Kumparan Logo

Ada Gumpalan Besar di Bawah Afrika Timur yang Berpotensi Bikin Benua Terbelah

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi benua Afrika. Foto: Jim Vallee/Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi benua Afrika. Foto: Jim Vallee/Shutterstock.

Aktivitas vulkanik dan lempeng tektonik Lembah Rift Afrika Timur (East African Rift System/EARS) kemungkinan besar didorong oleh aktivitas yang jauh di dalam Bumi, ungkap sebuah studi, dimulai dari titik pertemuan inti dan mantel Bumi. Studi ini bertentangan dengan hipotesis bahwa retakan tersebut merupakan hasil dari semburan yang lebih kecil dan dangkal.

Manusia awalnya tak tahu mereka hidup dalam konteks geologi yang unik. EARS yang tengah membelah Afrika menjadi dua benua, adalah sistem retakan benua terbesar di planet ini. Sebagian besar penjelasan untuk peristiwa ekstrem yang terjadi di sana didasarkan pada material mantel naik yang pusatnya berada di bawah Atlantik Selatan. Namun, ada skenario lain, termasuk kemungkinan dua gumpalan yang lebih kecil dan lebih dangkal daripada satu gumpalan besar.

Untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang mendorong EARS, Profesor Fin Stuart dari University of Glasgow dan rekannya menyelidiki rasio isotop gas mulia yang terperangkap dalam magma. Gas mulia dapat mengungkap perilaku di kedalaman Bumi karena di mantel atas, gas tersebut mendapat kesempatan untuk lepas selama miliaran tahun, kehilangan isotop yang lebih ringan.

Di kedalaman mantel yang lebih dalam, rasio tersebut diperkirakan menyerupai rasio saat Bumi terbentuk. Namun, jumlah gas ini biasanya sangat kecil, sehingga kontaminasi dari atmosfer dapat membuat pengukuran tidak akurat.

Untuk meyakinkan hasil studi mereka yang terbit di jurnal Geophysical Research Letters, ahli geologi perlu mengebor jauh ke dalam Bumi, tempat yang tak mungkin terjadi kontaminasi atmosfer. Namun, biaya untuk melakukan pengeboran ini sangat mahal untuk anggaran penelitian sains. Jika pengeboran dilakukan untuk tujuan komersial, di sini lah ahli geologi dapat memanfaatkannya.

video youtube embed

Panas yang dihasilkan oleh sistem retakan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Saat ini, hampir setengah dari tenaga listrik Kenya berasal dari energi panas bumi, dan ada dorongan kuat untuk memanfaatkan lebih banyak lagi, termasuk untuk ekspor.

Sampel dikumpulkan dari area panas Bumi Menengai, bersama dengan beberapa sampel yang diambil dari mata air terdekat yang kemungkinan besar terkontaminasi. Sampel-sampel ini dibandingkan dengan gas yang dikumpulkan di ujung utara EARS di sekitar Laut Merah, dan lebih jauh ke selatan di Malawi.

Dalam setiap kasus, gas-gas tersebut menunjukkan rasio isotop yang sangat mirip, menunjukkan sumber yang sama. Itu bisa jadi kebetulan atau bukti bahwa gas tersebut berasal dari sumber yang sama, menunjukkan bahwa material mantel yang mendorong retakan saling terhubung, alih-alih mewakili gumpalan berbeda.

Selain itu, rasio isotop juga tumpang tindih dengan yang diperoleh dari batuan vulkanik di Hawaii, contoh paling terkenal dari gumpalan mantel dalam. Sebaliknya, gas vulkanik dari Afrika Selatan memiliki sedikit neon-21, dibandingkan dengan neon-22, yang menunjukkan sumber berbeda, mungkin lebih tinggi di mantel tempat gas memiliki lebih banyak kesempatan untuk keluar.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa gumpalan batu panas raksasa dari batas inti-mantel hadir di bawah Afrika Timur, ia mendorong lempeng-lempeng terpisah dan menopang benua Afrika sehingga berada ratusan meter lebih tinggi dari biasanya," kata Stuart dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip IFL Science.

Dengan kata-kata yang lebih ilmiah, makalah yang melaporkan temuan tersebut berbunyi:

"Ini memberikan bukti geokimia yang meyakinkan yang mendukung keberadaan Superplume Afrika dan tampaknya mengesampingkan keberadaan beberapa gumpalan mantel terpisah yang berasal dari wilayah yang berbeda."