Kumparan Logo
Abdi dalem perempuan Keraton Yogyakarta
Valentina Endah Winarni Siwibudi (Nyi Mas Penewu Adyawarni Guritno) abdi dalem perempuan Keraton Yogyakarta yang bertugas sebagai fotografer, Jumat (15/5/2026).

Menjaga Budaya Keraton Yogya: Kisah Abdi Dalem Estri Lintas Generasi

kumparanPLUSverified-green

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Siti Amirul (Nyi KRT. Noorsundari), abdi dalem yang bertugas di Kawedanan Radya Kartiyasa yang mengurusi parawisata dan museum Keraton. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Siti Amirul (Nyi KRT. Noorsundari), abdi dalem yang bertugas di Kawedanan Radya Kartiyasa yang mengurusi parawisata dan museum Keraton. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Januari 2004. Siti Amirul Nur Sundari melangkah masuk ke Keraton Yogyakarta untuk pertama kalinya. Bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai tenaga baru. Perempuan muda itu ditarik masuk karena kemampuan yang ia miliki: fasih berbicara bahasa Belanda—keahlian yang dibutuhkan Keraton untuk melayani tamu-tamu asing sebagai edukator dan pemandu wisata.

Keputusan untuk masuk Keraton tak ia ambil dengan mudah. Ada beban yang sejak awal sudah ia pikul. Orang tuanya juga bekerja di Keraton, dan dalam budaya Jawa, nama keluarga adalah tanggung jawab bersama. Satu kesalahan yang ia buat bisa menyeret nama baik keluarga.

“Saya masuk tahun 2004, Keraton itu kesannya masih wingit kalau orang Jawa bilang. Jadi kayak tertutup, eksklusif, untouchable,” kenangnya saat bercerita pada kumparan di Keraton Yogyakarta, Kamis (14/5).

Lebih dari itu, ada kabar yang beredar di antara orang-orang sekitarnya: siapa pun yang masuk Keraton, tak akan bisa ke mana-mana lagi. Terperangkap. Terjebak. Mendengar rumor-rumor itu, ia pun sempat ragu.

Namun di tengah keraguan itu, ia memilih tetap mengikuti kata hatinya dengan keyakinan: “Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Siti pun menjadi abdi dalem dengan paring dalem (nama pemberian Keraton) Nyi KRT Noorsundari. Tak terasa, keyakinan sederhana itu telah menjadi kompas hidupnya selama dua dekade lebih di Keraton.

Kawasan wisata, museum, dan kantor kawedanan Keraton Yogyakarta. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Setelah 20 tahun, Nyi KRT Noorsundari menyandang pangkat Bupati Anom, menjabat sebagai Carik Kawedanan Radya Kartiyasa—setara sekretaris di Divisi Pariwisata Keraton. Sebelum sampai di posisi itu, ia sempat diberi tugas tambahan untuk membantu bagian museum Keraton sejak 2017, mengikuti berbagai workshop, bimbingan teknis, hingga forum diskusi bersama museum-museum lain di luar Keraton.

Abdi dalem Keraton bekerja seperti pegawai pada umumnya: datang pagi, menyelesaikan tugas-tugas, lalu pulang sore sekitar pukul 15.00 WIB ketika jam kunjungan wisata berakhir. Mereka berganti pakaian, melepas sanggul yang rapi sedari pagi, menenteng tas, dan pulang ke kediaman masing-masing.

Ruang kerja para abdi dalem di kawedanan pun tidak jauh berbeda dari kantor-kantor lain pada umumnya: ada meja dan kursi, komputer, tumpukan kertas dan dokumen, serta berbagai pernak-pernik kantor. Saat istirahat, para abdi dalem mengobrol satu sama lain, membawa tempat minum dari rumah, sesekali bermain ponsel.

Namun ada yang berbeda dan tidak pernah berubah. Begitu melangkah ke area Keraton, mereka harus melepas alas kaki. Noorsundari, misalnya, melepas sandal sebelum mengajak memasuki area dalam Keraton. Ia berjalan dengan kaki telanjang menyentuh lantai yang telah menampung jejak berabad-abad sejarah.

Tidak hanya itu, di dalam area Keraton, para abdi dalem tidak diperkenankan duduk di atas kursi, kecuali di dalam ruang kantor. Di luar ruang kantor, para abdi dalem duduk lesehan, sebuah tata krama yang berlaku tanpa pengecualian maupun keluhan.

Siti Amirul (Nyi KRT. Noorsundari) abdi dalem yang bertugas di Kawedanan Radya Kartiyasa, bagian yang mengurusi parawisata dan museum Keraton, Kamis (15/5/2026). Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Di Kawedanan Radya Kartiyasa, para abdi dalem dan calon abdi dalem di bagian pemandu wisata banyak yang menguasai bahasa asing. Hampir semua bahasa dunia bisa dilayani. Saat ini hanya dua bahasa yang belum terisi, Rusia dan Jepang, karena belum ada abi dalem yang mendaftar sekaligus mahir di kedua bahasa tersebut.

Noorsundari bercerita, dari semua momen yang ia lalui selama dua dekade mengabdi, ada satu yang paling membekas dan tidak pernah ia lupakan. Suatu hari dalam tugasnya, seorang anak berusia dua tahun memberikannya selembar coretan. Di sana ada gambar rumah dengan menara yang disebut palace oleh sang anak.

Ada pula gambar perempuan berbentuk bulatan sederhana di coretan itu, dan ada perempuan kecil yang mengulurkan bunga. "Ini aku ngasih bunga ke kamu di istana," kata sang anak. Di bagian bawah, dengan bantuan neneknya, tertulis: thank you.

"Itu buat saya... sampai sekarang masih tak simpan gambar itu," kata Noorsundari sekilas nostalgia dengan momen itu.

Momen-momen seperti itulah yang di antaranya membuat Noorsundari bertahan mengabdi dua dekade lebih.

"Jadi ternyata kalau kita ngomong tak kenal maka tak sayang. Setelah sayang jadi cinta, jatuh cinta. Setelah jatuh cinta jadi setia. Ternyata Keraton itu enggak hanya sekedar istana," ungkapnya.

Siti Amirul (Nyi KRT. Noorsundari) abdi dalem perempuan bernama andi dalem dan calon abdi dalem muda di Keraton Yogyakarta, Kamis (15/5/2026). Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Noorsundari menyadari, rasa cinta itu tidak boleh ia simpan sendiri. Salah satu yang paling ia khawatirkan justru kenyamanan yang bisa menghilangkan rasa pentingnya tradisi diwariskan kepada generasi abdi dalem muda. Padahal mewariskan budaya, baginya, bukanlah pilihan, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga agar tradisi Keraton Yogya tidak putus di tangannya.

Selain kepada abdi dalem muda, Noorsundari sudah meneruskan tradisi-tradisi itu kepada anak-anaknya sendiri hingga ibu-ibu PKK di lingkungan tempat tinggalnya.

Bahkan nilai-nilai Keraton kini sedang diupayakan masuk dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah Yogyakarta secara bertahap, sebuah gagasan yang baru-baru ini diresmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 4 Mei di SMAN 6 Yogyakarta. Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) itu ditargetkan berlaku di seluruh sekolah di DIY mulai tahun ajaran 2026-2027.

Dari tembok Keraton yang dulu terasa wingit, nilai-nilai tradisi itu kini mulai merambat keluar ke meja makan keluarga, ke obrolan ibu-ibu di RT hingga masuk ke ruang-ruang kelas.

Valentina Endah Winarni Siwibudi (Nyi Mas Penewu Adyawarni Guritno) abdi dalem perempuan sedang mengoperasikan komputer di kantornya, dalam Keraton Yogyakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Pengabdian Generasi Baru Abdi Estri

Enam belas tahun berselang setelah kisah Noorsundari, giliran Valentina Endah Winarni merasakan hal yang sama. Valentina tidak pernah bermimpi menjadi abdi dalem. Saat lulus dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan fotografi pada 2020, rencananya sederhana: menjadi fotografer profesional, mengambil proyek lepas, membangun portofolio dari nol.

Tapi kemudian sebuah tawaran yang tak pernah ia bayangkan datang dari seniornya. Keraton membutuhkan fotografer perempuan untuk mendokumentasikan kegiatan putri-putri Sultan, karena seluruh putri Ngarsa Dalem adalah perempuan.

"Di Keraton nih kayak bisa nggak ya?" pikirnya kala itu.

Tapi kemudian hati kecilnya memupuk keyakinan Valentina untuk menerima tawaran tersebut. Ia menerimanya.

"Kapan lagi gitu jadi fotografer cewek di dalam Keraton,” ucap Valentina pada kumparan di Keraton Yogyakarta, Jumat (15/5).

Dimulai sebagai fotografer freelance, lalu sekitar satu setengah tahun kemudian resmi ditawari untuk menjadi abdi dalem. Masa magang sekitar dua tahun ia jalani, dan pada akhir 2022, ia resmi diwisuda dan menyandang nama Nyi Mas Penewu Adyawarni Guritno.

instagram embed

Valentina bertugas di Kawedanan Tandha Yekti, divisi yang mengelola dokumentasi, media sosial, dan website resmi Keraton. Sejumlah foto yang bertebaran di Instagram, TikTok, dan situs Keraton sebagian besar lahir dari bidikan lensanya.

Seperti Noorsundari, Valentina juga datang dan pulang bekerja layaknya pegawai biasa. Pagi ia berangkat setelah mengantar anaknya sekolah, sore ia pulang ketika tugas selesai. Terkadang ia bisa pulang lebih malam jika ada event besar.

Pernah suatu kali ia baru pulang dari Keraton tengah malam. Di momen-momen seperti itu, suaminya, yang juga seorang fotografer dan bekerja di Humas Kepatihan, bergantian mengurus anak. Mereka saling mengisi dan menopang.

Pantauan kumparan, ruang kerja Valentina di kawedanan memiliki kekhasan tersendiri. Di atas meja terdapat komputer dengan lampu-lampu yang menerangi layar untuk proses edit foto. Namun Valentina tidak duduk di kursi yang tersedia. Ia mengedit dan memilah foto-foto hasil jepretan dengan duduk lesehan di lantai, mengikuti tata krama yang berlaku di area Keraton. Tapi baginya, hal itu bukan masalah.

Bagi Valentina, yang justru lebih menantang adalah teknik fotografinya. Selama kuliah, Valentina ditempa dengan konsep fotografi komersial. Sementara di Keraton, dunianya begitu berbeda. Ia harus memotret peristiwa seperti upacara adat, ritual, momen-momen seremonial yang datang dan pergi tanpa bisa diulang. Sebuah teknik fotografi yang terus ia pelajari.

Valentina Endah Winarni Siwibudi (Nyi Mas Penewu Adyawarni Guritno) abdi dalem perempuan Keraton Yogyakarta yang bertugas sebagai fotografer, Jumat (15/5/2026). Foto: Faiz Zulfikar/kumparan

Di samping itu, aturan-aturan yang berlaku di Keraton juga harus dipahami Valentina. Tidak semua sudut atau objek bisa dipotret. Begitupula tidak semua momen bisa diabadikan, ada momen-momen tertentu di keluarga Sultan HB X yang perlu dijaga dengan tata krama. Saat Sultan hadir, fotografer juga tidak boleh membelakangi beliau.

“Nggak sembarang orang bisa motret setiap lokasi di Keraton. Jadi mana yang boleh difoto dan mana yang nggak. Terus kalau di saat ada Ngarsa Dalem kita nggak boleh membelakangi,” cerita Valentina.

Tantangan lainnya ketika di awal menjadi fotografer di Keraton adalah persoalan pakaian. Sebagai fotografer, Valentina harus bergerak cepat mengejar momen. Sementara itu aturan Keraton mengharuskan abdi dalem perempuan tampil jangkep: bersanggul, berkebaya, dan berjarik. Namun seiring berjalannya waktu, tantangan tersebut bisa diatasi.

"Lama-lama kebiasaan aja, terus akhirnya enjoy. Ya udah kayak orang biasa motret, bedanya mereka [fotografer biasa] kasual, kami berjarik dan sanggulan," ujar Valentina

Di luar itu semua, yang paling disyukuri Valentina bukanlah soal teknik fotografi atau seragam, tapi lingkungan Keraton yang membawa perubahan positif pada dirinya secara mendasar.

"Saya sebelum jadi abdi dalem kayak di luar mungkin berinteraksi sama orang masih kurang baik. Setelah saya kerja di sini, saya lebih ramah, lebih sopan kalau sama orang lain di luar, jadi sering nyapa," ucapnya.

Abdi Dalem Keraton Yogyakarta bersiap membawa gunungan keluar dari keraton saat Grebeg Besar 1440 H di Keraton Yogyakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Valentina merupakan generasi baru abdi dalem perempuan yang memang sengaja dirancang internal Keraton. GKR Bendara, putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X, menyebut fenomena ini bukan kebetulan.

"Perempuan abdi dalem itu semakin banyak sekarang dikarenakan memang kali ini di era Ngarso Dalem ke-10 ini, putri-putri dalem memposisikan di departemen-departemen sehingga semakin terbukalah abdi dalem perempuan untuk mulai masuk," ujarnya saat acara ‘Gregah Nusa’ Yogyakarta Riyal Orchestra di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (16/5).

"Dan begitu juga dengan abdi dalem-abdi dalem dari generasi Z yang kami rasa perlu ada juga keterlibatannya karena mereka punya spesifik background yang kita butuhkan dalam organisasi Kraton yang sekarang,” timpalnya.

Di antara generasi muda yang dimaksud GKR Bendara salah satunya ada nama Cahya Simphoni Fabiola. Lahir di keluarga pemusik, Cahya menekuni flute sejak kecil dan kini menjadi Abdi Dalem Musikan dengan nama paring dalem Nyi Mas Jajar Rasmiwaditro.

instagram embed

Bergabung dengan YRO membawanya pada pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan: tampil sebagai solis perdana di Konser Warawaditra, menjadi pimpinan produksi berbagai konser Keraton, hingga menjadi bagian dari korps musik Prajurit Estri Langenkusuma.

Bagi Cahya, semua itu tidak terasa berat selama satu prinsip tetap dipegang. "Yang penting dilakukan dengan ikhlas," kata Cahya seperti ditulis di akun Instagram resmi Keraton Yogyakarta.

Keikhlasan. Sebuah kata yang dua dekade sebelumnya juga menjadi pegangan seorang perempuan muda yang awalnya ragu-ragu berdiri di depan pintu Keraton yang dianggapnya wingit. Hingga akhirnya memilih masuk dan bertahan hingga hingga kini.

Dari kisah KRT Noorsundari hingga Valentina dan Cahya, ada benang merah yang tidak putus: para abdi dalem estri lintas generasi terus berupaya menjaga warisan budaya Keraton Yogyakarta.