Kumparan Logo

Ahli: Jenazah Korban Covid yang Dikubur Bisa Cemari Lingkungan, Kenapa?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan udara seorang penggali kubur berjalan di antara kuburan korban COVID-19 di pemakaman Nossa Senhora Aparecida di Manaus, negara bagian Amazonas, Brasil, pada 29 April 2021. Foto: MICHAEL DANTAS/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan udara seorang penggali kubur berjalan di antara kuburan korban COVID-19 di pemakaman Nossa Senhora Aparecida di Manaus, negara bagian Amazonas, Brasil, pada 29 April 2021. Foto: MICHAEL DANTAS/AFP

Para ahli telah memperingatkan bahaya peningkatan jumlah korban meninggal akibat covid yang dikubur di tanah bagi lingkungan. Di Amerika Serikat contohnya, jumlah orang meninggal akibat penyakit COVID-19 telah mencapai 900.000 orang dan masih akan terus bertambah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di seluruh dunia jumlah kematian akibat corona telah mencapai 5,8 juta orang, di mana jumlah kematian sebenarnya diduga lebih banyak dari angka yang tercatat saat ini dengan perkiraan 20 juta orang meninggal dunia karena Covid.

Artinya, fasilitas pemakaman di setiap negara mengalami lonjakan permintaan lahan kuburan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Ini menimbulkan masalah lingkungan, karena mayat dan proses penguburan tak selalu bersih.

Mayat yang dikubur melepaskan apa yang disebut sebagai lindi kuburan, cairan yang terdiri dari zat organik beracun dan berhubungan dengan kanker. Unsur logam, obat-obatan, dan bahan kimia yang digunakan korban semasa hidup dapat berkontribusi pada kebocoran zat ini.

Sebuah studi pada 2019 menunjukkan bahwa bahan yang terkandung di peti mati juga bisa bocor dan mencemari lingkungan sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Bahan-bahan ini termasuk logam seperti aluminium, besi, dan tembaga.

Sejumlah petugas mengusung peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Rorotan, Jakarta, Kamis (10/2/2022). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Dalam sebuah penelitian lain yang dipublikasikan pada Oktober 2021, para peneliti mencatat dampak lingkungan yang disebabkan oleh mayat membusuk. Mereka menggambarkan, lindi kuburan dapat mengalir ke tanah di sekitar lokasi pemakaman dan berpotensi mencemari sumber air tanah.

“Dapat disimpulkan bahwa tingginya jumlah korban jiwa akibat pandemi COVID-19 juga dapat meningkatkan tingkat kontaminasi di lingkungan pemakaman dan, akibatnya, di lingkungan perkotaan sekitar, terutama untuk menengah hingga kota besar,” tulis peneliti sebagaimana dikutip Newsweek.

Alcindo Neckel, ahli lingkungan dan profesor di School of Architecture and Urbanism di IMED, Brazil, juga melakukan penelitian serupa dan menyimpulkan bahwa kuburan yang dirancang secara vertikal dapat mengurangi pencemaran lingkungan ketimbang kuburan yang dirancang secara horizontal.

“Kuburan perlu punya sistem pembuangan, mirip dengan bagaimana air limbah diolah di daerah pesisir sebelum dilepaskan ke laut. Ini bukan hanya masalah kesehatan masyarakat tetapi juga masalah ekonomi kota yang sedang berkembang,” katanya.

“Pada tingkat ini, orang mati perlahan-lahan meracuni mereka yang masih hidup.”