Kumparan Logo

Apakah Pasien Sembuh COVID-19 Bisa Tertular Virus Corona Lagi?

kumparanSAINSverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Turis mengenakan masker pelindung di tengah kekhawatiran penyebaran coronavirus novel COVID-19 di kawasan Pyramide du louvre di Paris. Foto: STEPHANE DE SAKUTIN / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Turis mengenakan masker pelindung di tengah kekhawatiran penyebaran coronavirus novel COVID-19 di kawasan Pyramide du louvre di Paris. Foto: STEPHANE DE SAKUTIN / AFP

Seiring dengan bertambahnya jumlah kasus virus corona di berbagai negara, laporan pasien yang berhasil pulih dari SARS-CoV-2 juga semakin banyak. Terakhir, Vietnam melaporkan bahwa seluruh pasien di negaranya berhasil sembuh dari penyakit COVID-19 yang disebabkan virus corona tersebut.

Namun, yang jadi pertanyaan, apakah pasien yang telah sembuh dari COVID-19 berpotensi tertular lagi? Jawabannya adalah “ya”, menurut Zhan Qingyuan, Direktur Pengendalian Penyakit Menular dari Rumah Sakit Persahabatan China- Jepang.

Zhan mengatakan orang-orang yang telah terjangkit virus corona akan mengembangkan antibodi. Namun, mereka tetap harus waspada dengan menjaga kondisi tubuh agar tidak kembali terinfeksi.

Pasien gejala virus corona atau COVID-19 bermain laptop dan handphone di rumah sakit darurat pusat pameran di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/STR

"Antibodi mungkin tidak bertahan lama, jadi masih ada risiko pasien yang pulih ini akan terinfeksi lagi," kata Zhan, dalam konferensi pers pada Jumat (31/1), seperti diberitakan South China Morning Post.

Pasien yang telah pulih memang diperbolehkan untuk kembali beraktivitas, namun Zhan menyarankan agar mereka menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang, misalnya, melakukan hobi menari secara berkelompok.

Senada dengan Zhan, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Ketua Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia dan Guru Besar Universitas Indonesia, mengatakan bahwa seseorang yang sembuh dari COVID-19 belum tentu menjadi kebal terhadap virus SARS-CoV-2. Risiko terpapar kembali virus corona masih mungkin terjadi.

Warga Iran mengenakan masker untuk mencegah tertularnya virus corona, saat beraktivitas di Teheran, Iran. Foto: WANA/Nazanin Tabatabaee via REUTERS

“Belum bisa dikatakan demikian (kebal terhadap virus). Mereka yang sembuh akan terbentuk kekebalan atau antibodi setelah terkena infeksi, tapi belum dapat dipastikan tidak tertular lagi, kemungkinan terkena re-infeksi masih mungkin terjadi,” ujar Prof Iris, saat dihubungi kumparanSAINS, Kamis (5/3).

Ia menjelaskan, pada dasarnya kekebalan tubuh manusia bersifat dinamis, bisa naik dan turun. Imunitas seseorang dipengaruhi oleh usia, nutrisi, vitamin, mineral, hormon, olahraga, dan emosi.

Secara sederhana imun tubuh bisa dikatakan memiliki memori, di mana ketika seseorang berhasil sembuh dari COVID-19, tubuh akan mengingat cara melawan virus yang sebelumnya masuk. Meski begitu, memori tersebut dapat berkurang. Terlebih tidak pasti sampai kapan antibodi yang baru terbentuk itu bisa bertahan.

kumparan post embed

Menurut Prof Iris, seseorang bisa saja kembali terkena COVID-19, walau gejala yang ditimbulkan tidak seberat sebelumnya.

“Bila sistem imun baik, mungkin gejala penyakit tidak seberat sebelumnya, tetapi tetap terkena. Bila sistem imun kurang, bisa terjadi sakit parah. Jadi masih berpotensi tertular,” ujarnya.

Maka dari itu, kata Prof Iris, bagi pasien yang telah sembuh ada baiknya untuk tetap berhati-hati dan menjaga kondisi tubuh tetap prima. Sebab, sistem kekebalan tubuh sangat berperan penting dalam memerangi virus yang menjangkiti tubuh manusia.