Kumparan Logo

5 Fakta Mengejutkan soal Tulang Manusia yang Belum Kamu Tahu

kumparanSAINSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tulang manusia. Foto: Historic Royal Palaces
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tulang manusia. Foto: Historic Royal Palaces

Sebagai penyusun rangka tubuh manusia, tak banyak yang mengetahui bahwa tulang adalah jaringan yang hidup. Saat rusak atau patah, tulang mampu memperbaiki dirinya sendiri.

Sepanjang hidup, tulang manusia secara berkala akan mengalami pembentukan kembali. Proses tersebut dikenal dengan sebutan remodelling.

Sebenarnya masih banyak fakta-fakta menarik lainnya mengenai tulang yang mengejutkan dan mungkin belum kamu ketahui.

Berikut ini lima di antaranya, yang dirangkum dari Science Alert.

1. Tidak semua orang memiliki 206 tulang

Di banyak referensi telah disebutkan bahwa tubuh manusia terdiri dari 206 tulang. Namun faktanya, pada bayi yang baru dilahirkan, mereka memiliki lebih dari 300 tulang.

Tulang-tulang tersebut mulanya terdiri dari tulang rawan yang termineralisasi selama beberapa tahun setelah kelahiran. Barulah setelah pertambahan usia, tulang-tulang tersebut melebur sehingga jumlahnya menjadi berkurang.

Beberapa orang juga terlahir dengan jumlah tulang ekstra, misalnya mereka yang memiliki sepasang tulang rusuk ke-13.

Ilustrasi kerangka manusia Foto: pixabay/SpiritBunny

2. Kerangka manusia terus berubah tingginya

Pertumbuhan tinggi badan anak di tahun pertama mereka merupakan proses yang terbilang paling cepat. Lalu, kita baru akan mencapai tinggi tubuh maksimum saat memasuki masa remaja akhir. Setelah tulang kita berhenti tumbuh pun tinggi tubuh kita masih bisa berubah.

Pada sendi, terdapat lapisan tulang rawan yang menutupi tulang. Tulang rawan adalah lapisan jaringan yang terbuat dari air, kolagen, proteoglikan dan sel.

Selama sehari, tulang rawan, terutama di tulang belakang kita, dikompresi oleh gravitasi. Ini berarti bahwa tubuh kita akan lebih pendek pada saat tertidur. Namun setelah kita bangun tidur, tulang rawan dapat kembali ke ukuran aslinya.

Kurangnya gravitasi di ruang angkasa memiliki efek sebaliknya pada astronot yang hingga 3 persen lebih tinggi setelah menjalankan tugas mereka di luar angkasa.

3. Hanya ada satu tulang yang tidak terhubung ke tulang lain

Tidak semua tulang dalam kerangka manusia saling terhubung. Misalnya tulang hyoid. Tulang ini berbentuk tapal kuda yang letaknya di sekitar leher antara dagu dan kartilage thyroid. Fungsinya untuk membantu kita bernapas, berbicara dan menelan makanan.

kumparan post embed

4. Tulang terkecil letaknya ada di telinga

Tulang terkecil dalam tubuh manusia adalah malleus (palu), incus (landasan), dan stapes (stirrup). Secara kolektif, tulang-tulang ini dikenal sebagai ossicles (bahasa Latin untuk "tulang kecil") dan peran mereka adalah untuk mengirimkan getaran suara dari udara ke cairan di telinga bagian dalam.

Tidak hanya tulang terkecil dalam tubuh, tetapi kelompok tulang-tulang tersebut juga merupakan satu-satunya tulang yang tidak mengalami perombakan setelah usia satu tahun. Ini penting, karena perubahan bentuk dapat mempengaruhi pendengaran.

Ossicles juga penting dalam kasus arkeologi dan forensik. Karena mereka terbentuk ketika kita berada di dalam rahim, analisis isotop dapat memberikan petunjuk tentang asupan nutrisi dan kesehatan ibu dalam kerangka dewasa yang tidak diketahui.

5. Tulang bisa menyebabkan stres

Di dalam tubuh manusia, sistem saraf simpatik kita adalah mekanisme di mana tubuh kita mempersiapkan diri untuk aktivitas yang intens. Ini sering disebut respons fight-or-flight dan dikaitkan dengan pelepasan hormon adrenalin sebagai respons terhadap situasi stres.

Namun baru-baru ini, para peneliti menerbitkan sebuah makalah yang mengidentifikasi osteocalcin, hormon yang dilepaskan oleh sel-sel pembentuk tulang, sebagai pemeran kunci dalam merespons stres.

Tikus yang secara khusus dibiakkan tanpa kemampuan untuk memproduksi osteocalcin tidak memiliki respons melawan-atau-lari dalam situasi yang penuh tekanan dibandingkan dengan tikus biasa.

Para ilmuwan juga memeriksa kadar osteocalcin pada manusia, di mana mereka menemukan peningkatan kadar darah dan urine setelah subjek manusia terpapar stres. Pada akhirnya, ditunjukkan bahwa osteocalcin mematikan mekanisme istirahat-dan-pencernaan parasimpatis, yang memungkinkan aktivasi respons fight-or-flight.

Mengingat kita telah lama mengetahui bahwa fungsi fisik kerangka adalah untuk melindungi tubuh - misalnya, tulang rusuk melindungi organ kita yang paling penting - mungkin tidak mengherankan bahwa tulang kita juga memiliki peran fisiologis dalam menjaga kita tetap merasa aman.