Ahli: Makan Daging Kelelawar Berisiko Tinggi Timbulkan Penyakit

29 Januari 2020 12:21 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi kelelawar. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelelawar. Foto: pixabay
ADVERTISEMENT
Kebiasaan menyantap kelelawar yang tergolong hewan liar dan eksotis, bukan cuma dilakukan penduduk China. Sebab, hewan yang diduga menjadi sumber virus corona jenis baru atau novel coronavirus (2019-nCoV) itu juga gemar dikonsumsi oleh masyarakat di beberapa wilayah Indonesia.
ADVERTISEMENT
Di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta, daging kelelawar diolah menjadi abon untuk dikonsumsi dan diperdagangkan. Selain sebagai makanan alternatif sumber protein hewani, daging kelelawar dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.
“Kelelawar, sebagian besar dagingnya adalah unsur protein dan memang karena protein itu pula rasanya juga seperti daging protein lain misalnya ayam,” papar dr. Tri Maharani, seorang dokter spesialis pengobatan emergensi dan ahli toksikologi saat dihubungi kumparanSAINS, Rabu (29/1).
Ilustrasi sup kelelawar. Foto: AFP/ROBYN BECK
Menurut Tri, daging kelelawar juga telah menjadi makanan primadona di Sulawesi. Tri pun mengisahkan pengalamannya berkunjung ke Palu, Sulawesi Tengah, pada 2019 lalu. Kala itu, ia disuguhkan paniki, sebuah makanan khas yang dibuat dari daging kelelawar dengan kuah santan pedas.
ADVERTISEMENT
Tri tak menampik, kegemaran masyarakat menyantap hewan liar seperti kelelawar masih dipengaruhi oleh budaya lokal, misalnya seperti yang terjadi di Palu. Selain itu, masyarakat kita percaya, bahwa daging kelelawar akan mendatangkan banyak manfaat kesehatan ketika dikonsumsi.
“Misalnya ada yang bilang makan daging kelelawar bisa menyembuhkan penyakit asma,” kata Tri mencontohkan. Walau bagaimanapun, imbuh Tri, belum ada satu riset pun yang telah membuktikan kelelawar mampu mengatasi jenis penyakit tertentu.
“Secara medis hewan-hewan yang termasuk eksotis seperti ular atau kelelawar ini memang masih membutuhkan riset apakah aman dikonsumsi atau tidak,” ujarnya.
Meski di tengah minimnya riset tentang penyakit zoonosis di Indonesia, Tri memastikan hewan liar seperti kelelawar tetap berisiko lebih tinggi menimbulkan penyakit dibandingkan hewan ternak. Kelelawar sendiri diketahui sebagai reservoir lebih dari 60 penyakit zoonosis yang menginfeksi manusia, hewan domestik, maupun satwa liar.
ADVERTISEMENT
Penyakit zoonosis juga dapat terjadi pada semua tahapan dalam menghasilkan produk pangan asal hewan, baik dimulai dari peternakan saat panen maupun pemotongan, transportasi, tempat penjualan daging, industri pengolahan, hingga sampai pada konsumen.
Menurut Tri, kekhawatiran soal penyakit zoonosis ini telah muncul sejak terjadinya wabah SARS pada 2002 hingga 2003 silam. Studi menyebutkan, virus corona yang menyebabkan SARS berasal dari musang sawit di China bagian selatan.