Amfibi Terbesar Dunia Nyaris Punah Akibat Dikonsumsi Manusia

Hewan amfibi terbesar dunia, salamander raksasa China atau Andrias davidianus, dilaporkan nyaris punah. Hewan yang bisa memiliki berat hingga 63 kilogram dan panjang 1,7 meter itu nyaris punah akibat banyak diburu untuk dijadikan makanan dan obat-obatan di China.
Laporan ancaman terhadap hewan yang sebenarnya memiliki peran penting dalam kebudayaan China selama berabad-abad itu dipaparkan dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Current Biology.
Salamander tersebut sekarang banyak digunakan dalam obat-obatan China dan dagingnya mulai dikonsumsi manusia. Bahkan dilaporkan Newsweek, salamander itu dianggap sebagai kuliner lezat di sana.
Hal tersebut kemudian menyebabkan tingkat permintaan daging salamander itu jadi sangat tinggi, suatu hal yang kemudian membuat salamander tersebut banyak diburu di alam liar. Padahal di China sendiri telah ada aturan yang melarang perburuan atas salamander itu.

Hasil Survei Populasi yang Mengkhawatirkan
Para peneliti dari Zoological Society of London (ZSL) dan Akademi Sains China Kunming Institute of Zoology (KIZ) telah melakukan survei mendalam terhadap kehidupan liar di China untuk mempelajari kondisi salamander tersebut.
Dalam survei yang dilakukan selama empat tahun itu, para peneliti telah menginvestigasi 97 situs di 16 provinsi yang ada di China. Temuan mereka menunjukkan, populasi dari beberapa jenis spesies salamander raksasa China yang dulunya dianggap tersebar luas, sekarang ini secara signifikan telah berkurang atau bahkan mungkin benar-benar hilang.
"Setelah survei selama empat tahun, kami hanya menemukan salamander raksasa pada empat situs saja, dan berdasarkan analisis genetika, salamander itu kemungkinan merupakan hewan yang kabur dari peternakan salamander, bukan benar-benar salamander liar," ujar Samuel Turvey, peneliti ZSL dan juga anggota tim studi ini, dikutip dari Newsweek.
"Kami juga tidak dapat menemukan adanya salamander raksasa di tempat survei lokal kami di China. Hal ini menunjukkan bahwa spesies tersebut mengalami suatu kemunduran parah dan sekarang berada dekat dengan kepunahan di alam liar," tambahnya lagi.
Selain itu, Turvey juga menjelaskan bahwa dalam dua dekade terakhir salamanderi telah menjadi bahan makanan mewah dan banyak diternak dalam skala besar di seluruh China. Menurutnya, hal itu jugalah yang mendorong terjadinya perburuan liar pada salamander tersebut.

Dianggap Fosil Hidup
Salamander raksasa China sempat dianggap sebagai "fosil hidup" karena selama lebih dari 170 juta tahun spesies itu hanya sedikit sekali mengalami perubahan.
Dalam studi lain yang juga dipublikasikan dalam jurnal Current Biology, ditemukan bahwa salamander raksasa China tak hanya terdiri dari satu spesies saja.
Ada kemungkinan salamander itu memiliki lima atau delapan spesies berbeda, yang besar kemungkinan beberapa di antaranya telah punah di alam liar.
Upaya Konservasi
Kementerian Agrikultur China sebenarnya telah berusaha melakukan upaya konservasi terhadap salamander tersebut. Mereka mengajak masyarakat untuk melepaskan salamander raksasa yang ada di peternakan ke alam liar. Namun para peneliti berpendapat, hal tersebut malah membuat salamander berada pada risiko yang berbahaya.
Para peneliti menyatakan, melepaskan salamander tanpa memperhatikan perbedaan genetikanya justru dapat menyebabkan tersebarnya penyakit dan terjadinya percampuran genetika.
Turvey sendiri berpendapat, cara lain untuk menolong salamander raksasa China adalah dengan memperkuat aturan mengenai perlindungan. Selain itu, diperlukan juga arahan bagi peternakan salamander di China dalam mengembangbiakkan salamander yang ada, dengan fokus upaya perlindungan hewan tersebut.
"Pengembangbiakkan salamander harus difokuskan ke arah konservasi, demi menjaga genetika dari tiap spesies salamander yang ada," tegasnya.
