Tekno & Sains
·
29 Mei 2021 16:11
·
waktu baca 2 menit

2 Hujan Meteor Ini Diduga LAPAN Jadi Penyebab Cahaya Hijau di Gunung Merapi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
2 Hujan Meteor Ini Diduga LAPAN Jadi Penyebab Cahaya Hijau di Gunung Merapi (56126)
searchPerbesar
Foto yang viral diduga meteor jatuh di Merapi. Foto: Gunarto Song
Foto kilatan cahaya hijau yang berada di puncak Gunung Merapi ditengarai berkaitan dengan hujan meteor. LAPAN memberikan penjelasan secara lengkap mengenai kilatan cahaya dan fenomena hujan meteor yang sedang terjadi di waktu bersamaan.
ADVERTISEMENT
Peneliti Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN, Andi Pangerang, mengungkapkan foto kilatan cahaya hijau yang diambil oleh fotografer Gunarto Song pada Kamis (27/5) malam pukul 23.07 WIB terjadi berbarengan dengan dua fenomena hujan meteor yang sedang aktif. Sehingga diyakini ketiga peristiwa itu berkaitan satu sama lain.
"Berdasarkan data International Meteor Organization (IMO) yang diakses dari http://imo.net, dalam bulan Mei ini setidaknya terdapat dua hujan meteor yang sedang aktif khususnya ketika cahaya kehijauan tersebut diabadikan dengan kamera pada Kamis (27/5) silam," tulis Andi seperti dikutip dari situs Pussainsa LAPAN.
Hujan meteor sendiri adalah peristiwa meteor yang jatuh dan melewati permukaan Bumi dalam jumlah yang banyak, sehingga bisa dilihat oleh manusia seolah seperti hujan yang turun. Hujan meteor secara singkat dapat terjadi karena meteorit atau batuan-batuan kecil di sekitar orbi Bumi, memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi.
2 Hujan Meteor Ini Diduga LAPAN Jadi Penyebab Cahaya Hijau di Gunung Merapi (56127)
searchPerbesar
Foto yang viral diduga meteor jatuh di Merapi. Foto: Gunarto Song
Menurut Andi, dua fenomena hujan meteor yang terjadi bersamaan dengan munculnya kilatan cahaya di puncak Gunung Merapi adalah Eta Aquarid (031 ETA) dan Arietid (171 ARI). Kedua hujan meteor ini terjadi dalam waktu yang beririsan. Berikut detailnya:
ADVERTISEMENT
  1. Hujan meteor Eta Aquarid (031 ETA), aktif sejak 19 April hingga 28 Mei. Puncak hujan meteor terjadi pada 6 Mei dengan intensitas 50 meteor per jam ketika di Zenit. Kelajuan meteor mencapai 66 kilometer per detik. Hujan meteor ini dapat disaksikan ketika malam hari dengan titik radian (titik kemunculan) berada di dekat konstelasi Aquarius.
  2. Hujan meteor Arietid (171 ARI), aktif sejak 14 Mei hingga 24 Juni. Puncaknya terjadi pada 7 Juni dengan intensitas 30 meteor per jam ketika di Zenit. Kelajuan meteor mencapai 38 kilometer per detik. Hujan meteor ini dapat disaksikan ketika siang hari dengan titik radian berada di dekat konstelasi Aries.

Penyebab muncul kilatan hijau dan perkiraan jatuhnya meteor

Andi menjelaskan, warna pijar meteor yang terbakar sangat tergantung pada kandungan unsur yang mendominasi batuan tersebut. Seperti, warna biru kehijauan (cyan) berasal dari magnesium, warna violet mengandung unsur kalsium, warna hijau yang bersinar ditandai unsur nikel. Sedangkan warna merah, kemungkinan besar dari kandungan oksigen dan nitrogen yang berada di atmosfer Bumi.
ADVERTISEMENT
"Mengingat cahaya yang dipancarkan berwarna kehijauan, besar kemungkinan meteor yang jatuh di sekitar Merapi ini didominasi oleh unsur magnesium," jelasnya.
Lebih lanjut Andi mengatakan jika meteor yang jatuh di Merapi masih menyisakan batuan, diperkirakan memang tidak berada di lokasi tersebut. Dengan metode paralaks, Andi menyebutkan jika masih terdapat batuan, maka sisa meteor akan jatuh di sekitar puncak Merbabu, bukan di Merapi.
2 Hujan Meteor Ini Diduga LAPAN Jadi Penyebab Cahaya Hijau di Gunung Merapi (56128)
searchPerbesar
Benda diduga meteor jatuh di sekitar Gunung Merapi. Foto: Twitter @BPPTKG
"Hal ini ditandai dengan posisi kilatan Cahaya yang nyaris vertikal menjulang ke langit. Kilatan cahaya yang secara visual tidak terlalu besar dan ditambah pula dengan tidak adanya ledakan, diperkirakan meteor yang jatuh tidak terlalu besar, setidaknya berukuran seperti kerikil," tutur Andi.
Peristiwa ini pun tidak ada kaitannya dengan Gerhana Bulan Total yang terjadi satu hari sebelumnya. Fenomena hujan meteor lebih disebabkan oleh tertariknya meteorit yang terpengaruh oleh gravitasi sehingga jatuh dan terbakar.
ADVERTISEMENT
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan tidak ada sinyal yang signifikan dari data kegempaan dan tidak dilaporkan terdengar suara atau terlihat kilatan cahaya dari pos pemantauan Gunung Merapi.
Namun terlepas dari itu, BPPTKG mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi yaitu berupa aktivitas erupsi erupsi ditandai dengan aktivitas pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020