26 September, NASA Tabrak Pesawat Luar Angkasa ke Asteroid Mirip Film Armageddon

24 September 2022 15:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi wahana penabrak asteroid NASA DART. Foto: Dok. ESA
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wahana penabrak asteroid NASA DART. Foto: Dok. ESA
ADVERTISEMENT
NASA sukses meluncurkan pesawat luar angkasa Double Asteroid Redirection Test (DART) untuk ditabrak ke asteroid Dimorphos pada November 2021. Setelah melalui perjalanan jauh, wahana yang menyerupai satelit itu sudah mendekati targetnya dan akan melaksanakan proses 'bunuh diri' pada Senin (26/9) mendatang.
ADVERTISEMENT
Misi DART berguna untuk meneliti dampak hantaman kinetik ke batu luar angkasa, jika sewaktu-waktu ada asteroid yang akan menghantam Bumi.
Ada banyak batuan luar angkasa mengembara bebas di tata surya, mulai dari seukuran kerikil hingga seukuran bus. Asteroid tersebut menyebar dari orbit Merkurius, sabuk asteroid, hingga di pinggir tata surya di sabuk Kuiper.
Di antara asteroid-asteroid tersebut, ada beberapa yang mengelilingi Matahari di jarak yang dekat dengan orbit Bumi, disebut Near Earth Object (NEO). Beberapa NEO ini, berdasarkan permodelan beberapa ratus tahun ke depan, ada yang menampakkan potensi kecil menghantam Bumi.
Dikutip dari data Center of Near Earth Object Studies (CNOS), total ada 23 asteroid NEO yang punya potensi menghantam bumi dari 50 tahun hingga 800 tahun ke depan. Contoh salah satunya adalah asteroid Bennu, yang punya potensi kumulatif 0.057 persen menabrak bumi dari tahun 2178 hingga 2290. Jumlah ini bahkan lebih kecil lagi jika dibandingkan jumlah keseluruhan asteroid NEO, yakni 26 ribu lebih.
ADVERTISEMENT
Film Armageddon dan Deep Impact masuk bioskop pada 1998. Kedua film tersebut sama-sama mengangkat premis malapetaka yang dibawa asteroid, masing-masing berukuran 7 dan 10 kilometer, yang sedang dalam perjalanan menuju Bumi. Di film tersebut, pemegang kepentingan bersama dengan ilmuwan sepakat untuk mengebor asteroid tersebut lalu meledakkan bom atom dari inti batuan.
Foto asteroid Dimorphos ditangkap oleh kamera di badan satelit DART. Foto: NASA
Lalu, bagaimana skenario dunia nyatanya?
Berbeda dengan metode brutal ala kedua film di atas, laporan NASA kepada Kongres AS pada 2007 menulis solusi dari hantaman asteroid adalah memberi hantaman kinetik yang cukup untuk membelokkan lintasan asteroid.
Peneliti pernah menyimulasikan hantaman halus untuk membelokkan asteroid. Sebuah studi yang dipresentasekan di Meteoritical Society pada tahun lalu menyebutkan tim ilmuwan yang dipimpin G. J. Flynn dari SUNY Plattsburgh bereksperimen menghantam sebuah batu meteor dengan senjata api yang dirancang khusus. Mereka menembak batu meteor di ruang vakum untuk menyimulasikan hantaman di luar angkasa.
ADVERTISEMENT
Hasilnya, tidak tentu, tergantung komposisi dari asteroid. Salah satu skenario terburuknya, asteroid bukan belok tapi malah terpecah menjadi fragmen besar yang lebih sulit dikontrol.
NASA membawa riset ‘pertahanan planet’ ini ke tingkat yang lebih jauh. Pada 24 November 2021, NASA meluncurkan wahana satelit DART. Wahana ini akan melaksanakan misi bunuh diri dengan menabrak asteroid dekat Bumi bernama Dimorphos, Bulan dari sebuah asteroid bernama Didiymos.
Lalu, apa yang akan didapat NASA? Setelah menabrak Dimorphos, peneliti menggunakan teleskop di Bumi akan memantau pergeseran orbit Dimorphos.
Ilustrasi satelit DART menghantam asteroid Dimorphos Foto: NASA
Pesawat DART punya dimensi keseluruhan 1.8 × 1.9 × 2.6 m. Ia akan menghantam permukaan Dimorphos dengan kecepatan 21,160 km. Dengan massa total 550 kilogram, ilmuwan mengestimasi hantaman DART akan menghasikan perubahan kecepatan orbit Dimorphos sebesar 1 persen.
ADVERTISEMENT
"Akan ada dampak yang akan mengubah lintasan; akan ada kawah yang terbentuk; dan setelah itu akan ada ejecta yang akan merambat melalui ruang angkasa, dan LICIACube akan memotret ini," jelas Stavro Ivanovski, peneliti di Institut Astrofisika Luar Angkasa dan Planetology Italia.
LICIACube adalah satelit yang berangkat bersama DART, yang tidak ikut menabrak namun bertugas khusus meneliti dampak hantaman DART.
Pergeseran kecil ini akan digunakan untuk mengetahui properti mekanik dari asteroid, dan harapnya, memberi pengetahuan berharga untuk pertahanan planet terhadap serangan asteroid
Dimorphos, si Bulan satelit (moonlet) berukuran 160 meter, dan asteroid induk Dydimos berukuran 780 meter. Duo ini mengitari Matahari di jarak yang cukup dekat dengan Bumi, yakni 1 AU dari Matahari (di titik terdekat) hingga melebihi orbit Mars di titik terjauhnya. Jarak dekat dengan Bumi ini memasukkan Dydimos dan Dimorphos ke daftar NEO, tapi tidak termasuk ke daftar potensial (potentially hazardous).
ADVERTISEMENT