Kumparan Logo

Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Berpuasa?

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Buka Puasa Bersama di India Foto: Reuters/Cathal McNaughton
zoom-in-whitePerbesar
Buka Puasa Bersama di India Foto: Reuters/Cathal McNaughton

Sebentar lagi umat Muslim akan menyambut bulan suci Ramadhan. Di bulan itu, umat Muslim akan berpuasa selama 30 hari berturut-turut. Kedengarannya memang berat, tapi ada manfaat kesehatan dibalik menahan lapar dan haus saat berpuasa.

Berpuasa dengan teratur bisa membantu mengurangi risiko penuaan pada sel tubuh. Ini karena tubuh jadi tidak sering memproduksi insulin. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD.

“Puasa dari aspek medis itu baik. Karena kalau kita sering makan banyak, tubuh manusia itu semakin tua. Karena kalau kita sering makan, ada insulin yang terus keluar,” ungkapnya di acara "Waspada Hipoglikemia Saat Berpuasa", Jakarta (26/4).

“Kalau orang rutin berpuasa, maka tidak selalu memicu insulin keluar. Kalau insulin terlalu tinggi dan terlalu dipicu, dapat merangsang hormon growth factor. Nah, itu yang memicu sel itu tumbuh, tetapi kalau picuannya terlalu keras, juga bisa membuat sel itu mati atau tua,” tutur Ketut.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD. Foto: Alfadillah/kumparan.

Menurut Ketut, inilah gunanya berpuasa rutin. Ia mengatakan bahwa berpuasa rutin akan membuat insulin di tubuh tidak sering dipicu terlalu tinggi.

Ketut menjelaskan bahwa insulin bertugas membawa glukosa masuk ke otot. Glukosa ini kemudian disimpan ke dalam hati. Pada saat kita berpuasa atau tidak makan, hormon insulin akan menjadi rendah.

Insulin dibutuhkan tubuh Foto: Thinkstock

Untungnya, ketika insulin rendah, ada hormon lain yang menggantikan tugasnya. Itu adalah hormon glukagon. Menurut Ketut, hormon itu akan membongkar cadangan gula, terutama di hati, untuk menjaga kadar gula dalam darah.

“Kalau kita tidak makan seharian, tidak masalah, karena ada glukagon tadi,” kata Ketut.

Menurut Ketut, penting untuk menjaga kadar gula dalam darah. Karena saat kadar gula darah menurun, tubuh akan mengeluarkan hormon epinefrin atau adrenalin.

“Jadi kalau drop (gula darah) adrenalinnya dikejut. Nah, adrenalin ini memicu jantung lebih berdebar. Kalau (orangnya) ada kelainan jantung, ini berpotensi (menyebabkan) serangan jantung dengan kadar hipoglikemia. Itu yang berbahaya menyebabkan serangan jantung di tingkat ekstrem,” jelas dia.

Hipoglikemia adalah gangguan kesehatan yang terjadi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah normal. Gejalanya adalah jantung berdebar, gemetar, kelaparan, keringat dingin, cemas, lemas, sulit mengontrol emosi, sulit konsentrasi, dan kebingungan.

embed from external kumparan