kumparan
14 Maret 2019 7:16

Akibat Oral Seks, Seorang Perempuan Kena Alergi Berbahaya

Ilustrasi seorang perempuan sedang mengalami perut kembung
Ilustrasi seorang perempuan sedang mengalami sakit. Foto: Shutterstock
Seorang perempuan di Spanyol mengalami reaksi alergi berbahaya setelah dirinya melakukan oral seks. Menurut laporan, reaksi alergi perempuan berusia 31 tahun itu dipicu oleh cairan semen pasangannya.
ADVERTISEMENT
Perempuan yang namanya dirahasiakan itu mengalami gatal-gatal, muntah-muntah, dan kesulitan bernapas setelah melakukan oral seks. Dia didiagnosis mengalami anafilaksis, reaksi alergi tinggi terhadap senyawa yang masuk ke dalam tubuh, suatu kondisi yang juga bisa mematikan.
Menurut laporan kasus kesehatan di BMJ Case Report, si perempuan hanya punya alergi terhadap penisilin. Saat itu, dia sedang tidak menggunakan obat-obatan tertentu atau memakan sesuatu yang mungkin bisa memicu reaksi alergi tersebut.
Ilustrasi obat.
Ilustrasi amoxicillin. Foto: Brett_Hondow via Pixabay.
Ternyata pasangan prianya, yang namanya juga dirahasiakan, sedang menggunakan obat antibiotik mengandung penisilin. Menurut Live Science, pria berusia 32 tahun itu sedang menggunakan antibiotik amoxicillin untuk mengobati infeksi telinganya.
Para penulis studi kasus ini menduga kuat bahwa reaksi alergi dipicu amoxicillin yang terkonsentrasi di semen pasangan si perempuan. Perempuan itu kemudian terpapar oleh senyawa tersebut saat melakukan oral seks.
ADVERTISEMENT
"Penyebab tak biasa dari anafilaksis pada perempuan ini adalah reaksi alergi terhadap cairan mani," papar tim dokter dari Hospital General Universitari d’Alacant dalam studi kasusnya.
"Reaksi alergi saat seks bisa terjadi pada perempuan ketika alergen (penyebab alergi) muncul pada konsentrasi kecil di dalam cairan mani pasangannya," tambah mereka.
Meski begitu, reaksi alergi terhadap cairan mani terbilang langka. Tapi kejadian serupa pernah dilaporkan sebelumnya. Uniknya, menurut para ahli, ini adalah kejadian pertama reaksi alergi terhadap amoxicillin yang muncul pada seorang perempuan setelah melakukan hubungan seks dengan pria pengguna obat tersebut.
Ilustrasi sperma
Ilustrasi sperma. Foto: pixabay
Para ahli berharap setiap orang bisa menyadari risiko transfer alergen melalui cairan semen."Sebagai ahli klinis kami berharap bahwa setiap orang menyadari fenomena ini dan bisa mencegah reaksi berbahaya pada pasien yang sensitif," jelas Susana Almenara, pemimpin riset, sebagaimana dilansir IFL Science.
ADVERTISEMENT
"Kami juga merekomendasikan penggunaan kondom saat berhubungan ketika sedang menggunakan obat-obatan yang bisa memicu kondisi alergi pada pasangan," tambah dia.
Sementara itu, kondisi si perempuan dilaporkan telah membaik. Setelah diberi obat, dalam kurun enam jam napasnya kembali normal. Seminggu setelah masuk rumah sakit, si perempuan akhirnya pulih dari sakitnya itu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan