Wajah Modern Abdi Dalem Estri Keraton Yogyakarta
·waktu baca 12 menit

Valentina Endah Winarni masih ingat betul rasanya saat pertama kali diminta memotret Sri Sultan Hamengku Buwono X dan putri-putrinya dari jarak dekat. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya menggenggam kamera, sementara tubuhnya terbungkus kebaya dan jarik yang terlilit rapi dari pinggang hingga mata kaki.
“Seneng sih jadi fotografer. Tapi kadang ada kayak deg-degannya karena yang difoto itu nggak cuma orang biasa, tapi seorang raja dan putri-putrinya,” kata Valentina kepada kumparan di Keraton Yogyakarta, Jumat (15/5).
“... tapi saat itu [saya menyugesti diri], bisa-bisa-bisa,’” lanjut perempuan 29 tahun itu sembari menghela nafas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Valentina merupakan abdi dalem estri (perempuan) Keraton Yogyakarta. Ia bertugas sebagai fotografer di Kawedanan Tandha Yekti, sebuah departemen yang mengelola dokumentasi, media sosial, hingga website Keraton Yogyakarta.
Sejumlah foto yang bertebaran di Instagram, TikTok, dan situs resmi Keraton tak jarang lahir dari bidikan lensa perempuan lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini.
Awal Valentina bergabung ke Keraton sama sekali tidak terencana. Saat lulus kuliah pada 2020, ia tak pernah membayangkan akan menjadi abdi dalem. Semua bermula ketika senior di kampusnya menawarkan posisi fotografer Keraton. Sang senior menginfokan, Keraton membutuhkan fotografer perempuan karena kelima anak Ngarsa Dalem (sapaan halus Sri Sultan Hamengkubuwana X) seluruhnya perempuan.
Kelima putri Sultan HB X ialah GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara.
“Waktu itu sempat masih bingung kayak ‘Di Keraton nih bisa nggak, ya? Tapi [saya pikir] kapan lagi jadi fotografer cewek di dalam Keraton? Akhirnya, ya udah deh mau,” ucapnya.
Bagi Valentina, menjadi abdi dalem adalah keberuntungan yang tak disangka-sangka.
“Kapan lagi dapat pekerjaan jadi abdi dalem? Maksudnya, nggak semua orang [bisa jadi abdi dalem] ... Saya beruntung dapat kesempatan itu,” ujarnya.
Setelah menjalani masa freelance—yang juga dihitung magang—sekitar dua tahun, Valentina resmi diwisuda menjadi abdi dalem pada akhir 2022. Ia pun mendapat nama paring dalem (nama khusus yang diberikan Keraton kepada abdi dalem). Namanya Nyi Mas Penewu Adyawarni Guritno.
Valentina bekerja setiap hari di Keraton layaknya pegawai kantoran. Bedanya, ia harus menggunakan sanggul, kebaya, dan jarik—suatu hal yang awalnya ia pikir sulit, namun lama-kelamaan terasa biasa.
“Dulu waktu sebelum jadi abdi dalem tuh kayak mikir, ‘Bisa nggak ya sanggulan? Bisa nggak ya pakai jarik? Terus fotografer kan harus lari-lari… ‘Bisa nggak ya?’ [Tapi] lama-lama kebiasaan, akhirnya enjoy kayak orang biasa motret. Bedanya mereka [pakaiannya] kasual’ kami berjarik dan sanggulan,” ujar Valentina.
Valentina adalah representasi dari wajah baru abdi dalem perempuan Keraton Yogyakarta. Ia satu dari sekian banyak perempuan muda yang kini mengisi peran-peran di Keraton dengan identitas profesional mereka masing-masing. Khusus di divisi Valentina, rata-rata anggotanya berusia 35 tahun ke bawah.
Sosok Valentina meluruhkan anggapan bahwa abdi dalem estri merupakan perempuan sepuh yang ketinggalam zaman. Namun, perjalanan menanggalkan stereotipe “kuno” itu tidak terjadi begitu saja.
Nyi KRT Noorsundari, abdi dalem estri senior yang kini menjabat Carik Kawedanan Radya Kartiyasa dengan pangkat Bupati Anom, menyaksikan perubahan itu selama dua dekade terakhir. Menurutnya, suasana saat ini berbeda dibanding ketika dulu ia pertama kali menginjakkan kaki di Keraton pada Januari 2004. Saat itu, kata Noorsundari, suasananya masing wingit (kaku dan tertutup).
"Saya masuk tahun 2004, Keraton itu kesannya itu masih wingit kalau orang Jawa bilang. Jadi kayak tertutup, eksklusif, untouchable,” kenangnya.
Bahkan, kala itu beredar rumor di antara orang-orang sekitarnya yang memicu kekhawatirannya: bahwa siapa pun yang masuk Keraton, tak akan bisa ke mana-mana lagi.
Nyatanya, kekhawatiran itu tak beralasan. Noorsundari merasa Keraton kini cukup terbuka. Ia bahkan kerasan hingga dua dekade lebih. Bagi Noorsundari, Keraton bukan sekadar istana, tetapi juga pusat sejarah dan budaya.
“Setelah sayang jadi cinta—jatuh cinta [dengan kehidupan Keraton]. Setelah jatuh cinta jadi setia. Saya mengalami kayak gitu,” ucap Noorsundari.
Kini di tangan perempuan-perempuan seperti Valentina dan Noorsundari, tradisi Keraton dikemas dengan nuansa lebih modern. Peran perempuan dalam struktur organisasi Keraton Yogyakarta juga makin krusial dan strategis; tak hanya di balik layar.
Banyak jabatan struktural di Keraton seperti Penghageng, Carik, dan Hartakan diemban oleh perempuan dalam rangka mendorong jalannya sistem pemerintahan serta administrasi di keraton.
Transformasi Abdi Dalem Estri
Gambaran abdi dalem perempuan yang selama ini lekat di benak publik tidak jauh dari sosok perempuan sepuh berbusana tradisional, berkutat di dapur keraton, merawat pusaka, atau mengurus kebutuhan ritual. Stereotipe itu tak sepenuhnya salah, tetapi tidak semua abdi dalem perempuan seperti itu.
Sejarawan UGM Sri Margana menyatakan, peran abdi dalem perempuan sangat krusial sepanjang sejarah. Jauh sebelum Kesultanan Yogyakarta berdiri, ketika Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) masih berjuang melawan VOC dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, abdi dalem perempuan sudah bagian tak terpisahkan dari rombongannya.
Peran abdi dalem perempuan juga sangat kental dengan urusan domestik Keraton seperti melayani permaisuri dan putri raja. Namun setelah Indonesia merdeka dan Keraton Yogyakarta bergabung dengan Republik, fungsinya bergeser menjadi unit dan cagar budaya.
Perubahan itu menguat setelah UU Keistimewaan DIY disahkan pada 2012, yang membuka aliran dana keistimewaan untuk pengembangan budaya. Di sinilah jabatan-jabatan baru lahir dan perempuan dengan profesi modern mulai mendapat tempat, seperti ahli tari, ahli naskah, fotografer, hingga pemain orkestra.
“Tidak lagi abdi dalem yang untuk domestik sebelumnya, tapi untuk spesialisasi-spesialisasi yang dibutuhkan oleh Keraton dalam pengembangan budaya," ujar Margana di Yogyakarta, Jumat (15/5).
Salah satu bukti dari transformasi di Keraton Yogyakarta adalah lahirnya Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) pada 2021. Di dalamnya terdapat kelompok Warawaditra.
“Wara” berarti perempuan dan “waditra” artinya musik. Warawaditra menjadi perpaduan apik para abdi dalem dalam orkestra perempuan. Kelompok musik ini menunjukkan fleksibilitas budaya Keraton yang mampu menyerap pengaruh luar secara elegan tanpa kehilangan jati diri.
Salah satu wajah di balik Warawaditra adalah Cahya Simphoni Fabiola. Lahir dan besar di keluarga pemusik, Cahya menekuni permainan flute sejak kecil dan kini menyandang gelar Abdi Dalem Musikan dengan nama paring dalem Nyi Mas Jajar Rasmiwaditro.
Ia tampil sebagai solis perdana di Konser Warawaditra, sekaligus menjadi pimpinan produksi di berbagai konser Keraton. Tak hanya itu, perjalanannya sebagai abdi dalem membawanya bersentuhan lebih dalam dengan kebudayaan Jawa, termasuk menjadi bagian dari korps musik Prajurit Estri Langenkusuma.
Bagi Cahya, emansipasi perempuan di panggung orkestra tidaklah mustahil. Seperti dikutip dalam akun Instagram resmi Keraton Yogyakarta, Cahya memegang prinsip “yang penting dilakukan dengan ikhlas.”
Antropolog Universitas Indonesia, Sri Murni, melihat Warawaditra sebagai evolusi yang positif. Menurutnya, Keraton Yogyakarta sangat progresif dalam mengadaptasi perubahan zaman.
“Ketika Keraton Jogja meningkatkan peran estri, itu sebenarnya sesuai dengan kebutuhan zaman. Ini sebenarnya bisa menjadi contoh dari keraton-keraton [lain] di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat Sastra Jawa UGM, Rudy Wiratama, menilai perubahan yang progresif itu di antaranya berasal dari generasi putri-putri Ngarso Dalem atau menantu-menantunya yang memiliki cara pandang berbeda.
“Mereka tentu punya cara pandang yang berbeda… bahkan punya proyeksi-proyeksi atau cita-cita yang lain terhadap Keraton—Keraton mau diapakan, mau berjalan ke mana,” kata Rudy.
Putri bungsu Sultan HB X, GKR Bendara, mengamini adanya perubahan cara pandang Keraton mengenai peran abdi dalem, khususnya perempuan, dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyatakan keterlibatan abdi dalem perempuan yang semakin banyak tak lepas dari para putri Sultan HB X yang memimpin kawedanan-kawedanan.
“Sehingga semakin terbukalah abdi dalem perempuan untuk mulai masuk. Begitu juga dengan abdi dalem-abdi dalem dari generasi Z yang kami rasa perlu ada keterlibatannya karena mereka punya spesifik background yang kami butuhkan dalam organisasi keraton yang sekarang,” ujar GKR Bendara saat acara ‘Gregah Nusa’ YRO di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (16/5).
Transformasi ini juga bertujuan mengubah cara pandang publik mengenai abdi dalem perempuan yang masih menggunakan perspektif lama. Keberadaan Valentina dan Cahya mematahkan anggapan bahwa abdi dalem adalah sosok yang tertinggal.
“Dulu saya ngiranya di dalam Keraton banyak yang tua-tua, terus lama-lama kayak ‘Oh, ternyata banyak yang muda-muda kerja di sini’ … Jadi di dalam Keraton tuh nggak ketinggalan zaman,” kata Valentina.
Adapun Noorsundari menyebut keberadaan anak-anak muda sebagai abdi dalem perempuan merupakan contoh terjadinya kolaborasi antargenerasi di internal Keraton.
“Menghilangkan image bahwa generasi tua menutup jalan generasi muda. Karena bagaimanapun kalau kita tidak mengenalkan sedini mungkin hal-hal positif kepada generasi berikutnya, maka kebudayaan itu tidak akan bisa sustain,” ucapnya.
Jati Diri Feminisme Jawa
Guru Besar UNY Bidang Kajian Sastra dan Budaya Jawa, Prof Sri Harti Widyastuti, memandang cara Keraton Yogyakarta membuka diri dan meluaskan peran para abdi dalem estri merupakan upaya untuk menunjukkan jati diri feminisme Jawa. Menurutnya, gebrakan Keraton Yogyakarta patut ditiru oleh Keraton-Keraton yang lain.
Wanita-wanita berperan, tidak hanya laki-laki. Wanita-wanita bisa di depan, bisa mengatur. Ini evolusi sangat cerdas yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta.”
- Prof Sri Harti Widyastuti, Guru Besar UNY Bidang Kajian Sastra dan Budaya Jawa
“Bagaimana wanita-wanita ini tanpa meninggalkan kesederhanaannya, kehikmatannya terhadap atasan, kepada Raja, tidak meninggalkan sopan santun, tidak bersikap arogan … dan mau belajar untuk kemajuan semua. Saya lihat cita-cita Kartini sesungguhnya tercapai juga di sini,” imbuhnya.
Sri Harti menjelaskan, pada masa lampau, abdi dalem estri memang bergerak di ranah domestik seperti mengurus kebutuhan pangan para prajurit, merawat kaputren, hingga menjadi tempat curhat permaisuri. Namun, peran itu tak berarti menandakan abdi dalem estri tidak berdaya, sebab itu adalah pekerjaan yang menentukan ketenangan atau harmoni dalam Keraton.
“Sekarang abdi dalem estri tidak hanya menjadi penjaga harmoni, tetapi menjadi agen kebudayaan yang akan mengarahkan Keraton tidak hanya sebagai museum dan pusat kebudayaan, tapi juga menjadi penggerak kebudayaan, museum yang hidup,” jelasnya.
Sejarah pun mencatat peran vital abdi dalem perempuan di Keraton. Rudy Wiratama menyebut sejak zaman Mataram, penggunaan tenaga perempuan di rumah tangga istana juga didasari alasan keamanan politik, sebab perempuan dianggap lebih loyal dan lebih tidak memungkinkan untuk memberontak dibanding laki-laki.
KRT Noorsundari juga mengingatkan tentang kekuatan perempuan sebagai pelindung Sultan. Catatan sejarah tentang kekuatan abdi dalem estri salah satunya tercatat dalam peristiwa Geger Sepehi 1812, ketika Korps Srikandi Langenkusuma menjadi pelindung Sultan HB II saat runtuhnya Keraton Yogyakarta oleh invasi Inggris.
Dalam Serat Langen-Kesuma, ketangkasan mereka digambarkan setara prajurit pria: andal bermain tombak saat berkuda, pandai memanah, terampil berperang jarak dekat, dan mahir menggunakan senjata kerbin.
Kini, sejak Garebeg Mulud Dal 1959/2025, Keraton Yogyakarta berupaya merevitalisasi Korps Langenkusuma. Keraton menyatakan keberadaan Korps Langenkusuma merupakan inspirasi bagi perempuan modern bahwa keberanian dan ketangguhan perempuan Jawa sudah ada sejak dahulu.
Sri Harti pun berharap para abdi dalem estri yang dipercaya memegang peran-peran krusial tidak sampai menanggalkan identitasnya sebagai perempuan Jawa.
“Wanita-wanita berperan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita, tanpa meninggalkan sopan santun. Tetap dia mengabdi kepada Keraton tanpa iming-iming keduniaan,” ucapnya.
Valentina bercerita, pengalaman enam tahun sebagai abdi dalem telah membentuk sikapnya.
“Saya sebelum jadi abdi dalem mungkin kayak berinteraksi sama orang masih kurang baik. Terus setelah kerja di sini, saya jadi lebih ramah, lebih sopan kalau sama orang, jadi sering nyapa,” kata Valentina.
Adapun Noorsundari memandang nilai-nilai Keraton sebagai panduan yang justru relevan di segala zaman. Ia mengutip tiga ajaran Sultan HB I:
Sangkan Paraning Dumadi (asal-usul dan tujuan akhir kehidupan)
Hamemayu Hayuning Bawana (menjaga alam semesta); dan
Watak Satriya (berwatak satria) yang memuat empat sikap: Nyawiji (adaptif), Greget (bersemangat), Sengguh (pantang menyerah), dan Ora Mingkuh (tidak menghindari halangan).
“Ketika karakter ini bisa terbentuk, maka untuk menghadapi zaman apa pun kita akan siap, akan sukses… Di salah satu [sikap] termasuk Watak Satriya itu adaptif, berarti kita harus beradaptasi dengan apa pun, termasuk dengan zaman yang ada,” jelas Noorsundari.
Menjaga Eksistensi Tradisi
Langkah Keraton Yogyakarta meningkatkan peran para abdi dalem estri juga dianggap sebagai strategi menjaga tradisi budaya agar tetap eksis, di samping secara alami bagian dari regenerasi. Apalagi, Yogyakarta baru saja mendapatkan status warisan budaya dunia dari UNESCO untuk sumbu filosofinya (Tugu Golong-Gilig, Kraton, dan Panggung Krapyak) pada September 2023.
“Sehingga dalam preservasi heritage yang ada di Keraton atau sekitar Keraton, harus mengikuti itu. Lagi-lagi ini diperlukan berbagai profesi yang relevan dengan tugas-tugas itu. Sehingga tidak heran kalau sekarang banyak perempuan dengan profesi baru bisa menjadi bagian penting dari Keraton,” kata sejarawan UGM Sri Margana.
Menariknya, lanjut Margana, alasan anak-anak muda menjadi abdi dalem tidak sekadar karena persoalan tradisional seperti ngalap (berharap) berkah, tetapi juga diiringi dengan kesadaran budaya yang kuat.
“Kalau dulu abdi dalem lebih pada pengabdian, loyalitas, kharisma, cari berkah, dan sebagainya, tapi sekarang sudah berbeda. Sekarang lebih kepada alasan-alasan yang rasional… kesadaran, kecintaan terhadap budaya, itu juga menguat,” ucapnya.
Di samping kebutuhan mempertahankan tradisi, menurut Rudy Wiratama, upaya Keraton menggaet anak-anak muda juga dilatarbelakangi faktor kemajuan teknologi. Penguasaan teknologi oleh generasi muda adalah kunci agar umur Keraton semakin panjang.
"Abdi dalem yang muda otomatis menguasai sosial media, marketing, branding, teknik-teknik komunikasi… yang mungkin dari generasi-generasi sebelumnya nggak mampu untuk menangani,” kata Rudy.
Namun, ia mengingatkan bahwa hadirnya modernitas di lingkup Keraton tidak boleh menabrak paugeran (aturan adat).
Usaha Keraton menghidupkan kembali tradisi budaya juga bisa dilihat melalui Tantri Kridhamardawa yang melibatkan abdi dalem estri muda.
Tantri Kridhamardawa merupakan ruang bagi para abdi dalem perempuan untuk mengeksplorasi kedalaman estetika lewat seni karawitan. Istimewanya kegiatan ini adalah kehadiran Kanjeng Nyai Marikangen—perangkat gamelan yang dibuat khusus untuk perempuan, dengan bentuk dan ukuran setiap instrumen yang lebih kecil dari gamelan pada umumnya.
Gamelan ini juga menjadi pengiring tetap Korps Langenkusuma setiap Sabtu pagi usai latihan watangan (ketangkasan) di Alun-alun Selatan. Melalui Tantri Kridhamardawa, Keraton Yogyakarta ingin regenerasi pengrawit putri terus dijaga.
Mulai dari orkestra hingga revitalisasi Tantri Kridhamardawa, menurut Margana, merupakan bukti bahwa institusi tua seperti Keraton masih relevan di dunia yang semakin modern.
“Semakin dunia ini modern, Keraton akan semakin penting sebagai pewaris budaya sekaligus untuk mempreservasi nilai-nilai lama. Karena di dalam dunia yang sangat modern, eksistensi Keraton dan karakteristiknya menjadi sangat unik,” jelasnya.
Sementara mengenai persoalan gender dalam lingkup Keraton, Margana meyakini ketegangan isu tersebut lama-kelamaan akan berkurang seiring waktu.
“Semakin tinggi tingkat kesadaran pendidikan, pengetahuan masyarakat, maka bentuk-bentuk dikotomi, segregasi, pemilahan antara laki perempuan, akan semakin berkurang. Jadi nanti isu laki-perempuan di dalam lingkungan Keraton tidak lagi relevan,” kata Margana.
Kisah Valentina, Cahya, dan Noorsundari menggambarkan bahwa tradisi Keraton dan modernitas, dua dunia yang kerap dianggap berlawanan, nyatanya bisa berjalan beriringan.

