Bagaimana AI Milik Google Bisa Temukan Exoplanet yang Jauh di Sana?

NASA dan Google baru saja mengumumkan dua temuan exoplanet baru pada (15/12). Temuan itu cukup spesial karena ini adalah kali pertama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membantu dalam melakukan eksplorasi luar angkasa.
Sebenarnya AI yang dikembangkan oleh Christopher Shallue, peneliti dari Google AI, dan Andrew Vanderburg, astronom dari University of Texas, itu hanya diajarkan cara untuk membaca data dari Teleskop Luar Angkasa Kepler. Dari situlah Google AI dapat menemukan dua exoplanet yang sebelumnya para peneliti gagal temukan.
"Yang membuat temuan ini berbeda dari biasanya adalah kita menggunakan metode machine learning untuk membantu mengidentifikasi planet yang luput dari pengamatan data Kepler," kata Shallue.
Machine learning yang dimaksud Shallue adalah membiarkan komputer untuk mempelajari sebuah pola dalam membaca data. Jadi para peneliti tersebut menunjukkan bagaimana cara membaca data Kepler untuk menemukan planet tapi tidak memberikan suatu program khusus bagi komputer tersebut dalam mencari planet menggunakan Teleskop Luar Angkasa Kepler.
Cara tersebut dikenal juga dengan sebutan Artificial Neural Network (ANN) atau dalam bahasa indonesianya Jaringan Saraf Tiruan (JST). ANN tersebut mampu menemukan pola berdasarkan data yang masuk maupun keluar.
"Kami menemukan bahwa ANN juga mampu mengidentifikasi planet dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh Kepler. Bahkan ANN yang digunakan untuk menemukan dua planet baru ini sangat mirip dengan ANN yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi gambar kucing dan anjing," tambah Shallue.

Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu para peneliti dalam menemukan exoplanet yang lebih banyak. Karena AI tersebut mampu mengolah data beberapa kali lebih cepat dibandingkan para peneliti.
Bahkan, Shallue menjelaskan seiring perkembangan teknologi dan semakin banyaknya data yang dikumpulkan, metode machine learning akan semakin bermanfaat bagi umat manusia untuk melakukan penemuan dalam berbagai bidang, tak terbatas pada astronomi saja.
Kendati demikian AI ini masih belum bisa untuk menggantikan peran para astronom manusia secara seutuhnya. Hal itu disebabkan karena Google AI rancangan Shallue dan Vanderburg itu masih mempelajari cara membaca data serta mengeluarkan pola berdasarkan para astronom di NASA.
"Mereka melakukan machine learning berdasarkan klasifikasi yang para astronom manusia lakukan. Anda tak bisa hilangkan interaksi itu," kata Jessie Dotson, peneliti NASA pada bagian Kepler.
Shallue pun menambahkan bahwa pengembangan AI ini adalah untuk menjadi alat yang bisa membantu produktivitas para astronom dan membuat lebih banyak lagi penemuan.
AI Belum Bisa Temukan Kehidupan Alien
Meski potensinya dalam menemukan planet berdasarkan data dari Teleskop Luar Angkasa Kepler cukup tinggi, AI ini masih belum memiliki kemampuan untuk menemukan kehidupan alien di luar sana.
"Diperlukan mesin futuristik seperti mesin James Webb Space Telescope yang mampu mempelajari fitur planet-planet dengan lebih baik," kata Vanderburg.
James Webb Space Telescope atau Teleskop Luar Angkasa James Webb adalah teleskop luar angkasa terbaik yang pernah diciptakan. Teleskop yang rencananya akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2019 itu dikabarkan mampu menangkap banyak fenomena yang terjadi di luar angkasa sana.
"Seperti yang kita ketahui Kepler lebih pada penemuan lokasi dari suatu planet bukan pada penemuan mendalam seperti fitur dari planet tersebut," tambah Vanderburg.
Hasil Temuan Akan Dipublikasikan
Penggunaan AI untuk menemukan exoplanet telah dipelajari secara mendalam dalam studi yang akan dipublikasikan oleh Shallue dan Vanderburg di The Astronomical Journal.
AI tersebut sangat membantu para peneliti mengolah dan mempelajari data Kepler yang jumlahnya mencapai ratus ribuan itu demi mencari temuan baru.
"Cara baru untuk melihat data seperti ini sangat menjanjikan untuk membantu kemajuan pemahaman kita dalam sistem planet di bintang lain," kata Dotson. "Saya yakin ada banyak penemuan baru tersembunyi di antara data-data Kepler, menunggu untuk ditemukan."
