kumparan
29 Januari 2018 13:22

Adakah Kaitan antara Gempa Bumi di Lebak dengan Bulan Merah Darah?

Bulan Merah Darah Akhir Januari
Bulan Merah Darah Akhir Januari (Foto: Chandra Dyah A/kumparan)
Pada Selasa (23/1), masyarakat Jakarta sempat dihebohkan dengan guncangan gempa berkekuatan 6,1 Magnitudo.
ADVERTISEMENT
Gempa yang berpusat di 81 kilometer barat daya Lebak, provinsi Banten itu juga diikuti oleh beberapa gempa susulan yang guncangannya juga dirasakan oleh penduduk ibu kota.
Kejadian gempa beruntun tersebut cukup berdekatan dengan fenomena gerhana Bulan total alias Bulan merah darah (blood moon) yang akan terjadi pada 31 Januari 2018 nanti.
Selain gerhana Bulan total, pada 31 Januari ini juga akan terjadi fenomena supermoon alias Bulan super dan blue moon alias Bulan purnama kedua yang terjadi di Januari ini. Jadi, ada tiga fenomena yang terjadi berbarengan pada 31 Januari 2018.
Tapi apakah fenomena gerhana Bulan total yang terjadi bersamaan dengan dua fenomena lainnya ini ada kaitannya dengan gempa beruntun yang terjadi di Lebak, Banten?
Kerusakan akibat gempa Banten
Kerusakan akibat gempa Banten (Foto: Dok. BNPB)
Menurut Thomas Djamaluddin, kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), sebenarnya telah ada kajian mengenai hubungan antara gerhana Bulan total dengan pelepasan energi dalam bentuk gempa bumi.
ADVERTISEMENT
Tetapi kajian tersebut masih belum memberikan suatu kesimpulan yang pasti.
"Tetapi memang ini belum konklusif, walaupun beberapa data memang menunjukkan waktu yang berdekatan antara purnama dengan gempa Bumi besar, seperti gempa Aceh yang lalu itu sangat berdekatan dengan purnama," jelas Thomas saat dijumpai kumparan (kumparan.com), Rabu (24/1).
Hal yang sama juga disetujui oleh Dwikorita Karnawati, kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG.) Menurutnya, belum ada penelitian yang mendukung adanya hubungan antara gerhana Bulan total ataupun supermoon dengan gempa Bumi.
"Penelitian sampai hari ini belum bisa melihat itu ada keterkaitan. Belum ada bukti-bukti yang cukup," ujar Dwikorita saat ditemui kumparan, Senin (29/1).
Ia juga menambahkan bahwa BMKG masih terus melakukan kajian dan penelitian atas hal tersebut.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan