Astronom: Ilmu Luar Angkasa Bantu Negara Hadapi Bencana Banjir - Kebakaran Hutan
·waktu baca 3 menit

Astronom perempuan pertama Australia, Katherine Bennell-Pegg, menegaskan bahwa mempelajari luar angkasa atau astronomi, akan membantu seseorang sampai negara mengidentifikasi fenomena alam ekstrem seperti banjir hingga kebakaran hutan.
Ia berkata pentingnya pemerintah Australia memperluas sektor pertahanan melalui stratosfer. Pemanfaatan citra satelit, pemantauan atmosfer, dan analisis sistem bumi (Earth systems), diyakini bisa membantu negara dalam prediksi, mitigasi, dan respons bencana lebih efektif.
Menurut Bennell-Pegg, ruang angkasa bukan sekadar arena eksplorasi ilmiah, melainkan “mata di langit” yang mampu memantau kondisi di permukaan Bumi dari ketinggian jauh —layaknya satelit yang bisa mendeteksi pola cuaca ekstrem, vegetasi yang rentan terbakar, atau perubahan aliran air di daerah tangkapan hujan.
Melalui satelit penginderaan jauh (remote sensing), negara dapat mendeteksi titik panas (hotspots) pada fase awal kebakaran hutan, memantau kelembapan tanah, dan mengidentifikasi perubahan tutupan vegetasi. Selain itu, data cuaca satelit dapat dipakai untuk memodelkan curah hujan ekstrem dan potensi luapan sungai.
Luar angkasa pada dasarnya adalah sebuah tempat, seperti halnya lautan. Ia adalah mata di langit tempat kita dapat melihat fenomena di seluruh dunia, dan aktivitas di seluruh Australia.
- Katherine Bennell-Pegg, Astronom Australia -
Kepada media lokal ABC News, Bennell-Pegg menekankan perlunya kolaborasi antar lembaga —badan antariksa sipil, militer, serta lembaga mitigasi bencana— agar data dan sumber daya bisa digunakan bersama untuk kepentingan nasional.
Katherine Bennell-Pegg adalah wanita pertama dari Australia yang dilatih sebagai astronaut melalui European Astronaut Centre di Jerman.
Ia kini menjabat sebagai direktur teknologi ruang angkasa di Australian Space Agency, dan telah ditunjuk sebagai “specialist capability officer” di Angkatan Udara Australia.
Dengan posisinya, Bennell-Pegg menyuarakan bahwa ekspansi sektor luar angkasa Australia tidak hanya soal eksplorasi, tetapi juga aplikasi praktis dalam pengelolaan sumber daya alam dan mitigasi risiko bencana.
Ia percaya bahwa dalam dekade mendatang, sektor luar angkasa global akan tumbuh tiga kali lipat, membuka peluang kerja baru dan inovasi sains.
Manfaat Praktis Ilmu Luar Angkasa dalam Mitigasi Bencana
Berikut ini adalah sejumlah cara bagaimana ilmu luar angkasa dapat memperkuat upaya mitigasi bencana antara lain:
Deteksi dini kebakaran: Satelit inframerah bisa mendeteksi titik panas pada tahap awal sebelum api melebar luas.
Pemantauan lahan dan vegetasi: Citra jarak jauh membantu memetakan kerentanan lahan terhadap kebakaran dan perubahan vegetasi setelah kejadian.
Pemodelan banjir: Kombinasi data curah hujan satelit, topografi digital, dan kondisi tanah, dapat menghasilkan prediksi luapan air yang lebih akurat.
Koordinasi respons secara real-time: Informasi ruang angkasa dapat disalurkan ke lembaga penanggulangan bencana agar tim lapangan dapat mengambil keputusan cepat.
Walau potensi besar, Bennell-Pegg mengakui tantangan utama adalah integrasi antara sistem ruang angkasa dan tata kelola nasional. Data harus diakses secara real time, aman, dan mudah diterjemahkan ke kebijakan lapangan. Perlu juga pengembangan kapasitas sumber daya manusia (ilmu data, satelit, pemodelan) agar negara memiliki ahli dan ilmuwan yang mampu mengelola sistem ini.
Di samping itu, penting untuk melibatkan generasi muda dan perempuan dalam riset luar angkasa. Bennell-Pegg menyatakan bahwa keanekaragaman latar belakang ilmiah akan memperkaya solusi terhadap tantangan bumi dan ruang angkasa.
Dalam pandangan Bennell-Pegg, belajar ruang angkasa bukanlah kemewahan ilmiah semata, melainkan strategi cerdas untuk membantu negara mencegah dan mengelola bencana seperti banjir dan kebakaran hutan.
Dengan kolaborasi antar-lembaga, teknologi luar angkasa punya potensi besar menjadi “mata satelit” yang menjaga keamanan dan ketahanan.
