28 Tahun Hilang, Katak Perut Biru Super Langka Ditemukan Kembali

Pada tahun 1993, untuk pertama kalinya seekor katak spesies baru ditemukan di Gunung Busa di provinsi Sarangani dan Cotabato Selatan, Filipina. Namun, setelah itu katak tersebut tidak pernah ditemukan kembali. Ahli herpetologi mengira, spesies katak punah sebelum dipelajari.
Pada tahun lalu, lebih dari seperempat abad sejak katak itu pertama kali terlihat, dua ahli biologi Filipina menemukannya lagi di salah satu cagar alam di selatan pulau Mindanao. Kier Pitogo dan Aljohn Saavedra melaporkan penemuan katak bernama ilmiah Pulchrana guttmani di jurnal Herpetological Notes. Mereka mengatakan, P. guttmani merupakan amfibi paling langka di Filipina, atau bahkan di dunia.
"Meskipun tubuhnya berwarna cerah dan ukurannya besar, ia telah menghindar dari ahli biologi selama beberapa dekade!" ujar Pitogo kepada Mongabay.
“Apa yang membuatnya istimewa adalah kenyataan bahwa mereka satu-satunya katak Filipina yang belum pernah ditemukan lagi dan didokumentasikan sejak pertama kali ditemukan. Jadi, kita bisa menganggapnya sebagai salah satu amfibi paling langka di Filipina.”
P. guttmani pertama kali dijabarkan oleh ahli biologi Rafe Brown dari University of Kansas dalam sebuah penelitian yang terbit di jurnal Herpetologica pada 2015. Brown telah mempelajari spesimen P. guttmani selama lebih dari 20 tahun. Awalnya ia memasukkan amfibi ini ke dalam spesies P. granducola, katak yang lebih umum dijumpai di Filipina.
Adapun katak perut biru pertama kali ditemukan Brown pada 1993, ketika ia melakukan survei untuk mengumpulkan, memeriksa dan mengidentifikasi spesies amfibi di Pegunungan Busa sebelum penebangan besar-besaran terjadi. Pada saat itu, Brown berhasil mengumpulkan lebih dari 90 spesimen P. grandocula.
Katak-katak itu kemudian diawetkan dan beberapa di antaranya disimpan di Filipina, sisanya di Amerika Serikat. Setelah mengindentifikasi lebih lanjut, Brown menemukan satu individu yang berbeda secara morfologis dari P. grandocula.
"Ketika saya pergi ke museum dan memilah-milah semua spesimen, saya menemukan individu dengan nomor tag lapangan yang benar sesuai dengan nomor sampel genetik, saya dapat segera melihat perbedaannya, yang saya lewatkan di lapangan," kata Brown.
Setelah melakukan serangkaian penelitian lebih lanjut, katak tersebut ternyata spesies yang berbeda dari P. grandocula dan ia menuliskan hasil pemeriksaannya pada 2015 di makalah dengan menyematkan nama baru pada spesies katak langka, P, guttmani.
Penemuan kembali katak perut biru
Sejak 2018, Pitago dan Saavedra melakukan penelitian lapangan herpetologis di Pegunungan Busa. Mereka mendata amfibi dan reptil serta bermaksud untuk menemukan spesies katak hilang yang menggugah penasarannya setelah membaca laporan Brown pada 2017.
Melakukan survei lapangan di pegunungan seluas 114.000 hektare bukanlah hal yang mudah. Pegunungan Busa selalu berada di bawah ancaman penambangan, perluasan lahan, dan kegiatan pembalakan liar. Namun, kerja keras Pitago dan Saavedra akhirnya membuahkan hasil. September 2020, P. guttmani yang sulit ditangkap berhasil ditemukan di dekat sebuah sungai di Pegunungan Busa.
“Tubuh berwarna cerah menarik perhatian kami. Setelah diperiksa lebih dekat, kami tahu bahwa yang kami lihat bukanlah P. grandocula tetapi sebenarnya P. guttmani amfibi yang hilang . Itu adalah momen menakjubkan bagi kami. Itulah mengapa terlihat tidak biasa karena katak tersebut adalah spesies amfibi yang sudah lama saya cari,” kata Pitago.
Apa yang membuat katak P. grandocula dan P. guttmani berbeda terletak pada kaki mereka, di mana P. guttmani memiliki kaki yang lebih lebar dan tebal ketimbang P. grandocula.
“Ada lebih banyak lagi yang bisa dipelajari tentang spesies yang sulit ditangkap. Dengan kurangnya studi tentang sejarah alami (P. guttmani), kami hanya dapat menyimpulkan bahwa spesies tersebut hidup di dataran tinggi, sungai yang sulit diakses, dan mungkin memiliki sedikit atau bahkan tidak ada toleransi terhadap gangguan,” tambah Pitago.
Kurangnya informasi dan spesimen menyulitkan peneliti untuk menentukan apakah katak perut biru terancam punah atau tidak. Selain itu, oleh sebab wilayah survei termasuk paling sedikit dipelajari di Filipina, melakukan studi lebih lanjut tentang amfibi langka untuk menetapkan populasi dasar dan status konservasi akan menjadi tantangan.
Peneliti mengatakan, penemuan P. guttmani adalah peringatan bagi Filipina, negara yang hutannya semakin menipis tapi menampung beberapa spesies paling langka di dunia. “Untuk berpikir bahwa P. guttmani dideskripsikan hanya dari satu spesimen, kamu akan tahu betapa mendesaknya situasi untuk spesies ini dan habitatnya,” kata Pitogo. “Lebih penting lagi, ini menunjukkan nasib amfibi Filipina jika kita terus kehilangan tutupan hutan.”
