Kumparan Logo

Apakah Air Hujan Bisa Diminum?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Hujan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hujan. Foto: Shutterstock

Indonesia sebagai negara yang berlokasi di garis khatulistiwa, diberkahi dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Mungkin rasanya agak sayang jika air hujan yang jatuh dari langit dibiarkan mengalir ke irigasi begitu saja, bukan?

Jika kamu pernah mencicipi air hujan, mungkin kamu tahu bahwa air hujan tidak punya cita rasa yang berbeda di lidah. Lantas, apakah air hujan aman diminum?

Jawaban, tidak. Sebab, air hujan yang belum disaring, punya kandungan bakteri, virus dan kandungan kimia yang berbahaya bagi tubuh. Jika air hujan dikumpulkan dari atap, maka ada kontaminasi kotoran burung yang ikut mencemari air. Belum lagi logam berat jika atap atau genteng berkarat.

Jika air hujan dikumpulkan di tangki terbuka, akan ada lagi pencemaran organik seperti serangga mati dan daun.

CDC AS tidak merekomendasikan masyarakat untuk mengumpulkan air hujan kecuali untuk tujuan lain seperti menyiram tanaman. Untuk penggunaan lain air hujan, mulai dari mandi, cuci, hingga minum, CDC menyarankan untuk menerapkan proses tambahan, mulai dari penyaringan, desinfeksi kimia, hingga merebusnya.

Ilustrasi Hujan. Foto: Shutterstock

Namun kualitas air seluruh dunia serempak turun kualitasnya setelah ditemukannya kandungan “kimiawi abadi”, alias perfluoroalkyl (PFAS). Studi yang dipublikasikan awal Agustus kemarin, membuktikan bahwa sampel air hujan dari beberapa titik di penjuru Bumi mengalami kenaikan kandungan PFAS, kelompok senyawa yang menyusun material seperti panci anti lengket.

Kenaikan kandungan PFAS ini melebihi batas aman yang ditetapkan US Environmental Protection Agency, sehingga menambah bahaya meminum air hujan secara langsung.

Selain ditemukan sebagai bahan penyusun material anti lengket, PFAS juga ditemukan dengan mudah di dalam kemasan atau barang yang dibuat manusia, seperti kemasan makanan, sampo, dan pakaian.

Mereka dikenal sebagai ‘bahan kimia abadi’ karena tidak terurai di lingkungan. PFAS dapat menyebar di atmosfer dan sekarang bisa ditemukan di setiap sudut Bumi, termasuk air hujan, tanah, udara, salju, bahkan darah manusia. Karena jumlahnya yang sangat banyak, para ilmuwan bilang “tidak ada ruang aman di Bumi untuk menghindarinya”.

“Meski kita tidak sering minum air hujan, tapi banyak orang di seluruh dunia berharap air itu aman untuk diminum dan memasok banyak sumber air minum yang kita konsumsi,” kata Ian Cousins, penulis utama studi dan profesor ilmu lingkungan di Stockholm University sebagaimana dikutip USA Today.

Kesimpulannya, apakah air hujan bisa diminum? Tidak.