kumparan
5 Juli 2019 19:07

2 Kandidat Gelombang Gravitasi Terdeteksi pada 30 Juni-1 Juli 2019

Ilustrasi Gelombang Gravitasi. (Foto: NASA)
Para peneliti dari Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) dan Virgo mengungkap adanya kandidat gelombang gravitasi yang terdeteksi pada 30 Juni 2019. Hanya berselang satu hari kemudian, tepatnya 1 Juli 2019, kandidat gelombang gravitasi lainnya juga berhasil dideteksi oleh para peneliti tersebut.
ADVERTISEMENT
Gelombang yang terdeteksi pada 30 Juni lalu dinamakan S190630ag. Gelombang ini diperkirakan merupakan hasil tabrakan antara dua lubang hitam yang berjarak sekitar 3 miliar tahun cahaya dari Bumi atau terjadi pada sekitar 3 miliar tahun yang lalu.
S190630ag mempunyai peluang yang baik untuk dinyatakan sebagai gelombang gravitasi. Estimasi adanya gelombang gravitasi palsu hanya kurang dari sekali per 200.000 tahun.
Adapun gelombang yang terdeteksi pada 1 Juli kemarin dinamakan S190701ah. Gelombang ini diperkirakan merupakan hasil penggabungan lubang hitam yang berjarak sekitar 3 miliar tahun cahaya dari Bumi atau terjadi sekitar 3 miliar tahun yang lalu.
Kemungkinan S190701ah untuk dinyatakan benar-benar sebagai gelombang gravitasi lebih kecil dibanding S190630ag. Sejauh ini, sebagaimana dilansir IFL Science, tim peneliti cukup yakin bahwa gelombang yang terdeteksi pada 30 Juni adalah benar-benar gelombang gravitasi. Adapun tingkat keyakinan mereka terhadap gelombang 1 Juli tidaklah sebesar terhadap gelombang 30 Juni.
ADVERTISEMENT
Bagaimanapun, kita baru akan benar-benar tahu apakah kedua gelombang tersebut benar-benar merupakan gelombang gravitasi pada sebulan atau beberapa bulan ke depan.
Jika kamu belum memahami apa itu gelombang gravitasi, kamu perlu tahu bahwa pada tahun 1916 Einstein mengatakan alam semesta merupakan kain empat dimensi, dan di dalam ruang-waktu alam semesta terdapat gelombang-gelombang gravitasi. Lebih lanjut, ilmuwan yang meraih hadiah Nobel Fisika 1921 itu mengatakan bahwa gelombang-gelombang gravitasi merupakan kerut-kerut pada kain empat dimensi tersebut.
Menurut dia, kerutan atau gelombang gravitasi tersebut dapat dihasilkan oleh objek apa pun yang ada di alam semesta yang mengalami perubahan kecepatan dan arah.
Jadi, jika didefinisikan secara sederhana, gelombang gravitasi adalah gangguan atau riak di alam semesta yang bisa dibayangkan sebagai kerut pada kain atau riak yang terbentuk di kolam tenang ketika kita mencelupkan dan menarik jari tangan kita ke dalamnya.
ADVERTISEMENT
Namun, gelombang gravitasi sangatlah misterius sehingga tak seorang pun bisa melihat, mendengar, atau merasakannya. Bahkan saat merumuskan keberadaan gelombang gravitasi, Einstein pun tak yakin apakah gelombang tersebut dapat diamati atau tidak.
Sekitar seratus tahun kemudian, tepatnya pada September 2015, barulah para peneliti LIGO berhasil mendeteksi gelombang gravitasi untuk pertama kalinya. Deteksi tersebut telah membenarkan pernyataan yang sudah diucapkan Einstein seabad lalu, dan membuktikan bahwa gelombang gravitasi ternyata bisa diamati dan dipelajari dengan menggunakan alat tertentu.
Hingga saat ini setidaknya terdapat empat sistem alat pendeteksi gelombang gravitasi, yakni LIGO di Amerika Serikat, Virgo di Italia, GEO600 di Jerman, dan TAMA300 di Jepang.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan