Kumparan Logo

1 Menit Bicara, 1.000 Droplet Tersebar di Udara

kumparanSAINSverified-green

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi berbicara Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berbicara Foto: Pixabay

Physical distancing menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah penularan virus corona. Tidak bersentuhan saja ternyata tidak cukup, karena penularan bisa juga menular dari droplet alias cairan pernapasan yang berasal dari hidung dan tenggorokan yang keluar ke udara.

Itu artinya aktivitas sederhana seperti mengobrol face-to-face saja bisa menjadi medium penularan virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19. Selain itu, droplet itu juga bisa bertahan di udara.

Sekelompok peneliti dari National Institutes of Health berhasil merilis studi baru yang mengungkap kemungkinan mengobrol tatap muka dapat menularkan virus corona. Penelitian mereka ada dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Riset itu mengungkap bahwa seseorang bisa menebarkan hingga 1.000 droplet selama satu menit berbicara. Cairan itu bisa bertahan selama kurang lebih 8 hingga 14 menit di udara.

Ilustrasi pengambilan sampel uji virus corona Foto: Ritzau Scanpix / Niels Christian Vilmann via REUTERS

Droplet memiliki kemampuan untuk bertahan lama di udara. Tak hanya yang besar, tapi droplets yang sangat kecil juga dapat menyebarkan virus.

Tim peneliti juga menemukan bahwa seseorang bisa menciptakan tetesan hingga berukuran sekitar 10 hingga 100 mikrometer selama 10 menit bicara. Sebagai perbandingan, selembar kertas memiliki ketebalan 100 mikrometer.

Sementara untuk ketahanan di udara, hal itu tergantung dengan seberapa besar tetesan itu. Semakin kecil tetesan sekitar 10 atau 20 mikrometer, semakin kuat dan lama mereka akan bertahan di udara.

Pertama kali cairan menyembur dari mulut, mereka akan perlahan-lahan menyusut sekitar 20 hingga 34 persen dari ukuran aslinya. Hal itulah yang membuat cairan ini jadi lebih lambat jatuh ke tanah, bisa mencapai 8 hingga 14 menit.

Ilustrasi mengobrol Foto: Shutterstock

Sebagai catatan, penelitian ini dilakukan di lingkungan dengan kondisi udara tertutup dan stagnan. Namun tim peneliti berspekulasi droplet bisa jadi bertahan lebih lama di kehidupan sehari-hari, mengingat ada banyak gerakan udara menyebabkan partikel lebih mudah meregang sehingga lebih ringan dan berpotensi menutupi ruang yang luas.

Virus memang menyebar melalui udara di kehidupan nyata. Menurut laporan badan pengendalian dan pencegahan penyakit di AS, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada kasus penularan virus corona yang terjadi pada grup paduan suara. Setidaknya 87 persen dari kelompok itu terinfeksi setelah latihan.

Penelitian ini memperkuat kemungkinan bahwa percakapan face-to-face menjadi salah cara penularan corona.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.