kumparan
14 Agustus 2019 7:17

Astronom Buru Sinyal Misterius Luar Angkasa yang Membombardir Bumi

Ilustrasi gelombang misterius yang bombardir Bumi. Foto: NRAO Outreach/T. Jarrett
Sejak tahun 2001 teleskop-teleskop radio di Bumi telah menangkap banyak sinyal radio misterius dari luar angkasa. Gelombang-gelombang radio misterius ini membombardir Bumi dan memerciki alat-alat pendeteksi gelombang radio tersebut yang kemudian merekam data-data yang membingungkan.
ADVERTISEMENT
Alih-alih membiarkan kebingungan ini terus berlanjut, para astronom memilih menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk memburu sinyal-sinyal radio tersebut dan menentukan "dari mana sumber gelombang itu berasal" dan "apa yang mengirimnya ke Bumi".
Menurut para peneliti, banyak dari gelombang tersebut telah menempuh jarak miliaran tahun cahaya di luar angkasa hingga akhirnya sampai ke Bumi. Sinyal-sinyal tersebut tidak dapat dijelaskan, kadang-kadang, hingga bertahun-tahun setelah kejadian. Biasanya sinyal-sinyal hanya dapat diidentifikasi setelah para astronom melihat lonjakan data yang tak lazim pada alat pendeteksi.
Teleskop luar angkasa di Gurun Atacama, Chile. Foto: @ehtelescope/Twitter
Sinyal-sinyal radio misterius itu, yang para astronom sebut sebagai fast radio burst (FRB), juga memiliki struktur yang kompleks dan misterius. Pola puncak dan lembah gelombang-gelombang radio yang terdeteksi pun hanya berlangsung dalam milidetik. Selain itu, sinyal-sinyal ini juga datang di waktu dan tempat yang acak, sedangkan teknologi manusia dan metode pengamatannya selama bertahun-tahun masih belum siap untuk mendeskripsikan sinyal-sinyal ini.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, kebuntuan penelitian terhadap sinya mulai tercerahkan pada saat ini. Melalui sebuah makalah yang diterbitkan pada 4 Juli 2019, dalam jurnal Monthly Notice of the Royal Astronomical Society, tim astronom menulis bahwa mereka berhasil mendeteksi lima FRB secara real time dengan menggunakan teleskop radio tunggal.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari usaha Wael Farah, mahasiswa doktoral di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, yang mengembangkan sistem machine-learning (bagian dari kecerdasan buatan) yang mampu mengenali FRB ketika memercik alat detektor di Molonglo Radio Observatory di University of Sydney. Hebatnya, mesin ini hanya akan merekam gelombang dari hasil pengamatan paling menarik dalam detail terbaik dan tidak akan merekam gelombang-gelombang lain yang tidak jelas meski itu tertangkap oleh alat-alat lain.
Planet bumi. Foto: Qimono via Pixabay
Sistem kecerdasan buatan rancangan Farah ini juga menyisipkan kemampuan adaptif agar teleskop Molonglo mampu mengenali FRB lebih baik dari waktu ke waktu. Mesin ini bahkan diharapkan akan mampu menghasilkan mode perekaman paling detail dengan rekaman FRB terbaik yang belum pernah ada sebelumnya. Berdasarkan data yang disajikan oleh mesin ini, hingga sekarang para peneliti memperkirakan telah muncul antara 59-157 FRB yang dapat dideteksi secara teoritis dan tersebar di langit Bumi setiap hari.
ADVERTISEMENT
Sisi menariknya, dari gelombang-gelombang yang direkam mesin tersebut, mereka menyatakan bahwa FRB memiliki karakteristik yang unik. Yakni, sinyalnya datang sekejap, begitu tiba-tiba, dan tidak pernah terulang lagi.
Jadi, FRB ini tampaknya merupakan sinyal dari peristiwa tunggal di ruang angkasa yang kemungkinan tidak akan pernah terjadi lagi. Dan tentunya, sinyal radio misterius ini menantang pengembangan lebih jauh dari teknologi teleskop radio di Bumi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan