Apa itu Virus Langya yang Menginfeksi 35 Orang di China?

11 Agustus 2022 13:09
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi virus Langya. Foto: CI Photos/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus Langya. Foto: CI Photos/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Belum selesai COVID-19, ilmuwan melaporkan kasus 35 penduduk China tepatnya dari provinsi Shandong dan Henan positif terinfeksi virus Langya. Bernama lengkap Langya henipavirus (LayV), virus ini tercatat belum pernah menginfeksi manusia sejak pertama kali ditemukan pada 2018 lalu.
ADVERTISEMENT
Laporan tersebut ditulis di sebuah jurnal ilmiah New England Journal of Medicine per 4 Agustus 2022 lalu. Peneliti menulis sembilan pasien positif di antaranya tidak memiliki gejala alias asimpomatik.
Sementara sisanya mendapat gejala seperti demam, kelelahan dan batukm sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, mual, dan muntah. Kelelahan adalah gejala yang paling umum.
Berdasarkan pantauan pasien di China ditemukan bahwa virus juga menyebabkan jumlah sel darah putih lebih rendah pada pasien yang terinfeksi, serta gangguan hati dan penurunan fungsi ginjal. Namun tidak ada gejala yang benar-benar fatal ataupun korban meninggal dari pasien-pasien tersebut.
Ilmuwan melakukan survei serogical untuk melihat penyebaran virus ini di hewan-hewan lain. Peneliti menemukan virus Langya pada mamalia lain seperti anjing dan kambing dengan tingkat yang rendah.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Namun infeksi tertinggi ada pada Celurut (sejenis tikus mondok), sehingga ada indikasi bahwa spesies ini merupakan host utama dari virus Langya, seperti yang diungkap Wakil Direktur CDC Taiwan Chuang Jen-Hsiang.
Ilustrasi tikus Celurut (Shrew), yang dicurigai adalah host virus Langya. Foto: Rudmer Zwerver/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tikus Celurut (Shrew), yang dicurigai adalah host virus Langya. Foto: Rudmer Zwerver/Shutterstock
Virus ini berasal dari hewan lalu pindah ke manusia —disebut juga zoonosis. Dari kasus di atas ilmuwan mempelajari bahwa pasien terinfeksi tidak ada yang menjalin kontak erat sebelumnya, sehingga disimpulkan virus ini menyebar secara sporadik.
Namun CDC Taiwan mengingatkan bahwa potensi penyebaran manusia ke manusia masih belum bisa diabaikan.
Wakil Direktur CDC Taiwan Chuang Jen-Hsiang mengatakan dalam konferensi pers pada Minggu (7/8) bahwa lembaganya bekerja untuk membuat tes untuk menguji dan menguraikan genom virus. Ini penting untuk langkah monitoring penyebaran virus.
ADVERTISEMENT
Bersama dengan Dewan Pertanian China, mereka juga telah mencoba mengidentifikasi apakah virus ditemukan memang berasal provinsi Shandong dan Henan, atau kiriman.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020