kumparan
12 Agustus 2019 19:05

Astronom Temukan Salah Satu Bintang Tertua di Alam Semesta

Galaksi
Banyak hal belum terungkap di semesta. Foto: Thinkstock
Sebuah riset terbaru mengungkap temuan salah satu bintang tertua di alam semesta. Bintang ini berjarak sekitar 35.000 tahun cahaya dari Bumi dan masih berada di satu galaksi dengan kita, yaitu galaksi Bima Sakti.
ADVERTISEMENT
Laporan hasil riset ini telah dipublikasikan di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 17 Juli 2019. Menurut riset, ada bintang merah raksasa bernama SMSS J160540.18–144323.1 yang kandungan besinya terendah di antara bintang-bintang lainnya yang telah dipelajari.
Para astronom mengatakan kondisi tersebut menandakan bahwa bintang ini adalah salah satu bintang tertua di alam semesta. Mungkin, bintang ini berasal dari bintang-bintang "generasi kedua" yang terbentuk beberapa saat setelah alam semesta meledak dan eksis pada 13,8 miliar tahun lalu.
"Ini adalah bintang dengan kandungan besi yang rendah. Dia mungkin terbentuk hanya beberapa ratus juta tahun setelah terjadinya Big Bang," jelas pemimpin riset, Thomas Nordlander, kepada Science Alert. "Tingkat kandungan besinya 1,5 juta lebih rendah dibanding Matahari," sambungnya.
ADVERTISEMENT
Pada dasarnya, kita bisa mengetahui usia bintang dari kandungan besi. Sebab, alam semesta, di awal terbentuknya, tidak memiliki metal.
Bintang-bintang di Galaksi Bima Sakti
Ilustrasi bintang-bintang di Galaksi Bima Sakti Foto: Skeeze via Pixabay
Bintang-bintang yang terbentuk di awal alam semesta terbentuk dari hidrogen dan helium. Mereka disebut Population III dan diduga memiliki ukuran sangat masif, sangat panas, serta berusia pendek.
Sumber energi bintang berasal dari fusi nuklir. Itu adalah kondisi ketika inti atom dari elemen ringan berkombinasi untuk membuat elemen lain yang lebih besar.
Pada bintang-bintang kecil biasanya terjadi kombinasi hidrogen yang lalu berubah menjadi helium. Tapi, pada bintang yang lebih besar, seperti bintang-bintang Population III, bisa terbentuk elemen "berat" semacam silikon dan besi.
Lalu, ketika bintang-bintang masif itu mengalami supernova atau ledakan dahsyat karena kehabisan "nyawa", elemen-elemen tersebut menyebar ke alam semesta. Elemen tersebut kemudian ikut masuk ke dalam bintang yang baru terbentuk. Dari situ kita mengetahui bahwa kandungan metal sebuah bintang adalah indikator usia mereka.
ADVERTISEMENT
Menurut para astronom, bintang SMSS J160540.18–144323.1 ini adalah salah satu bintang pertama yang muncul setelah Population III mengalami supernova.
Bintang ini sekarang sedang berada di ujung usianya. Warna merah dan ukurannya menunjukkan bahwa ia sedang menggunakan cadangan hidrogen terakhirnya sebelum melakukan fusi helium.
Tim peneliti mengatakan bahwa dengan mempelajari bintang ini kita bisa memahami lebih dalam mengenai bintang-bintang Population III. Dengan begitu, kita bisa sedikit memahami bagaimana alam semesta ini mulai terbentuk.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan