AS Bikin Pengobatan dari Bahan Tinja Manusia, Buat Apa?

5 Desember 2022 7:01 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
eye-off
Foto ini mungkin mengganggumu, apakah tetap ingin melihat?
Tinja terbesar dan paling berharga di dunia berasal dari bangsa viking. Foto: Wikimedia Commons
Tinja terbesar dan paling berharga di dunia berasal dari bangsa viking. Foto: Wikimedia Commons
ADVERTISEMENT
Food Drug Administration atau BPOM AS baru saja menyetujui terapi penyembuhan dengan obat berbahan dasar bakteri tinja atau kotoran manusia. Perawatan atau treatment ini dinamai Rebyota.
ADVERTISEMENT
Rebtyota diharapkan dapat menyembuhkan keluhan diare, pembengkakan usus besar (kolitis) hingga mencegah infeksi bakteri berbahaya di dalam usus manusia, akibat ketidakseimbangan mikrobioma bakteri di usus.
Dari beragam sumber bahan baku obat, kenapa ilmuwan malah justru memilih kotoran manusia?
Perawatan Rebyota telah disepakati digunakan khusus pada orang berusia 18 tahun ke atas. Mereka yang mendapatkannya ialah yang baru saja dirawat karena infeksi berulang dengan bakteri Clostridioides difficile (C. diff).
Bakteri C. diff berbahaya karena dapat dengan cepat mempengaruhi kesehatan usus jika mikrobioma normal terganggu. Misalnya akibat penggunaan antibiotik.
Saat C. diff berkembang biak di usus, bakteri melepaskan racun yang memicu diare, sakit perut, demam, dan pembengkakan usus besar (kolitis). Terkadang, infeksi juga dapat menyebabkan kegagalan organ dan bahkan berujung pada kematian, menurut catatan FDA dilansir Live Science.
ADVERTISEMENT
Selain usia 18 tahun ke atas, perawatan ini juga dapat diberikan ke orang berusia 65 tahun ke atas atau mereka yang sistem kekebalannya lemah, serta mereka yang baru saja tinggal di rumah sakit atau panti jompo menghadapi risiko infeksi bakteri ini.
Ilustrasi Sakit Perut. Foto: Getty Images
Rebyota diberikan ke pasien dalam bentuk obat cair dimasukkan ke dalam rektum pasien melalui selang. Perawatan ini dapat membantu dokter mengembalikan keseimbangan mikrobioma usus pasien yang hidup di saluran pencernaan bagian bawah.
Bakteri tinja diambil dari pendonor terpilih, sehat dan setuju untuk pencegahan infeksi bakteri yang berpotensi mengancam jiwa.
"Persetujuan Rebyota adalah kemajuan dalam merawat pasien yang mengalami infeksi berulang C. difficile (CDI)," kata direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologis FDA, Dr. Peter.
ADVERTISEMENT
"Sebagai produk mikrobiota tinja pertama yang disetujui FDA, (persetujuan ini menjadi) tonggak penting, karena memberikan opsi tambahan untuk mencegah (infeksi) CDI berulang."
Live Science mencatat, CDI berkontribusi terhadap setengah juta infeksi pasien di AS setiap tahun. 1 dari 6 pasien yang pernah terinfeksi akan kembali mengalami hal yang sama dalam waktu 2-8 minggu setelah pemulihan.
Sebenarnya, infeksi berulang ini dapat diobati dengan antibiotik. Namun antibiotik tidak selalu efektif bekerja melawan strain C. diff yang agresif dan kebal antibiotik.
Rebyota tersedia sebagai "produk mikrobiota tinja" pertama di dunia yang disetujui FDA. Dalam uji klinis tahap akhir, pengobatan satu dosis mengurangi tingkat serangan C. diff sebesar 29,4 persen dalam delapan minggu setelah pengobatan antibiotik, dibandingkan dengan plasebo, menurut laporan STAT.
ADVERTISEMENT
Dengan mempertimbangkan dua uji klinis pengobatan, tingkat keberhasilan pengobatan "secara signifikan lebih tinggi pada kelompok Rebyota (70,6%) dibandingkan pada kelompok plasebo (57,5%)," catat FDA.