Arkeolog Temukan Permainan Congklak Berusia Ribuan Tahun

9 Februari 2024 16:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Papan Mancala atau congklak berusia ribuan tahun yang ditemukan di Kenya.  Foto: Verocina Waweru/Yale University
zoom-in-whitePerbesar
Papan Mancala atau congklak berusia ribuan tahun yang ditemukan di Kenya. Foto: Verocina Waweru/Yale University
ADVERTISEMENT
Arkeolog dari Yale University di Kenya berhasil menemukan 'papan' permainan congklak kuno berusia ribuan tahun yang terbuat dari batu.
ADVERTISEMENT
Permainan congklak itu ditemukan ketika peneliti yang merupakan direktur studi sarjana di Dewan Studi Afrika di Yale’s MacMillan Center, Verocina Waweru, menerima informasi ada turis memindahkan kapak batu dari situs prasejarah di cagar alam satwa liar tempat dia melakukan kerja lapangan, tepatnya di sebuah lokasi di sepanjang khatulistiwa di dataran tinggi tengah Afrika Timur.
Informasi penjarahan itu membuat Waweru bergegas ke lokasi kejadian dan secara tidak sengaja justru menemukan deretan lubang dangkal yang dipahat dalam tebing batu.
Waweru yakin lubang tersebut digunakan orang-orang zaman dulu untuk memainkan Mancala, sebuah permainan papan yang dimainkan secara bergiliran oleh dua pemain. Kalau di Indonesia, nama permainan ini disebut congklak.
Congklak dimainkan menggunakan batu kecil, kacang-kacangan, biji-bijian, kerang, atau kelereng. Benda-benda tersebut ditempatkan dalam barisan lubang di papan yang terbuat dari berbagai macam bahan, atau bisa juga pakai lubang dari tanah atau batu.
ADVERTISEMENT
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa Mancala memang sudah dimainkan sejak ribuan tahun lalu. Salah satu bukti tersebut ditemukan di situs arkeologi Mesir kuno, serta beberapa negara di Afrika.
Sejumlah siswa bermain congklak. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Waweru menemukan sekitar 20 papan permainan bergaya Mancala dengan usia berbeda di situs Kenya. Beberapa lubang yang diukir pada batu cukup untuk menyimpan segenggam batu, sedangkan lubang lainnya sudah terkikis sehingga menjadi sangat dangkal. Ini menunjukkan beberapa lubang memiliki usia lebih tua dari yang lain.
“Itu adalah lembah yang penuh dengan papan permainan, seperti congklak kuno,” kata Waweru sebagaimana dikutip Newsweek.
Namun, berapa lama tepatnya papan congklak itu dibuat masih menjadi misteri. Situs Kenya sendiri terletak di dalam cagar alam swasta yang berada di daratan rendah dikelilingi oleh daratan tinggi. Air mengalir ke cekungan dari daratan tinggi tersebut.
ADVERTISEMENT
“Selalu ada sumber air di sana,” kata Waweru. “Itu mungkin menjadi alasan mengapa nenek moyang manusia purba datang ke sana. Tempat ini telah dihuni berulang kali sepanjang waktu. Dalam 10.000 tahun terakhir, orang-orang ini bermain Mancala di sana.”
Sejumlah siswa bermain congklak. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Menentukan usia papan congklak merupakan tantangan. Ini karena batu tempat papan itu diukir berusia sekitar 400 juta tahun. Namun peneliti mengatakan, masyarakat modern di wilayah tersebut cenderung memainkan permainan seperti Mancala ketika mereka sedang menggembala.
“Mungkin itulah yang mereka lakukan,” katanya. “Orang-orang lebih memandang kehidupan awal sebagai sesuatu yang brutal, buruk, dan singkat. Tapi mungkin hidup tidak melulu tentang itu.”
Lebih lanjut Waweru bilang, masyarakat penggembala sudah ada di wilayah tersebut paling awal sekitar 5.000 tahun lalu, dan mencatat bahwa bebatuan di situs menunjukkan tanda-tanda bekas digunakan untuk mengasah pisau.
ADVERTISEMENT
“Jika mereka mengasah pisau di sana, kemungkinan besar mereka sedang berpesta dan memotong daging serta memanggangnya,” kata Waweru.