Badai Matahari Makin Kuat, Ini Dampaknya ke Bumi dan Manusia
·waktu baca 2 menit

Badai Matahari dilaporkan semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir. Ini ditandai dengan semakin banyaknya laporan penampakan cahaya utara atau aurora yang terjadi di wilayah Kutub Bumi.
Matahari sendiri mengalami siklus aktivitas sekitar 11 tahun sekali. Artinya, dalam 11 tahunan matahari akan mengalami perubahan aktivitas yang ditandai dengan perubahan jumlah bintik matahari (sunspot) yang terdapat di permukaannya. Munculnya bintik ini disebabkan karena adanya fluks medan magnet lokal Matahari yang sangat kuat.
Para ilmuwan memperkirakan siklus Matahari akan mencapai klimaksnya pada 2025, dengan puncak sekitar 115 bintik Matahari. Sementara itu, badai geomagnetik paling kuat yang diketahui terjadi pada 1859 ketika aurora terlihat di daerah tropis.
Jika peristiwa dahsyat seperti 1859 terjadi hari ini, maka akan menjadi bencana besar bagi manusia meski tak akan membunuh atau menghancurkan peradaban kita. Faktanya, peristiwa badai geomagnetik dahsyat tergolong cukup langka, dan cuaca antariksa mestinya bisa melindungi kita pada risiko terburuk.
Berkat magnetosfer, efek badai Matahari yang dirasakan tidak akan terlalu parah. Bahkan, badai radiasi Matahari yang paling parah pada Skala Cuaca Luar Angkasa NOAA hanya akan memengaruhi astronaut yang berada di luar angkasa, dan orang-orang yang berada di pesawat atau di garis lintang akan terpapar radiasi lebih tinggi.
Badai Matahari sendiri disebabkan oleh lontaran massa koronal dan jilatan api Matahari, tetapi hanya yang paling kuat (di kelas X) yang dapat mencapai tingkat keparahan untuk menempatkannya dalam skala NOAA.
Fakta lainnya adalah sebagian besar suar sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia. Suar Matahari hanya akan berdampak pada teknologi yang ada di Bumi dan luar angkasa.
Mereka dapat secara langsung memengaruhi satelit, mengubah bentuk atmosfer, dan mengacaukan komunikasi. Orang-orang menyebutnya sebagai ‘kiamat internet’. Bahkan, suar yang lebih rendah, kelas-M, bisa mengacaukan teknologi komunikasi di Bumi.
“Dengan suar kelas M, yang saat ini kami hadapi beberapa kali dalam seminggu, Anda bisa mengalami pemadaman radio kecil, yang berarti bahwa di wilayah tertentu di belahan Bumi, komunikasi radio akan bekerja secara aneh,” kata Dr Ryan French peneliti dari National Solar Observatory sebagaimana dikutip IFLScience.
Jadi, efek paling umum dari puncak aktivitas Matahari adalah terjadinya gangguan kecil pada satelit sehingga mengacaukan sistem komunikasi di Bumi dan luar angkasa, bukan armageddon. Sebagai gantinya, aurora bakal lebih sering muncul di Kutub Bumi dan tentu saja, manusia bisa menyaksikan fenomena alam yang indah ini.
