Kumparan Logo
Cover Berburu Kampus Asing
Cover Berburu Kampus Asing.

Ramai-Ramai Berburu Kampus Asing

kumparanPLUSverified-green

·waktu baca 13 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
SMAN Unggulan MH Thamrin. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
SMAN Unggulan MH Thamrin. Foto: kumparan

Joshua Arya Pandhita masih ingat betul momen dua tahun lalu saat ia masuk ke gedung bundar sekolahnya dalam acara Open House. Joshua yang kala itu masih calon siswa terpaku menatap Hall of Fame yang memajang deretan alumni sukses SMAN Unggulan MH Thamrin (SMANU MHT).

Mereka yang dipampang di Hall of Fame merupakan murid-murid yang pernah meraih medali Olimpiade Sains Nasional (OSN) maupun lomba internasional lainnya.

“Dan mereka (alumni-alumni) juga dapat universitas-universitas [luar negeri] kayak di Oxford (Inggris), Stanford (Amerika Serikat),” kata Joshua kepada kumparan di Jakarta, Kamis (23/4).

Momen itu merupakan pertama kali Joshua termotivasi untuk menempuh studi sarjana (S-1) di luar negeri. Apalagi Joshua kemudian lolos sebagai siswa SMANU MHT, sekolah yang dikenal punya sistem seleksi amat ketat dan kompetitif.

Joshua pun mengincar Delft University of Technology di Belanda sebagai kampus tujuan. Ia berniat mengambil jurusan Computer Science.

Daftar isi

Joshua Arya Pandhita, Siswa SMANU MHT. Foto: kumparan video

“Mereka (para alumni) semua jadi inspirasi buat aku. Ibaratnya, karena aku di sekolah yang sama dengan mereka… [kalau] mereka bisa, aku juga bisa,” kata Joshua yang kini duduk di kelas 11.

Teman satu angkatan Joshua, Dasha Oriana, juga mendapat inspirasi serupa. Saat masih duduk di bangku SMP, Dasha berselancar di dunia maya untuk mencari SMA-SMA terbaik. Hasil pencariannya tertuju ke SMANU MHT. Ia lalu menggali info tentang kisah para alumninya yang ternyata bisa menembus Oxford. Sejak itu, Dasha punya keinginan kuat untuk kuliah di luar negeri.

“Aku mikir kayak ‘Oh, beneran achievable… Karena selama ini, aku kira buat ke luar negeri itu aksesnya sedikit… Ternyata ada harapan kalau mau bermimpi [kuliah] di luar,” kata Dasha yang ingin melanjutkan studinya ke University of Edinburgh, Skotlandia.

Jika Joshua dan Dasha menemukan inspirasi dari para alumni, Athalia Arghiyanti dan Muhammad Rihad sudah memupuk mimpi serupa dari rumah sendiri. Keinginan Athalia—yang juga bersekolah di SMANU MHT—muncul sejak masih kelas 2 SD. Saat itu ia ikut ayahnya yang kuliah di Australia.

“I’m jealous of him,” ucapnya. Rasa iri itu menjadi motivasi, dan menguat ketika sang ayah memberinya buku tentang perempuan pertama yang menembus Universitas Harvard.

“Jadi aku kayak inspired dari situ,” kata Athalia yang menargetkan bisa lolos ke National University of Singapore (NUS).

Siswa SMAN 8 Jakarta, Muhammad Rihad. Foto: kumparan

Sementara bagi Rihad, siswa SMAN 8 Jakarta, kuliah di luar negeri merupakan upayanya mewujudkan harapan keluarga. Tumbuh di keluarga yang berkiprah di sektor pertambangan, ia termotivasi oleh mimpi ayahnya yang dulu sangat mendambakan bisa berkuliah di Colorado School of Mines, Amerika Serikat.

“Bapak saya dulu Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB. Mimpinya anak HMT itu [kuliah] S-2 di Colorado School of Mines,” ucap Rihad.

Ketika kesempatan datang, Rihad tak mau menunda hingga jenjang pascasarjana. Ia tancap gas sejak dini. Ia pun telah mengantongi beasiswa parsial dari universitasnya.

“Kedua orang tuaku sangat memprioritaskan pendidikan, dan mereka dulu relatif susah untuk mencapai level pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga once berkesempatan untuk [kuliah] setinggi-tingginya, ya kenapa nggak buat apply di luar negeri… kalau bisa mulai lebih cepat, mending dari S-1,” ujar Rihad yang bakal memulai kuliahnya Agustus 2026.

Sampus Sekolah Bisnis Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts, AS. Foto: Faith Ninivaggi/REUTERS

Kuliah S-1 ke Luar Negeri Makin Diminati

Dulu, tujuan utama para pelajar SMA, khususnya di kota-kota besar, adalah menembus seleksi perguruan tinggi negeri (PTN) papan atas seperti UI, ITB, hingga UGM. Namun kini, mimpi sebagian pelajar mulai berubah arah.

Jika generasi sebelumnya memandang kuliah di luar negeri sebagai opsi untuk jenjang magister atau doktoral, kini Gen Z justru melihatnya sebagai langkah awal yang realistis. Mereka menjadikan kampus-kampus dunia sebagai target tempat kuliah sejak S-1.

“Apalagi anak-anak zaman sekarang aksesnya sudah full digital semua basisnya online, sehingga informasi, kesempatan, pergaulan tidak hanya di level nasional, tapi sudah di level regional dan global,” kata Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji pada kumparan, Jumat (24/4).

Data Institut Statistik UNESCO (UIS) mengonfirmasi tren ini. Meski tidak memisahkan jenjang pendidikan secara spesifik, lembaga tersebut mencatat kenaikan jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di luar negeri secara konsisten sejak 2013.

Grafik peningkatan mahasiswa Indonesia kuliah di luar negeri. Foto: UIS Unesco

Pada 2013, mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri diprediksi mencapai 39.553 orang. Sepuluh tahun kemudian, 2023, jumlahnya diyakini naik signifikan menjadi 70.174 orang. Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri hanya kalah dari Vietnam yang mencapai 128.126 pada 2023.

Peningkatan minat pelajar untuk studi S-1 ke luar negeri juga terekam dari data SMANU MHT. Wakil Kepala Sekolah SMANU MHT Arif Nur Ridwan menyatakan, murid sekolahnya yang telah mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari kampus luar negeri tahun 2026 ini mencapai 47 orang. Jumlah itu merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir.

Pada 2020, tercatat 15 siswa SMANU MHT yang lanjut S-1 ke luar negeri, pada 2021 ada 26 siswa, 2022 ada 27 siswa, 2024 ada 11 murid, dan 2025 ada 25 murid.

“Salah satu faktornya memang [karena] sekolah kami mendorong anak-anak untuk bercita-cita ke perguruan tinggi luar negeri, di mana ini didukung oleh kurikulum yang disediakan—kami menggunakan kurikulum Cambridge,” kata Arif di Jakarta.

Kurikulum Cambridge merupakan satu dari tiga kurikulum yang dikombinasikan di SMANU MHT. Dua kurikulum lainnya adalah kurikulum nasional dan olimpiade.

Tren serupa terjadi di SMAN 8 Jakarta. Ubaidillah, Kepala SMAN 8 Jakarta, menyatakan sekitar 23 murid di sekolahnya sudah berniat kuliah di luar negeri. Mereka mayoritas telah mendapat LoA.

“Ada yang dapat dua [LoA], ada yang tiga, bahkan ada yang [kantongi] 16 LoA,” ucap Ubaidillah.

SMAN 8 Jakarta. Foto: Marcia Audita/kumparan

Menurut Ubaidillah, 23 murid itu sedianya bagian dari 40% siswa kelas 12 yang bakal didaftarkan mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mereka disaring berdasarkan nilai akademik.

Namun, karena sejak awal mereka telah berniat melanjutkan kuliah di luar negeri, maka slot SNBP mereka akan diberikan ke murid-murid lain sesuai perolehan peringkat. Kebijakan ini diterapkan agar kuota PTN bagi siswa SMAN 8 tidak terdampak.

“Tahun ini kami mengambil SOP supaya anak yang mau [lanjut] ke PTLN (Perguruan Tinggi Luar Negeri) itu dengan kerelaan, keikhlasan, mundur dari eligible, supaya bisa diisi oleh [murid dengan] peringkat di bawahnya,” jelas Ubaidillah.

Kebijakan yang sama diterapkan di SMANU MHT. Arif menyatakan, “[Murid] yang sudah fokus PTLN akan lepas PTN-nya. Itu tradisi di sini. Kami punya moto sukses bersama.”

Opera House berselimut gambar Raja Charles di Sydney, Australia, Jumat (18/10/2024). Foto: David Gray/AFP

Australia hingga China Jadi Tujuan

Lembaga konsultan pendidikan membaca fenomena yang sama, bahwa makin banyak pelajar SMA yang langsung membidik kampus luar negeri untuk kuliah sarjana.

Study Abroad Counsellor Kobi Education, Wildan Syukur, menyebut jumlah pelajar SMA yang dibantu untuk kuliah S-1 di luar negeri oleh lembaganya mencapai sekitar 170 orang per angkatan. Jumlah itu meningkat sekitar 20% tiap tahunnya sejak 2022.

Menurut Wildan, keterbukaan akses informasi mengenai studi di luar negeri menjadi alasan terbesar para pelajar ingin lanjut S-1 di negeri orang, selain karena makin banyaknya opsi beasiswa yang tersedia, mulai dari beasiswa pemerintah atau yayasan.

“Mereka (para pelajar) mencari tahu dan mencari kesempatan [untuk dapat beasiswa)] itu,” ujar Wildan di Jakarta.

Sementara itu, Koordinator SUN Education Pondok Indah, Widowaty Hanumtyas, menilai meningkatnya minat kuliah ke luar negeri di kalangan pelajar disebabkan mulai masifnya pameran pendidikan (education fair) di kota-kota besar. Para pelajar yang datang ke pameran-pameran itu bahkan mulai dari jenjang SMP.

“Mereka datang ke pameran. Jadi untuk research sudah mulai tertanam sejak dini… ‘Nantinya saya pengen apa, jurusan apa,’” kata Widowaty.

Pameran pendidikan tinggi Uni Eropa, Europe Higher Education Fair (EHEF) 2024, di Menara Astra, Jakarta Pusat, Sabtu (2/11/2024). Foto: Judith Aura/kumparan

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga Prof Tuti Budirahayu menilai, pameran-pameran pendidikan sejauh ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar sehingga informasi S-1 ke luar negeri, termasuk pilihan beasiswanya, tidak bisa diakses secara merata oleh seluruh siswa SMA di Indonesia. Ia pun meminta pemerintah memperluas cakupan informasi soal studi ke luar negeri tersebut.

“Bagaimana dengan anak-anak di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) misalnya, atau di daerah-daerah yang terpencil? Apakah informasi itu sampai ke mereka? Sekolah-sekolah negeri lain apakah mendapatkan akses yang sama? Jadi pemerataan akses yang mesti diperhatikan,” kata Tuti.

Prof Ardi Findyartini, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemendiktisaintek, mengakui masih rendahnya exposure studi ke luar negeri bagi para murid SMA di luar Jawa. Berbeda dengan 12 sekolah unggulan yang telah ditetapkan sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi. Di sekolah-sekolah itu, informasi soal studi luar negeri maupun beasiswa sudah disampaikan sejak siswa duduk di kelas 10.

“Kami berharap [distribusi informasi] ini juga dilakukan di sekolah-sekolah yang lain. Bahwa sekolah ke luar negeri itu sebetulnya bukan sesuatu yang di awang-awang,” ucap Titin, sapaan akrabnya.

Ilustrasi: Shutterstock

0Kobi Education dan SUN Education mengatakan bahwa negara yang paling banyak diminati pelajar SMA Indonesia adalah melanjutkan studi adalah Australia, China, Hong Kong, Jepang, Singapura, dan Malaysia.

“Sekarang yang lagi tren ke China… dan—jangan salah—kayak Malaysia, Singapura, juga jadi salah satu pilihan, walaupun Australia masih primadonanya,” ucap Widowaty.

Australia memang menjadi negara tujuan terpopuler bagi mahasiswa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Porsinya sekitar 30% lebih dari total mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Pada 2025, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia mencapai 25.443 orang, naik 10 ribu dibanding lima tahun sebelumnya (2021). Itu merupakan rekor tertinggi.

“Indonesia dan Australia memiliki kemitraan yang telah lama terjalin di bidang pendidikan, dan kami berharap dapat menyambut lebih banyak warga Indonesia untuk belajar di Australia. Mahasiswa Indonesia memperkaya kampus-kampus kami dan membantu memperkuat hubungan antarnegara," kata Rod Brazier, Duta Besar Australia untuk Indonesia.

Wildan dari Kobi Education berpandangan, negara-negara tersebut menjadi pilihan aman karena kedekatan geografis dengan Indonesia. Menurutnya, “Dari orang tua atau student, pertimbangannya [jika] pertama kali tinggal di luar negeri, mereka mencari safe choice.”

Di samping itu, universitas-universitas di Australia maupun Jepang lebih mudah dimasuki oleh siswa yang berasal dari sekolah dengan kurikulum nasional. Apalagi jika dilengkapi dengan sertifikat Scholastic Assessment Test (SAT).

“Tidak semua negara mengakui SAT sebagai penyetaraan yang mumpuni. Jadi kalau ke UK, Jerman, punya kurikulum nasional plus SAT tidak cukup. Tapi kalau ke US, Australia, Jepang, Korea, itu sudah cukup,” jelas Wildan.

Kampus Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Kampus Dalam Negeri Mulai Ditinggalkan Kalangan Atas?

Gelombang pelajar Indonesia yang membidik gelar sarjana di luar negeri terus menunjukkan tren yang signifikan. Namun di balik itu, apakah ini tanda bahwa perguruan tinggi dalam negeri mulai kehilangan daya pikatnya?

Koordinator JPPI Ubaid Matraji berpandangan, tren tersebut tidak lepas dari kepercayaan kepada kampus-kampus dalam negeri yang mulai luntur, khususnya dari kalangan menengah-atas yang punya kemampuan menyekolahkan anak ke luar negeri.

Ubaid menyebut, maraknya kasus kekerasan seksual, publikasi jurnal abal-abal, hingga skandal kampus yang mengobral gelar kehormatan (honoris causa) telah merusak reputasi perguruan tinggi dalam negeri selama beberapa tahun terakhir.

Bahkan bila dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, kualitas perguruan tinggi di Indonesia masih di bawah keduanya. Berdasarkan QS World University Rankings, terdapat dua universitas di Singapura dan 5 universitas di Malaysia yang masuk top 50 Asia. Sementara dari Indonesia hanya satu, yakni Universitas Indonesia.

“Itu semua membuat kualitas perguruan tinggi kita menjadi buruk di mata orang-orang yang punya uang lebih untuk bisa lanjut ke pendidikan yang jauh lebih terpercaya dan lebih bagus kualitasnya,” kata Ubaid.

Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di Universitas Negeri Jakarta, Rabu (22/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Belum lagi seleksi masuk PTN yang tiap tahun diwarnai perkara kebocoran soal maupun praktik joki; sampai biaya kuliah yang terkadang tidak jauh beda bila dibandingkan kuliah di luar negeri. Kondisi-kondisi tersebut, menurut Ubaid, semakin mencoreng kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Oleh sebab itu, ia mendorong kampus-kampus dalam negeri untuk berbenah diri jika tak ingin kalah saing dengan kampus global.

“Ini alarm bagi Kemendiktisaintek untuk segera melakukan evaluasi dan transformasi. Supaya pendidikan tinggi di Indonesia kebijakannya jauh lebih berkeadilan, lebih inklusif, dan menciptakan layanan pendidikan yang berkualitas dan mampu berdaya saing global,” jelas Ubaid.

Alasan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia dibandingkan kampus luar negeri juga terekam dalam laporan yang dirilis Universities UK International and IDP Connect pada 2021.

Laporan tersebut menyebut, bagi mahasiswa Indonesia “kualitas pendidikan di luar negeri lebih baik daripada di dalam negeri, dan lebih banyak peluang untuk mengembangkan karier mereka… Selain itu, metode pengajaran di dalam negeri dianggap lebih teoritis, sementara universitas-universitas di luar negeri dirasakan memberikan lebih banyak peluang untuk praktik dan pengembangan keterampilan.”

Para mahasiswa Indonesia yang menjadi responden juga merasa pengalaman internasional sangat dihargai oleh pemberi kerja. “Belajar di luar negeri untuk meraih gelar sangat berharga, karena dapat meningkatkan keahlian, kemampuan komunikasi, memperluas jaringan profesional, dan meningkatkan peluang kerja mereka di dalam negeri,” isi laporan itu.

National University of Singapore. Foto: Shutterstock

Menurut SUN Education, perbedaan paling mencolok antara sistem pendidikan Indonesia dan luar negeri terletak pada pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia masih bergantung pada metode ceramah dan teacher-centered learning di mana guru menjadi pusat informasi utama.

“Sebaliknya, ketika kuliah di luar negeri, sistem pembelajaran lebih menekankan pada student-centered learning yang mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam proses diskusi dan pemecahan masalah,” tulis SUN Education di lamannya.

Pembeda lainnya adalah kurikulum. Sistem pendidikan Indonesia cenderung bersifat umum dan kurang mengarahkan siswa ke bidang yang sesuai bakat dan minat mereka. Berbeda dengan kampus di luar negeri yang menekankan pada aspek sains, teknologi, teknik, seni, dan berbagai keilmuan lain yang lebih spesifik dan mendalam.

Belum lagi jika bicara soal fasilitas dan infrastruktur. Banyak kampus-kampus di Indonesia yang masih kekurangan sarana pembelajaran yang memadai. Sementara di universitas luar negeri, hampir seluruhnya dilengkapi fasilitas dan teknologi modern.

Meski punya sejumlah catatan, bukan berarti kualitas perguruan tinggi dalam negeri kurang. Ia melihat niat para pelajar mengejar kuliah di luar negeri juga karena ingin mencari pengalaman.

“Pengalaman pendidikan yang mungkin berbeda dibandingkan dengan yang sebelumnya mereka [dapatkan] dari SD sampai SMA di Indonesia. Pengalaman di luar negeri bisa menjadi salah satu poin plus ketika nanti mereka pulang ke Indonesia,” ucap Widowaty.

Mahasiswa bisa kuliah gratis satu semester di luar negeri dengan beasiswa IISMA. Foto: Dok Kemendikbudristek

Tingkatkan Kualitas Talenta via Beasiswa Garuda

Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemendiktisaintek, Prof Ardi Findyartini, menyatakan alasan siswa-siswa RI menempuh jenjang S-1 ke luar negeri bukan berarti karena universitas di Indonesia tak lagi diminati.

Walau demikian, ia mengakui perguruan tinggi dalam negeri masih kurang di bidang STEM (science, technology, engineering, mathematics). Ia mencontohkan talenta STEM di Singapura dan Malaysia yang berada di kisaran 30–40%, sedangkan di Indonesia baru di angka 20%.

“Kita mencapai 20% saja sudah ngos-ngosan. [Penyebabnya] pendidikan tinggi kita jumlah program studi yang mengarah ke STEM memang tidak sebanyak sosial humaniora,” jelas Titin, sapaan akrabnya.

Demi mengejar ketertinggalan itu, Kemendiktisaintek meluncurkan program Beasiswa Garuda sejak tahun lalu. Beasiswa ini merupakan kelanjutan Beasiswa Indonesia Maju (BIM) yang sudah berlangsung 4 angkatan. Prioritas beasiswa ini ada pada 8 sektor studi, yakni energi, maritim, kesehatan, pangan, pertahanan, material & manufaktur maju, digitalisasi, serta bisnis/ekonomi.

Siswa yang lolos beasiswa Garuda bakal dibiayai penuh studi sarjananya. Berdasarkan data penerimaan tahun lalu, 368 penerima beasiswa Garuda dan BIM angkatan 4 melanjutkan studi ke luar negeri dan 48 orang di dalam negeri. Dari jumlah itu, paling banyak memilih kuliah di Kanada (126 orang).

Ingin ke kampus yang mana? Ilustrasi: Basith Alif/kumparan

Dalam unggahan di Instagram pribadinya. Sabtu (25/4), Wamendiktisaintek Prof Stella Christie menjelaskan, pada 2025 terdapat 132 penerima LoA di universitas luar negeri dengan peringkat 100 terbaik dari Sekolah Garuda Transformasi. Jumlah siswa yang mendapat LoA itu meningkat 150% menjadi 330 pada 2026.

Selayaknya LPDP, penerima beasiswa Garuda wajib kembali dan berkontribusi bagi Indonesia seusai masa studinya. Namun bentuk pasti kontribusi ini masih dalam pembahasan. Titin menyebut, muncul usulan seperti apakah penerima beasiswa (awardee) bisa langsung melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya setelah lulus S-1, sampai perlukah awardee magang di BUMN sebagai bentuk kontribusi.

“Kami berharap adik-adik [penerima beasiswa] ini nggak bingung habis sekolah mau ke mana,” kata Titin.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Unair Prof Tuti Budirahayu menilai, bentuk kontribusi penerima beasiswa tidak harus bekerja atau berkarier di Indonesia. Jika siswa tersebut merupakan ilmuwan, kontribusinya bisa berbentuk transfer pengetahuan kepada peneliti di Indonesia. Sementara bila ia bergerak di sektor bisnis, kontribusinya bisa dihitung bila misalnya berhasil membawa investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

“Atau didorong untuk lanjut S-2. [Kuliah] S-2 kan enggak lama, dua tahun … karena kebanyakan anak-anak yang ambil S-1 di luar negeri [langsung] lanjut, karena untuk mendapatkan beasiswa [lanjutan] jauh lebih memungkinkan,” ucap Tuti.

Bagaimanapun, Titin menambahkan, beasiswa Garuda diharapkan tak hanya meningkatkan kapasitas para mahasiswanya, tetapi juga kualitas PTN melalui skema double degree yang ditawarkan.

“Kami terus mendorong agar pendidikan tinggi di dalam negeri terus membaik,” tutup Titin.