Mencegah Campak: Kenali Gejala Dini dan Imunisasi Tepat Waktu
·waktu baca 8 menit

Awal tahun 2026 terasa tenang bagi Fitri (30). Tidak ada berita besar soal wabah, tidak ada peringatan bahaya kesehatan di media. Rasa aman semu ini akhirnya membuat Fitri menunda jadwal imunisasi campak anak keduanya.
Jadwal imunisasi campak putranya yang seharusnya diberikan pada usia 18 bulan pun terus tertunda. Bukan karena Fitri antivaksin, tapi karena ada saja alasan yang membuatnya mengulur waktu—mulai dari kondisi anak batuk pilek, waktu tugas bidan yang terbatas hingga rencana liburan keluarga.
“Terus akhirnya molor-molor di 22 bulan. Terus dari bidannya emang ada juga yang nggak ada waktunya gitu kata aku di bidannya kalau vaksin. Entah telat atau apa, pas aku mau vaksin jadi molor-molor gitu,” kata Fitri kepada kumparan, Kamis (12/3).
Berdasarkan standar Kemenkes, imunisasi campak penting diberikan untuk melindungi anak dari virus measles yang sangat menular. Vaksin pertama diberikan saat usia 9 bulan melalui suntikan MR atau MMR di puskesmas atau posyandu. Kekebalan tubuh kemudian diperkuat melalui dosis lanjutan pada usia 15–18 bulan dan booster pada usia 5–7 tahun.
Sebelum sakit terkena campak, keseharian anak Fitri berjalan seperti biasa. Ia masih aktif bermain dan sesekali diajak keluar rumah oleh Fitri untuk mengisi waktu luang. Tidak ada tanda-tanda yang membuat Fitri merasa khawatir dengan kondisi putranya.
Pada Jumat, 13 Februari, Fitri kedatangan seorang teman ke rumahnya di Beji, Depok. Temannya datang bersama anak-anaknya. Salah satu dari mereka saat itu sedang kurang sehat. Namun, anak-anak tetap bermain bersama di kamar, berbaur layaknya teman sepermainan.
Empat hari kemudian, Fitri membawa putranya bermain ke playground di sebuah mal di kawasan Tanjung Barat pada 17 Februari untuk mengisi waktu libur Imlek. Di sana ia mulai melihat sesuatu yang tidak biasa.
Bibir anaknya tampak terluka dan sempat mengeluarkan sedikit darah. Di dalam mulutnya juga muncul sariawan.
Fitri mengira itu hanya sariawan pada umumnya. Namun sepulang dari playground, perilaku anaknya mulai berubah. Anak laki-laki yang saat itu berusia 23 bulan itu menjadi lebih manja.
“Kayak udah ngasih firasat kayak nggak enak badannya gitu,” cerita Fitri.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Minggu pagi, 22 Februari, demam mulai muncul. Suhu tubuh anaknya naik turun di kisaran 38 hingga 39 derajat celcius. Nafsu makan juga mulai menurun.
Awalnya Fitri mengira kondisi itu hanya karena sedang tumbuh gigi. Namun setelah tiga hari tak kunjung membaik, ia membawa anaknya ke klinik. Dokter sempat mendiagnosis tifus dan menyarankan perawatan jalan di rumah.
“Tapi kok ini dia makin lama makin nggak mau makan, nggak mau makan sama sekali. Makan beratnya sudah mulai sedikit banget, cuma satu suap juga dilepeh. Nah aku bawa lagi dah tuh, udah tiga kali ke dokter klinik,” kata Fitri.
Selama rawat jalan, Fitri mengatakan sariawan di mulut anaknya semakin parah, dengan bintik-bintik putih terlihat di bagian dalam mulut dan lidah. Khawatir dengan kondisi tersebut, Fitri akhirnya meminta rujukan ke instalasi gawat darurat (IGD) RS GPI pada 27 Februari.
Di rumah sakit itulah dokter menemukan tanda lain. Bintik-bintik merah sudah muncul di wajah dan mulai menyebar ke tubuh. Fitri mengatakan gejala ruam baru muncul setelah hari kelima sejak anaknya merasa tidak enak badan.
Bukan Ruam Biasa
Seluruh gejala yang dialami anak Fitri rupanya adalah penyakit campak. Dokter menyatakan hal itu usai melakukan pemeriksaan di IGD. Anak Fitri pun harus menjalani perawatan di ruang isolasi selama 27 Februari hingga 2 Maret.
Fitri mengatakan selama terkena campak, pilek yang dialami anaknya terasa lebih berat dibandingkan ketika biasanya ia terserang batuk pilek.
“Pileknya tuh kayak lendirnya lebih banyak banget, kalau aku gulung-gulung gitu ya pakai tisu itu lebih banyak banget juga,” katanya.
Selama menjalani perawatan di ruang isolasi itu, Fitri juga melihat anak lain dengan kondisi yang lebih yang lebih berat. Seorang bayi berusia 10 bulan yang berada dalam satu ruang isolasi diketahui belum vaksin campak pertama pada usia 9 bulan.
Dari yang ia lihat, kondisi bayi itu cukup mengkhawatirkan. Matanya memerah, napasnya tampak sesak, dan batuknya juga lebih sering. “Terus sebelum dia masuk ke Rumah Sakit GPI emang seminggu sebelumnya tuh dia udah masuk rumah sakit juga dirawat inap karena paru-paru, flek paru-paru,” tutur Fitri.
Kasus serupa juga dialami Clovey, bayi berusia 7 bulan yang terinfeksi campak. Pada usia tersebut, Clovey belum masuk jadwal imunisasi campak sehingga belum memiliki perlindungan imun dari vaksin.
Bila menduga anaknya terpapar campak dari aktivitas di luar rumah. “Kalau diingat-ingat lagi sih seminggu sebelumnya emang aku pas banget lagi ke babyshop sih sama ke mall. Jadi kemungkinan besar ketularannya dari luar sih. Apalagi waktu itu babyshopnya tuh bener-bener lagi rame banget,” tutur Bila.
Gejala yang dialami Clovey serupa dengan yang dialami anak Fitri. Semuanya bermula dari demam yang muncul setelah Bila pulang dari supermarket pada awal Maret. Saat itu ia hanya merasa tubuh Clovey sedikit hangat sehingga memasangkan plester penurun panas. Namun hingga keesokan harinya suhu tubuh bayinya tak kunjung turun.
Bila pun membawa Clovey ke dokter. Setelah diberi obat, demamnya sempat mereda, tetapi kemudian kembali naik turun selama tiga hari berikutnya.
Ketika kembali memeriksakan Clovey, dokter mulai menemukan tanda lain berupa ruam tipis di bagian jidat. Ruam tersebut masih samar sehingga Bila sempat mengira hanya reaksi kulit biasa. Meski demikian, dokter sudah mewanti-wanti kemungkinan campak.
Selain ruam awal tersebut, dari pemeriksaan juga terdengar bunyi “grok-grok” di paru-paru Clovey. Tak lama setelah pulang dari pemeriksaan, ruam benar-benar muncul dan menyebar cepat. Awalnya terlihat di leher, lalu menjalar ke pipi, jidat, wajah, hingga ke tangan dan kaki.
Memasuki hari kelima, ruam merah tampak semakin jelas di hampir seluruh tubuh. Kondisi Clovey juga mulai melemah karena demam yang tak kunjung stabil. Bila akhirnya membawa bayinya ke instalasi gawat darurat. Dari pemeriksaan rontgen, dokter menemukan adanya lendir di paru-paru Clovey.
Campak pada bayi sekecil Clovey memicu bronchopneumonia—komplikasi di mana lendir mulai memenuhi paru-paru. Setelah dirawat inap selama 4 hari, ruam sudah hilang dan Clovey sudah kembali ceria
Kenali Gejala Sejak Dini
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), campak merupakan penyakit virus yang sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius pada anak jika tidak ditangani sejak dini. Gejala awal biasanya muncul sekitar 7–14 hari setelah terpapar virus.
Pada tahap awal, anak biasanya mengalami demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair—gejala yang kerap menyerupai flu biasa.
Beberapa hari setelah gejala awal muncul, tanda khas campak mulai terlihat. Bintik putih kecil yang dikenal sebagai Koplik spots dapat muncul di dalam mulut, kemudian diikuti ruam kemerahan pada kulit. Ruam ini biasanya dimulai dari wajah atau garis rambut, lalu menyebar ke leher, badan, hingga lengan dan kaki.
WHO mengingatkan gejala campak sering kali disalahartikan sebagai infeksi saluran pernapasan biasa pada tahap awal. Oleh karenanya, orang tua perlu waspada jika anak demam tinggi disertai batuk, pilek, dan mata merah tidak kunjung membaik, terutama jika kemudian muncul ruam yang menyebar di tubuh anak.
“Vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah tertular penyakit campak atau menyebarkannya kepada orang lain. Vaksin ini aman dan membantu tubuh Anda melawan virus tersebut,” kata WHO dalam situs resminya.
Di Indonesia, pemerintah berupaya memperkuat cakupan imunisasi campak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan dalam 1–2 minggu sebelum Idul Fitri 1447 H, cakupan imunisasi campak dapat mencapai 95 persen.
Target tersebut dikejar karena pada masa mudik mobilitas masyarakat meningkat secara masif sehingga berisiko memperluas penyebaran penyakit. Budi menyebut satu orang yang terinfeksi campak berpotensi menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya.
Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad mengatakan target cakupan imunisasi yang tinggi diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan kondisi itu, virus akan sulit menular karena sebagian besar orang sudah memiliki kekebalan.
“Jadi herd immunity ibarat kata kalau ada orang sakit dan dia pada fase penularannya, selama fase penularannya itu orang tersebut kesulitan mencari orang yang bisa ditulari karena orang-orang yang ditemui kebal. Ada yang tidak kebal, tapi sulit karena sebagian besar itu kebal. Sehingga kemudian transmisinya bisa berhenti,” kata Riris.
Ia menambahkan target 95 persen dipakai dalam program Universal Coverage Immunization (UCI) karena pada tingkat tersebut sebagian besar penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sudah dapat mencapai herd immunity.
Kemenkes mencatat jumlah kasus campak baru di Indonesia mulai menurun. Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, pada pekan kesembilan 2026 jumlah kasus campak tercatat 231 kasus, turun dari pekan sebelumnya yang mencapai 511 kasus baru.
Secara kumulatif hingga pekan kesembilan 2026, tercatat terdapat 10.829 kasus suspek dan 8.716 kasus campak. Berdasarkan data Kemenkes, total terdapat 45 kejadian luar biasa atau KLB campak yang tersebar di 29 kabupaten atau kota di 11 provinsi.
Dari sisi orang tua, Fitri berpesan agar orangtua memperhatikan kebutuhan vaksin bagi anak. Menurutnya, vaksin di usia dini diperlukan untuk terhindar dari virus yang menular.
“Dari aku ya, jangan egois sama anak deh gitu. Kalau bisa kasih haknya untuk mereka buat divaksin gitu. Biar mereka terhindar bukan terhindar sih kayak biar nggak terlalu pas kena tuh nggak terlalu yang parah gitu,” kata Fitri.

