Alya harus bersaing dengan kandidat lain yang mayoritas adalah laki-laki. Meski berat, Alya pun membuktikan kemampuannya. Ia dipercaya memimpin tim yang seluruh anggotanya adalah laki-laki.
“Jadi di kitchen itu nanti ada kebagi 4 section, yang mana ada hot section, grill section, cold section, and show kitchen. Aku sekarang ada di grill section, tapi dengan kata lain dengan waktu yang sama aku harus megang the whole kitchen–aku yang nyediain,” katanya dalam video yang dikirimnya setelah bekerja pada hari pertama di Amman.
Sejak lulus SMK di Kudus, ia baru 5 tahun berkarier dan posisinya itu ia capai pada usia 24 tahun. Di usia yang sama, lulusan perguruan tinggi kerap baru menapaki awal tangga karier.
Kisahnya menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa lulusan SMK memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat dunia.
Pesannya untuk generasi muda yang tengah menjalani masa magang atau pelatihan sederhana namun tegas: "Ambil ilmu sebanyak-banyaknya di tempat training, dan posisikan dirimu sebagai staff. Punya mindset bahwa kamu bakal bertanggung jawab dan bekerja secara profesional.”
Tidak ada jalan pintas untuk bertumbuh. Bertumbuh adalah soal proses–dan perjalanan Alya bermula dari mimpi, bersekolah di Kudus, hingga menembus dapur hotel bintang lima di Yordania, adalah pengingat bahwa proses itu indah ketika dirawat bersama.
Begitulah cara Alya, dan begitu pula caranya jutaan anak lain di Indonesia dapat tumbuh bersama.

