Ada Hujan Meteor Perseid Akhir Pekan Ini, Bisa Dilihat di Indonesia?

11 Agustus 2022 9:00
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi hujan meteor Foto: NASA/JPL
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan meteor Foto: NASA/JPL
ADVERTISEMENT
Akhir pekan ini, tepatnya 13 dan 14 Agustus 2022, ada fenomena puncak hujan meteor Perseid. Ia termasuk hujan meteor unggulan dengan frekuensi mencapai 100 meteor per jam.
ADVERTISEMENT
Hujan meteor yang berpusat di rasi bintang Perseus ini berasal dari debris komet komet 109P/Swifts-Tuttle. Meteor masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan mencapai 212.400 km/jam.
Andi Pangerang, peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan hujan meteor Perseid dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena bisa diamati pada pukul 11 malam di Sabang, dan 1 malam di Pulau Rote hingga 25 menit sebelum Matahari terbit.
Dengan ketinggian maksimum titik radiant di Indonesia yang bervariasi antara 20,9 derajat (Pulau Rote) hingga 37,8 derajat (Sabang), intensitasnya berkurang menjadi 36 meteor per jam (Pulau Rote atau yang selintang) hingga 61 meteor per jam (Sabang atau yang selintang).
- Andi Pangerang, peneliti di Pusat Sains dan Antariksa LAPAN-BRIN -
Namun ada kendala dalam menyaksikan fenomena tersebut. Puncak hujan meteor Perseid berdempetan dengan fase Bulan penuh (mulai 12 Agustus 2022). Silau dari Bulan membuat cahaya redup dari meteor lebih susah terlihat.
Hal ini membuat jumlah meteor yang dapat terlihat turun dari maksimal 100 menjadi hanya sekitar 10-20 per jam, menurut astronom NASA Bill Cooke.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
“Sayangnya, puncak Perseid tahun ini akan melihat kemungkinan terburuk bagi pelihat," kata astronom NASA Bill Cooke, yang memimpin Meteoroid Environment Office di Marshall Space Flight Center NASA, Alabama, AS.
“Sebagian besar dari kita di Amerika Utara biasanya melihat 50 atau 60 meteor per jam, tetapi tahun ini, selama puncak normal, Bulan purnama akan menguranginya menjadi 10-20 per jam.”
Ilustrasi hujan meteor. Foto: Geermy/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan meteor. Foto: Geermy/shutterstock
Tentu jumlah ini juga akan dipengaruhi oleh faktor lain seperti tertutup awan dan polusi cahaya.
"Meskipun demikian, Perseid tetap dapat diamati tanpa alat bantu optik (kecuali jika ingin mengabadikannya dalam bentuk citra maupun video," tambah Andi, seperti dikutip di situs web BRIN.
Bulan purnama yang menghalangi penampakan hujan meteor kebetulan adalah Supermoon terakhir di 2022. Supermoon merupakan titik di mana Bulan sedikit lebih dekat ke Bumi—karena bentuk orbitnya yang elips.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, Bulan tampak sedikit lebih besar di langit. Tak hanya itu, Supermoon kali ini juga disebut Supermoon Sturgeon, berdasarkan Old Farmer's Almanac.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020