Kumparan Logo

Apa yang Akan Terjadi jika Bumi Mendadak Berhenti Berputar?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bumi. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bumi. Foto: Pixabay

Sudah sejak lama umat manusia tahu bahwa Bumi yang kita pijak berputar dengan sangat cepat. Perputaran Bumi menyebabkan terjadinya siang dan malam, berperan penting dalam pasang surutnya air laut. Tanpa pasang surut air laut, kehidupan di Bumi tidak akan pernah ada.

Namun, apa jadinya jika Bumi berhenti berputar? Jawaban singkatnya, itu akan menjadi akhir dari seluruh kehidupan di dunia. Untuk mengetahui lebih jelas, mari kita bahas tentang apa yang akan terjadi jika Bumi tiba-tiba berhenti berputar.

Taruhlah kamu sedang berjalan di sebuah pantai, menyusuri pasir dan deru ombak di sepanjang garis khatulistiwa. Bumi yang kamu pijak berputar ke arah timur dengan kecepatan 1.674 km per jam. Ketika Bumi berhenti berputar, kamu akan terlempar.

Awalnya kamu akan terbang ke arah timur dengan kecepatan 1.674 km per jam. Di mana pun kamu mendarat, baik di laut maupun di darat, kekuatan benturan akan membunuhmu.

“Air juga akan merasakan percepatan yang tiba-tiba ini,” kata Joseph Levy, profesor geosains Bumi dan lingkungan di Colgate University. “Jadi kamu akan melihat lautan bergejolak sebelum kamu bertabrakan. Pepohonan dan bangunan juga tak akan aman, meski berakar di dalam tanah”

Artinya, seluruh makhluk hidup dan benda termasuk rumah dan gedung yang berpijak di Bumi akan terlempar dengan kecepatan yang sangat dahsyat. Wilayah yang mungkin mengalami kondisi lebih baik adalah Antartika. Ini karena di dekat Kutub, sumbu rotasinya jauh lebih kecil sehingga kecepatan rotasi juga jauh lebih kecil. Tapi ini juga tidak menjamin kamu akan selamat.

Ilustrasi rotasi inti bumi. Foto: NASA

Bagaimana jika Bumi berhenti secara bertahap?

Levy mengatakan, dalam sistem alam sebenarnya tidak ada yang benar-benar berhenti secara instan. Ketika putaran Bumi melambat dalam hitungan hari atau minggu, dampak yang paling dirasakan adalah manusia tidak akan bisa pergi ke luar angkasa.

Namun, ketika Bumi benar-benar berhenti, masalah belum usai. Sepanjang tahun Bumi mengorbit Matahari, separuh planet akan berada dalam kondisi malam, dan separuh lagi dalam kondisi siang. Alih-alih pergantian siang dan malam terjadi selama 12 jam, satu hari bisa berlangsung selama enam bulan. Sinar Matahari tanpa henti akan terus membakar tanaman dan menguapkan air di separuh Bumi.

Sementara bagian Bumi yang diterpa malam selama enam bulan juga tidak kalah buruknya. Kurangnya paparan sinar Matahari akan membuat tanaman mati tak tersisa, dan air berubah menjadi es.

Bagian Kutub mungkin tidak akan terlalu buruk untuk dihuni karena sinar Matahari akan terasa jauh lebih redup. Namun, kamu harus terbiasa dengan gaya hidup nomaden, kamu harus selalu mengejar di mana sinar Matahari berada. Kamu juga harus menghadapi cuaca yang tak terduga.

Levy mengatakan, di Bumi yang berputar sebagian besar radiasi Matahari mengenai ekuator. Secara umum, udara hangat naik di atas garis khatulistiwa dan turun mendingin ke Kutub Selatan. Arus laut mengikuti siklus pasang surut. Namun ketika hanya separuh planet yang mendapat sinar Matahari intens selama berbulan-bulan, Bumi akan mengalami gradien suhu kedua yang membuat prediksi cuaca menjadi dua kali lebih rumit.

Yang pasti, saat Bumi berhenti berputar, kehidupan tidak lagi seindah yang kita bayangkan. Semuanya akan bergerak pada kehancuran dan ketidakstabilan. Ini menandakan bahwa Bumi kita telah didesain dengan sangat sempurna, dan sampai saat ini tidak ada planet yang lebih layak huni dibandingkan Bumi.