Serbuan Turis Malaysia ke Indonesia
·waktu baca 13 menit

Rabu siang (20/5), terik matahari menyengat kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Namun, cuaca panas tak menyurutkan langkah Izah (36) dan Flo (29). Keduanya melangkah keluar dari pintu rumah makan padang kenamaan di PIK sambil menenteng koper berukuran sedang.
Mereka tak tampak lelah. Padahal, dua rekan kerja sekantor di sebuah optik di Kuala Lumpur itu baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dari Kuala Lumpur, dan bertolak langsung ke restoran padang tersebut.
“Kita pergi sini just random aje. Tak ada expectation nak pergi untuk apa-apa pun, jalan-jalan aje,” cerita Izah dengan logat Melayu kental.
Tidak ada itinerary ketat bagi keduanya. Agenda utama mereka pada hari pertama di Jakarta adalah menuntaskan rasa penasaran pada RM Padang tersebut yang belakangan kerap berseliweran di For You Page (FYP) TikTok warga Malaysia.
Setelah perut kenyang, barulah Izah dan Flo meneruskan langkah untuk sekadar melihat-lihat kawasan perbelanjaan di pinggir pantai PIK. Rute selanjutnya pun mengalir begitu saja: check-in hotel, lalu menghabiskan sisa liburan dadakan mereka dengan keluar-masuk kafe di Jakarta—yang di antaranya ialah kafe di kawasan Blok M.
Daftar isi:
Daftar isi:

Daftar isi:
Tak jauh dari lokasi tersebut, kumparan juga berpapasan dengan Muhammad Al-Ameen. Ia baru saja menuntaskan santap siangnya di resto yang sama, dan berjalan menyusuri deretan pertokoan di PIK By The Sea.
Sedikit berbeda dengan Izah dan Flo yang baru memulai liburan, Ameen menjadikan PIK sebagai destinasi terakhir liburannya di Indonesia. Ia rupanya baru merampungkan program kegiatan kemahasiswaan di Universitas Indonesia, Depok.
Penat dengan rentetan agenda akademik, Ameen menyegarkan diri dengan berkeliling menatap laut di Pantai Maju yang berdampingan langsung dengan mal ruang terbuka tersebut, sebelum mengambil penerbangan malam kembali ke negaranya.
“Kalau di Malaysia, malnya [yang di] sebelah laut nggak ada,” kata Ameen.
Hanya dalam rentang waktu tiga jam, dari pukul 12.00 hingga 15.00 WIB, kumparan mengamati beberapa kelompok wisatawan asing berlogat Malaysia keluar dari restoran yang sama dengan bawaan serupa.
kumparan sempat menyapa dan berbincang singkat dengan dua pelancong perempuan yang logatnya identik dengan Izah dan Flo. Sambil menggeret koper dan bergegas karena taksi online pesanan mereka sudah tiba, mereka menceritakan rencana selanjutnya: langsung bertolak ke Bandung.
Menurut mereka, rute perjalanan itu dipilih murni karena Fear of Missing Out (FOMO) alias pantang tak datang jika sudah viral.
"Viral, dari media sosial TikTok. (Cari saja keyword) 'Bandung trip', nanti langsung keluar semua," ujar salah satu dari mereka.
PIK seolah menjadi persinggahan wajib; jejaring algoritma media sosial telah memoles rute ini menjadi "template" liburan turis jiran. Mereka mendarat di Soetta, mengisi perut di resto nasi Padang viral, lalu bertualang mengukir cerita.
Sesaat setelah percakapan singkat itu, kedua perempuan tadi menutup pintu taksi online. Meluncur ke stasiun, bersiap menjajal kereta cepat Whoosh untuk merengkuh pengalaman wisata di Kota Kembang.
Beli Pengalaman Naik Whoosh ke Bandung
Keputusan dua perempuan tadi untuk melesat ke stasiun demi Whoosh bukanlah anomali. Bagi wisatawan Malaysia, kereta cepat relasi Jakarta-Bandung ini telah berevolusi dari sekadar moda transportasi menjadi destinasi yang pantang dilewatkan.
Data PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengonfirmasi fenomena ini secara gamblang. Manager Corporate Communication KCIC, Emir Monti, menyebut dari 740.000 penumpang Warga Negara Asing (WNA) sejak Whoosh beroperasi pada 2023, sebanyak 345.000 di antaranya adalah warga Malaysia–paling tinggi dibanding WN lain.
"Artinya ada 43 persen penumpang WNA-nya berasal dari Malaysia, angkanya cukup tinggi," papar Emir di Stasiun Whoosh Halim.
Ketiadaan fasilitas serupa di negeri jiran menjadi daya pikat utama. Anis Shamimie (27), salah satu pelancong yang juga staf dari PolyCC Malaysia, blak-blakan mengakui bahwa ia sengaja memasukkan Whoosh ke dalam itinerary kunjungannya ke Indonesia murni untuk membeli pengalaman.
"Sebabnya ini macam pengalaman barulah, kita tak pernah rasa lagi naik Whoosh train. Jadi nak tahulah juga kepantasan dia itu, daripada yang 4 jam (naik mobil), ini setengah jam saja," tutur Mimie.
Bagi pelancong, Whoosh menghadirkan impresi kelas wahid. Jannah, wisatawan yang sudah 10 tahun bolak-balik berlibur ke Jakarta dan Bandung, memuji ketepatan waktu dan kenyamanan kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini.
Meski Whoosh melaju kencang hingga kecepatan 350 km/jam, ia sama sekali tidak merasakan guncangan di dalam kabin. Aturan ketat terkait kenyamanan—seperti larangan berbicara keras dan keharusan mengecilkan volume telepon genggam—bahkan mengingatkannya pada kedisiplinan kultur kereta di Jepang.
“Bagus sangat, sebab dia kecepatannya, dan dia tak ada menunggu. Dia sharp timing, maksudnya kalau pukul 10 perjalanan itu bergerak, bergeraklah,” kata Jannah yang mengaku sudah sering naik Whoosh itu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, menyatakan dihentikannya penerbangan internasional dari Malaysia ke Bandara Husein Sastranegara sempat memunculkan tantangan tersendiri.
Beruntung, kehadiran Whoosh tampil sebagai daya pikat baru yang mengobati absennya direct flight tersebut. Disparbud Jabar bersama KCIC menjemput bola dengan mempromosikan wisata di Jabar sekaligus “menjual” pengalaman menaiki kereta cepat ini langsung di pameran MATTA Fair (pameran perjalanan bergengsi di Malaysia).
"Karena kita tahu KCIC atau kereta cepat ini di Asia Tenggara baru ada di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Di Singapura Malaysia nggak ada kereta cepat," tegas Iendra.
Emir menjelaskan Juni-Juli dan akhir tahun, menjadi momentum ramainya wisatawan Malaysia. Momen tersebut bertepatan dengan libur sekolah dan cuti akhir tahun, ditambah dengan momentum libur Lebaran.
Pola yang terlihat pelancong Malaysia datang berpasangan layaknya backpacker; wisata keluarga kecil yang membawa koper besar dengan tag bandara CGK (Cengkareng); hingga rombongan besar belasan orang yang dipandu bendera tour guide. Ada juga yang sudah sewa mobil untuk membawa barang-barang pribadinya langsung ke Bandung, sementara pelancongnya naik Whoosh.
“Penumpang Malaysia itu menghabiskan waktu dulu di stasiun (Halim), makan-belanja, kemudian naik Whoosh ke Padalarang. Lanjut feeder ke Bandung dan mobil tadi sudah siap menjemput di Bandung,” kata Emir.
Wisata Alam Dulu, Belanja Urban Kemudian
Sesampainya di Stasiun Padalarang dan berlanjut ke pusat Kota Bandung, rute para pelancong ini rupanya sudah terpola layaknya sebuah cetak biru liburan. Ada "pakem" tak tertulis yang jamak mereka jalani: merasakan kesejukan terlebih dahulu di kawasan wisata "atas" alias pegunungan seperti Lembang di wilayah utara atau Ciwidey di selatan, sebelum akhirnya "turun gunung" menuntaskan hasrat berbelanja.
General Manager The Lodge Maribaya, Zahrani Hasya Nadhila, membenarkan siklus ini. Begitu turun dari Whoosh dan disambut agen perjalanan, rute yang paling banyak diminta para turis jiran adalah meluncur ke daerah Lembang atas.
"The Lodge Maribaya menjadi salah satu destinasi yang bisa dibilang wajib bagi warga negara Malaysia untuk datang ke area Lembang. Kenapa? Yang pertama mereka tuh enggak punya alam yang seperti inilah di sana," ungkap Zani, sapaan akrabnya, sembari menunjuk pepohonan hijau khas Lembang di belakangnya yang jadi latar wisata alam The Lodge Maribaya.
Rasa haus akan pemandangan alam perbukitan yang hijau dan sejuk membuat komposisi pengunjung The Lodge Maribaya berubah drastis pasca-pandemi COVID-19. Zani mencatat pada tahun 2026, 60 persen pengunjung yang meramaikan kawasannya justru didominasi warga negara Malaysia, mengalahkan persentase turis lokal. Saat akhir pekan, dari total 1.500 pengunjung per hari, mayoritasnya adalah pelancong dari semenanjung Malaya tersebut.
Pola waktu kunjungan ini dikonfirmasi oleh Founder Simply Tour and Travel, Desfarindo atau yang akrab disapa Farit. Agen perjalanan wisata langganan turis Malaysia ini menyebut, pelesir ke alam lazimnya diagendakan pada hari kedua dan ketiga liburan. Rombongan biasanya sudah bersiap membelah kemacetan Bandung sejak pukul 07.00 pagi atau tergantung permintaan pelancong.
"Kalau ke Ciwidey sampai Bandung lagi Magrib. Kalau ke atas (Lembang) kurang lebih sama, jam 5 itu sudah sampai Bandung," terang Farit.
Farit juga memotret adanya diferensiasi gaya liburan antara generasi tua dan muda turis Malaysia. Wisatawan yang lebih berumur cenderung setia mengikuti itinerary wisata alam dan belanja suvenir konvensional yang disiapkan agen.
Sementara itu, pelancong kalangan muda justru lebih "kreatif". Berbekal referensi TikTok, tak jarang mereka justru lebih tahu kafe mana yang sedang tren ketimbang sopir travel yang membawanya. Anak-anak muda Malaysia ini menjadikan aktivitas berburu fesyen local brand di kawasan Trunojoyo, Tirtayasa, hingga menyusuri perkotaan sebagai agenda utama.
Kawasan perkotaan beraroma kolonial, seperti Jalan Braga, tak luput dari serbuan turis Malaysia. Bagi agen travel seperti milik Farit, memasukkan Jalan Braga ke dalam itinerary bahkan sudah menjadi standar wajib jika tamu berkunjung ke Bandung.
Kawasan peninggalan Belanda ini telanjur identik sebagai tempat nongkrong estetik favorit pelancong muda. Di sepanjang jalan berbatu andesit inilah, turis menuntaskan dahaga berbelanja jenama lokal, salah satunya parfum.
Silvia Ananda (23), Manajer merek parfum lokal Heaven yang membuka booth di Braga, merasakan betul animo pelancong Malaysia. Saat kawasan Braga meledak oleh kunjungan turis di momen libur panjang (long weekend), Silvia kerap melayani pelancong Malaysia yang memburu wewangian dengan profil sedikit manis namun kental dengan aroma bunga (flowery).
"Bahan kita semuanya lokal, kayak bunga sedap malam, bunga kenanga, terus rempahnya tuh cengkeh (dan kayu manis). Nah mereka tuh sebenarnya notice kayak 'ini wangi yang nggak biasa ada di parfum sana (Malaysia)'," cerita Silvia mengulang impresi para pelanggannya.
Fase berburu jenama lokal dan parfum ini memang amat dinikmati oleh turis seperti Jannah. Di Jakarta dan Bandung ia juga memborong parfum isi ulang yang aromanya menyerupai jenama mewah dunia.
Selain itu, "turun gunung" bagi Jannah juga berarti waktunya berburu camilan, seperti membeli biskuit kering di Kartika Sari untuk orang tua, hingga memborong cokelat dengan kata-kata unik di Rumah Mode.
Puncak dari hasrat berbelanja ini tentu saja bermuara di surganya ritel grosir: Pasar Baru Trade Center, Bandung. Adapun jika di Jakarta, para turis Malaysia kerap belanja grosir di Tanah Abang atau Thamrin City.
Manajer Operasional Pasar Baru Trade Center, Nendy, menyebut wisatawan Malaysia justru kerap memadati kawasan tersebut pada hari-hari kerja sebagai imbas dari pakem "alam dulu, belanja kemudian".
"Justru ramai di hari Senin, Selasa sampai Kamis atau Jumat. Karena di weekend itu beliau (pelancong Malaysia) wisata alam dulu ke Lembang, Tangkuban Parahu, setelah itu makanya di hari Senin atau Selasa ini langsung ke belanja," urai Nendy.
Dalam satu hari biasa, jumlah kendaraan pariwisata yang membawa rombongan warga Malaysia bisa menyentuh angka 15 hingga 25 unit di Pasar Baru, dan mereka rela menghabiskan waktu dari pagi hingga malam untuk berbelanja tekstil.
Anis Shamimie merasakan sendiri sensasi "lapar mata" tersebut. Bagi Mimie, pusat perbelanjaan grosir itu sudah layaknya surga.
"Pasar Baru, ini saya rasa kalau untuk wanita ini macam surgalah. Semua tempat semua toko saya rasa mau beli... dah rambang mata dah (sudah tak bisa memilih saking terpesonanya)," kelakarnya.
Daya pikat utamanya ada pada kekayaan motif dan desain baju berenda (full lace) yang dibanderol sangat terjangkau akibat konversi ringgit.
"Di sini bisa dapat full lace itu (di bawah) 100 ringgit. Kalau di Malaysia 100 ringgit itu untuk satu dress sangat susah, boleh jadi double the price," ungkap Mimie yang datang hanya membawa satu koper, tapi sudah memproyeksikan akan pulang membawa dua hingga tiga koper tambahan berisi pakaian dan parfum murah.
Kenapa Indonesia Jadi Incaran Pelancong Malaysia?
Banjirnya pelancong asal Malaysia ke Indonesia, khususnya Jakarta dan Bandung, bukanlah isapan jempol atau sekadar sensasi algoritma media sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah kumparan membuktikan bahwa dalam empat tahun terakhir (2022-2025), pelancong Malaysia konsisten merajai angka kunjungan ke Indonesia.
Grafik menunjukkan lonjakan yang sangat masif tiap tahunnya: dari 1.212.574 kunjungan pada 2022, melesat dua kali lipat hingga menembus 2.639.749 kunjungan pada 2025. Angka ini bertengger jauh di atas delapan negara penyumbang turis utama lainnya, meninggalkan Australia (1.754.791 kunjungan) dan Singapura (1.526.438 kunjungan) di posisi kedua dan ketiga pada tahun yang sama. Fenomena "serbuan" masif ini tentu tidak terjadi di ruang hampa.
Guru Besar Pariwisata Universitas Trisakti, Prof. Azril Azahari, menyebut wisatawan asal Malaysia dan Singapura memiliki keterikatan ras Melayu yang kuat dengan Indonesia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengamini hal tersebut. Ia menilai budaya dan makanan yang hampir sama—namun dengan kemasan serta improvisasi yang sedikit berbeda di Jawa Barat—menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan jiran.
Kekayaan budaya Nusantara ini pula yang memikat Baayah (22), mahasiswi Universiti Teknologi MARA (UiTM), Selangor. Meski di media sosial warganet kedua negara kerap berdebat, Baayah menganggap hubungan Indonesia dan Malaysia layaknya saudara kandung atau siblings. Ia bahkan menaruh minat besar pada sastra Indonesia, seperti karya-karya Buya Hamka.
“Sejak zaman dulu Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam keterkaitannya dengan Indonesia karena ras Melayu-nya. Pakaian kita paling banyak dipakai di sana… Yang mengikat karena satu rumpun,” kata Prof Azril. Karena kedekatan itulah kemudian pelancong Malaysia tertarik dengan shopping tourism di Indonesia.
Selain segala kedekatan emosional dan kultural itu, yang menarik ringgit ke tanah air adalah faktor ekonomi. Pelemahan nilai tukar rupiah, menurut Prof Azril, menciptakan “surga” belanja bagi wisatawan Malaysia.
Founder Simply Tour and Travel, Farit, memotret perilaku ini dengan perumpamaan yang pas. "Sekarang mereka merasa kaya ke sini, jadi jutawan dia di Indonesia," sebut Farit.
Sensasi menjadi "jutawan dadakan" ini dirasakan betul oleh Ameen. Pria itu mengaku terkejut saat menukarkan uang 500 ringgit dan mendapatkan lebih dari Rp 2 juta. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa memborong parfum dan kemeja batik yang harganya bisa 80 persen lebih murah dibandingkan di negaranya.
"Jadi merasa, 'ush kaya di sini!', tapi sekejap beli-beli habis," kenang Ameen. Hal senada juga dialami Baayah; harga Rp 200 ribu mungkin terdengar mahal, namun saat dikonversi ke ringgit, nilainya menjadi sangat murah bagi mereka.
Bagi Prof Azril, tren berwisata untuk berbelanja atau shopping tourism inilah yang patut digarap serius oleh pemerintah. Wisatawan Malaysia sanggup memborong pakaian berlusin-lusin, mulai dari sarung, baju koko, hingga mukena untuk dibawa pulang ke kampung halamannya.
Sayangnya, potensi "gula" yang sangat manis ini, kata Prof Azril, belum dikemas (packaging) dengan maksimal oleh pemangku kebijakan, baik dari segi penyediaan fasilitas, standarisasi harga agar tidak terjadi perang harga, maupun pemeliharaan kebersihan infrastruktur penunjang seperti musala dan toilet. Menurutnya ekosistem shopping tourism perlu terus diperbaiki.
“Tempat belanjanya harga harus jangan berkompetisi, bisa enggak satu harga?... Musala sama toilet harus bersih sekali…,” kata Prof Azriel.
Di sisi lain, tren kunjungan ini bukan tanpa kerikil. Eskalasi geopolitik Timur Tengah yang mengerek harga avtur dunia turut membayangi iklim pariwisata. General Manager The Lodge Maribaya, Zahrani Hasya Nadhila, membenarkan bahwa mahalnya harga tiket pesawat terbang dari Malaysia sempat membuat kunjungan turis jiran ke tempat wisatanya anjlok hingga 30 persen pada bulan Mei 2026 ini.
Meski begitu, pesona Jakarta dan Kota Kembang tampaknya belum akan pudar dalam waktu dekat. Seperti yang diungkapkan Farit, cuaca yang sejuk, keramahan warga lokal, deretan pusat perbelanjaan, hingga menjamurnya kafe estetik dan kuliner lezat selalu sukses membuat turis Malaysia ketagihan.
Berbeda dengan kota lain yang mungkin hanya dikunjungi sekali, pelancong Malaysia sudi untuk kembali berlibur ke Bandung hingga tiga atau empat kali.
Berdasarkan data statistik yang dirilis oleh Biro Data dan Sistem Informasi Kemenpar, Top 5 Pintu Masuk Utama Wisman asal Malaysia sepanjang periode Januari-Desember 2025 adalah: 1) Jakarta (469.209 kunjungan), 2) Batam (412.127 kunjungan), 3) Bali (250.120 kunjungan), 4) Medan (147.452 kunjungan), dan 5) Surabaya (88.586 kunjungan).
Menurut Kementerian Pariwisata, nilai tukar mata uang dapat menjadi salah satu pertimbangan kunjungan turis Malaysia ke Indonesia karena berpengaruh terhadap daya beli wisatawan. Namun faktor lain juga mempengaruhi seperti 1) Konektivitas penerbangan, 2) Kedekatan jarak antarnegara, 3) Daya tarik destinasi dan pengalaman wisata, serta 4) Tren perjalanan dan preferensi wisatawan.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menyebut pihaknya tengah mengevaluasi preferensi wisatawan Malaysia dengan memetakan destinasi dan aktivitas yang paling disukai saat mereka datang ke Indonesia. Termasuk dengan menggencarkan promosi menggunakan media sosial dan pameran wisata.
“Untuk meningkatkan LoS (durasi wisata), average spending (rata-rata pengeluaran), dan angka kunjungan Kementerian juga terus mendorong pendekatan quality tourism, sehingga peningkatan kunjungan tidak hanya dilihat dari sisi jumlah wisatawan, tetapi juga kualitas pengalaman dan dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat dan pelaku usaha pariwisata,” tutup Ni Made.

