Ahli Peringatkan Penggunaan Vaksin Pfizer yang Diklaim Ampuh Lawan COVID-19

Pada Senin (9/11), Pfizer mecetak sejarah baru dalam perjuangan melawan pandemi virus corona. Mereka mengumumkan vaksin eksperimental buatannya terbukti ampuh mencegah penularan COVID-19 dalam penelitian yang melibatkan 43.538 orang.
Pfizer mengatakan, vaksin corona yang mereka kembangkan 90 persen efektif mencegah infeksi COVID-19, penyakit yang disebabkan virus corona SARS-CoV-2.
Namun menurut William Haseltine, ahli penyakit menular, ada sejumlah pertanyaan yang belum dijawab oleh Pfizer dan mitranya di Jerman, BioNTech sehingga vaksin buatan mereka masih diragukan. Salah satunya adalah data yang mendasari klaim kemanjuran vaksin tersebut.
Sebelumnya, Haseltine juga telah mengkritik Moderna, produsen pembuat vaksin corona yang menggembar-gemborkan hasil studi vaksin corona yang menjanjikan tanpa menyertakan data rinci. Begitupun dengan Pfizer, Haseltine mengatakan bahwa dalam rilis hari Senin (9/11) yang mereka keluarkan, Pfizer tidak menyertakan data rinci.
Analisis vaksin Pfizer hanya didasarkan pada 94 kasus COVID-19 di antara peserta, namun Pfizer tidak membagikan rincian pasti tentang berapa banyak peserta yang sakit akibat mendapatkan vaksin Pfizer ketimbang plasebo. Rilis juga tidak menjelaskan berapa banyak kasus yang mengalami gejala parah atau ringan, termasuk bagaimana efektivitas vaksin terhadap kelompok usia rentan.
Haseltine sendiri adalah mantan profesor kedokteran Harvard yang mendirikan dua pusat penelitian yang berfokus pada HIV/AIDS dan kanker di Harvard. Ia juga seorang ahli virologi dan penyakit menular.
Sekarang Haseltine menjabat sebagai ketua Access Health International. Ia juga mendirikan dan memimpin beberapa perusahaan bioteknologi, termasuk Human Genome Sciences yang telah dibeli GlaxoSmithKline.
“Ini adalah berita yang disambut baik karena vaksin memiliki efek positif. Tapi, masih banyak yang harus dipelajari tentang vaksin Pfizer karena ada banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab,” ujar Haseltine.
Uji coba vaksin Pfizer dirancang untuk membandingkan berapa banyak orang yang mengalami gejala corona setelah diberi vaksin corona dan plasebo. Tapi studi tidak menjawab apakah vaksin ini mampu mencegah infeksi serta penyakit.
Studi vaksin Pfizer yang sedang berlangsung juga tidak secara teratur menguji para peserta untuk mengukur infeksi tanpa gejala. Itu artinya, orang yang divaksinasi ada kemungkinan bisa menjadi orang tanpa gejala dan tanpa sadar menyebarkan virus ke orang lain. “Itu adalah poin utama yang menurut saya tidak disukai kebanyakan orang,” kata Haseltine seperti dikutip Science Alert. “Itu tidak mengakhiri epidemi.”
Haseltine juga mempertanyakan apakah vaksin dapat mengurangi gejala berat yang berimplikasi pada jumlah rawat inap dan kematian. Akhirnya, rilis Pfizer tidak menyebutkan apakah vaksin efektif pada sub kelompok berbeda, seperti orang tua yang lebih rentan terhadap hasil terburuk dari virus.
