Kumparan Logo

Batu Ruby 11.000 Karat Ditemukan di Myanmar, Harga Capai Ratusan Miliar Rupiah

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Batu ruby 11.000 karat seberat 2,2 kilogram ditemukan di Myanmar.  Foto: Radio dan Televisi Myanmar/HO/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Batu ruby 11.000 karat seberat 2,2 kilogram ditemukan di Myanmar. Foto: Radio dan Televisi Myanmar/HO/AFP

Sebuah batu ruby raksasa seberat 11.000 karat ditemukan di Myanmar. Penemuan ini menjadi salah satu yang terbesar di negara yang dikenal sebagai penghasil batu permata berkualitas tinggi tersebut.

Pemimpin kudeta yang kini menjabat sebagai presiden, Min Aung Hlaing, tampil di halaman depan surat kabar pemerintah Global New Light of Myanmar memeriksa batu seberat 2,2 kilogram itu di kantornya.

Ruby tersebut ditemukan di kawasan Mogok, wilayah di Myanmar yang sudah lama terkenal sebagai sumber batu permata langka. Pemerintah yang didukung militer menyebut ruby itu sebagai batu sangat besar, langka, dan sulit ditemukan.

“Ruby raksasa ini memiliki warna merah keunguan dengan sedikit nuansa kekuningan dan dikategorikan memiliki kualitas warna yang tinggi,” tulis pernyataan resmi pemerintah Myanmar, dikutip AFP.

Meski ukurannya lebih kecil dibandingkan ruby 21.450 karat yang ditemukan di wilayah yang sama pada 1996, batu terbaru ini disebut memiliki nilai lebih tinggi. Hal tersebut dikarenakan kualitas warna, kejernihan, dan mutu keseluruhannya yang dinilai lebih unggul. Namun, pemerintah tidak merinci nilai pasti dari batu tersebut.

Wilayah Mogok di kawasan Mandalay sejak lama menjadi rebutan para penguasa, mulai dari kaisar, raja, hingga panglima perang. Hal ini karena daerah tersebut menyimpan batu ruby legendaris berwarna pigeon-blood atau merah darah merpati yang sangat langka.

Ruby dari Mogok dikenal sebagai yang termahal di dunia. Batu dengan kualitas terbaik bisa terjual hingga ratusan miliar rupiah, meski industri ini kerap dikritik karena minim regulasi.

Myanmar sendiri masih berada di bawah kekuasaan junta militer sejak kudeta pada 2021 yang memicu perang saudara. Namun, mantan kepala militer Min Aung Hlaing baru-baru ini dilantik sebagai presiden sipil setelah pemilu yang berlangsung dengan pembatasan ketat.