Bakti BCA Dukung Pelestarian Macan Tutul Jawa, Identifikasi 8 Individu di TNBTS
·waktu baca 3 menit

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan RI dan Yayasan SINTAS Indonesia, menjalankan Java Wide Leopard Survey (JWLS) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai bagian dari upaya konservasi pelestarian macan tutul jawa yang populasinya kian memprihatinkan.
Di tengah tekanan terhadap hutan yang terus meningkat, spesies endemik Pulau Jawa tersebut perlahan tapi pasti kehilangan ruang hidupnya. Momentum Hari Macan Tutul Internasional pun menjadi pengingat untuk menjaga satwa ini berarti menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Program JWLS menjadi bagian dari upaya dalam menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Bakti BCA mendukung program ini dalam berbagai skenario, termasuk menyediakan peralatan survei lapangan, hingga terlibat dalam riset berbasis data ilmiah. Tujuannya adalah memetakan populasi dan memahami kondisi habitat macan tutul Jawa secara lebih akurat.
“Sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam pelestarian macan tutul Jawa,” ujar Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA.
Hingga Juli 2025, survei tahap pertama di TNBTS berhasil mengidentifikasi sedikitnya 8 individu macan tutul jawa, terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan. Sementara itu, survei tahap kedua masih berlangsung sepanjang 2026 untuk melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh.
Program ini juga berinvestasi pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Sebanyak 84 peserta telah dilatih dalam teknik survei menggunakan kamera pengintai, sementara 16 peserta lainnya dibekali kemampuan manajemen serta analisis data dari berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE dan BBKSDA Jawa Timur.
Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, menyoroti tantangan besar yang dihadapi satwa ini. Dalam beberapa dekade terakhir, bentang alam habitat macan tutul jawa mengalami perubahan signifikan akibat ekspansi aktivitas manusia. Dampaknya, satwa ini kerap terdorong keluar dari habitat alaminya hingga mendekati pemukiman warga.
Padahal, kebutuhan dasar macan tutul jawa sebenarnya sederhana, yakni habitat yang aman, cukup luas, dan saling terhubung. Namun, kondisi Pulau Jawa saat ini membuat kebutuhan tersebut semakin sulit terpenuhi.
Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama tidak diprovokasi, macan tutul tidak akan menyerang. Jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu menjadi solusi realistis.”
- Hariyo T. Wibisono, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia -
Ia juga menekankan pentingnya data yang akurat dalam upaya konservasi. Tanpa informasi yang memadai mengenai jumlah individu, struktur populasi, hingga konektivitas habitat, strategi pelestarian berisiko meleset dari sasaran. Di sinilah peran survei seperti JWLS menjadi krusial.
Di tingkat tapak, masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan justru memiliki pemahaman yang kuat soal keseimbangan tersebut. Randi, warga Ranu Pani, pernah melihat keberadaan macan tutul jawa secara langsung.
“Macan tutul itu satwa liar, nalurinya memang begitu, apalagi kalau dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke kampung pasti ada sebabnya, mungkin ekosistemnya terganggu,” ujarnya.
Menurutnya, solusi bukan dengan mengusir, melainkan menjaga habitat. “Kalau tempatnya aman, mereka tidak akan turun. Jadi bukan soal mengusir, tapi bagaimana kita sama-sama menjaga.”
Pandangan serupa disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Tuangkat. Dalam kearifan lokal, macan tutul bukan sekadar satwa liar, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati.
“Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga. Kalau hutan lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman. Kuncinya sederhana: jaga hutan, hormati alam,” tuturnya.
