5 Mitos soal Sperma yang Terbukti Salah Secara Ilmiah

Pria yang mengeluarkan sperma di kolam renang dapat menyebabkan perempuan yang berada dalam satu kolam bersamanya bisa hamil, meski tidak ada penetrasi seksual. Pernyataan itu datang dari Komisioner KPAI, Sitti Hikmawatty.
Pernyataannya itu menuai sejumlah kritik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Saat dikonfirmasi, ia meminta maaf kepada publik terkait ucapannya tersebut tidak tepat dan bersifat pribadi, bukan sikap resmi lembaga KPAI.
“Saya meminta maaf kepada publik karena memberikan statement yang tidak tepat,” ujar Sitti, dalam pernyataan resmi yang diterima kumparan pada Minggu (23/2).
Peluang kehamilan saat dua orang berlawanan jenis berenang dalam satu kolam yang sama hampir mustahil terjadi secara sains. Hal ini sudah ditegaskan oleh dr. I Made C. Wirawan melalui akun Twitter resminya, @blogdokter.
Laporan Healthline juga menjelaskan, selain sperma harus melakukan perjalanan ke dalam tubuh wanita untuk terjadinya pembuahan sel telur, suhu air juga semakin mempersulit peluang sperma untuk bertahan hidup.
Dalam kolam air panas, misalnya, temperatur air atau bahan kimia yang biasanya dicampurkan ke dalam air akan membunuh sel sperma dalam hitungan detik. Sementara dalam air hangat biasa, sperma dapat hidup hingga beberapa menit saja.
Memang, salah kaprah terkait sperma sudah banyak beredar. Mitos-mitos soal sel reproduksi pria ini pun sebenarnya telah terbantahkan secara ilmiah, namun masih banyak dipercaya sebagai kebenaran. Berikut kumparanSAINS telah merangkum setidaknya lima informasi palsu terkait sperma.
Sperma hanya berenang lurus menuju ovum
Perjalanan sperma menuju sel telur sering dianalogikan sebagai sebuah balapan renang lurus, di mana dari 20 sampai 300 juta sel sperma, hanya satu pemenang yang mampu menembus ovum. Satu sel sperma ini yang membuahi ovum hingga membentuk zigot, cikal bakal janin.
Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, namun satu hal yang perlu dikoreksi bahwa sel sperma tidak selalu berenang lurus. Pergerakan sperma masing-masing bergantung pada motilitasnya, atau kemampuan sperma bergerak secara efisien dalam saluran reproduksi wanita.
Terdapat 3 klasifikasi motilitas sperma. Pertama, motilitas progresif di mana sperma bergerak aktif di jalur lurus atau lingkaran besar. Kedua, motilitas non-progresif, semua pola gerakan kecuali maju. Terakhir, imotilitas atau sperma tidak mampu bergerak sama sekali.
Anggota Komite Biologi Evolusi di University of Chicago, Robert D. Martin menjelaskan di Aeon, rute perjalanan sperma menuju sel telur 'seperti rintangan militer yang menantan'. Bahkan, sperma disebutnya juga butuh sedikit dorongan dari sistem reproduktif perempuan untuk memastikan mereka mencapai garis finis.
Motilitas sperma juga dipengaruhi oleh gerakan otot-otot rahim yang mendorong sperma melaju di sepanjang tuba falopi menuju ovum.
Semakin kental air mani, semakin tinggi tingkat kesuburan sperma
Menurut laporan Healthline, air mani atau semen yang kental tidak selalu berarti mengandung banyak sperma fertil. Kekentalan air mani biasanya menandakan konsentrasi sperma yang tinggi--terlepas dari subur atau tidaknya sperma, serta banyaknya sperma dengan bentuk tidak teratur. Untuk bertahan sebagai sperma yang sehat, ia masih harus dibantu sistem reproduksi wanita.
Ketika sperma memasuki vagina, ia bersentuhan dengan lendir serviks, atau mulut rahim. Lendir serviks memiliki dua fungsi, melindungi dan menghalau sperma. Melindungi dalam artian dari tingkat keasaman vagina, serta menolak sperma dengan bentuk dan motilitas memang tak layak mencapai sel telur.
Sperma tetap subur dan sehat sepanjang hidup pria
Mitos ini menjadi salah satu yang paling tertua di antara mitos lain seputar sperma. Produksi sperma atau spermatogenesis memang terjadi tanpa batas waktu, tetapi kualitas dan motilitasnya menurun seiring bertambahnya usia.
Menurut sebuah studi yang dilakukan tim ilmuwan Islandia dan terbit di jurnal PubMed Central pada September 2017 lalu, pria yang lebih tua cenderung mewariskan mutasi genetik pada anak-anak mereka empat kali lebih cepat dibanding wanita sebayanya.
Celana dalam ketat bahaya untuk produksi sperma
Ada rumor menyebutkan, celana dalam yang ketat mengurangi jumlah sperma. Sementara celana boxer yang lebih longgar tidak mempengaruhinya, karena ia mampu menjaga suhu yang tepat untuk produksi sperma.
Jika melihat dari sisi sains, celana dalam tidak mempengaruhi apapun pada sperma pria. Memang, ada studi ilmiah yang terbit di jurnal Oxford Academic pada September 2018 lalu menemukan, pria yang memakai celana dalam boxer punya jumlah sperma 17 persen lebih banyak dibanding pemakai celana dalam ketat.
Kendati demikian, peneliti juga menekankan, temuan mereka tidak melibatkan variabel lain yang lebih luas, seperti tipe-tipe celana dalam lainnya atau jenis kain celana dalam.
Lagi pula, menurut laporan Healthline, tubuh manusia dapat melepaskan sedikit hormon perangsang folikel penghasil sperma untuk meredam temperatur testis yang memanas.
Cairan praejakulasi tidak bisa menyebabkan kehamilan
Secara biologis, cairan yang keluar dari penis sebelum ejakulasi tidak mengandung sperma. Cairan praejakulasi ini dilepaskan dari penis sebelum air mani. Meski idealnya tidak mengandung sperma, cairan ini bisa saja bercampur dengan sisa sperma yang menempel di uretra, saluran tempat urin, dan air mani dikeluarkan.
Temuan tim peneliti di jurnal PubMed Central pada 2011 mengungkap, 37 persen dari sampel cairan praejakulasi yang diteliti mengandung banyak sperma yang sehat dan motilitasnya baik. Sedangkan riset di jurnal PubMed Central pada 2016 menemukan, setidaknya 17 persen sampel pra-ejakulasi milik 42 pria penuh dengan sperma yang aktif bergerak.
Dengan kata lain, mencabut penis dari vagina sebelum ejakulasi masih memiliki peluang menyebabkan kehamilan. Cairan praejakulasi tetap berpotensi membawa serta sel sperma yang tersangkut di uretra.
