Kumparan Logo

Begini Cara Jepang Persiapkan Diri Hadapi Gempa dan Tsunami

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pakar gempa Badan Meteorologi Jepang berbicara saat konferensi pers terkait gempa bumi di Tokyo, Jepang. Foto: AFP/JIJI PRESS
zoom-in-whitePerbesar
Pakar gempa Badan Meteorologi Jepang berbicara saat konferensi pers terkait gempa bumi di Tokyo, Jepang. Foto: AFP/JIJI PRESS

Mirip dengan Indonesia, Jepang juga sering diguncang gempa bumi. Salah satunya adalah kejadian gempa bumi berkekuatan 9 magnitudo yang terjadi pada 2011 lalu. Sejam setelah gempa bumi, tsunami berketinggian 10 meter menghantam daratan dan meluluhlantakkan pesisir Prefektur Miyagi dan sekitarnya. Setidaknya, dalam bencana itu, ada sekitar 20.000 nyawa melayang.

Berkaca dari bencana gempa dan tsunami 2011, Jepang membuat sebuah konsep untuk mengidentifikasi potensi bencana mematikan di setiap daerah. Meski mereka sadar, konsep ini tidak sepenuhnya bisa menghindari jatuhnya korban jiwa. Namun, setidaknya mereka bisa mengurangi jatuhnya korban jiwa, dan meminimalisir kerugian ekonomi. Ini dilakukan dengan cara memobilisasi gabungan antara langkah-langkah struktur dan non struktur.

Naoto Tada, Pakar Pengurangan Risiko Bencana Jepang, mengatakan bahwa pada Maret 2012, pemerintah Jepang memutuskan untuk meninjau kembali simulasi tsunami di negaranya. Jepang lalu menerbitkan simulasi terbaru, terutama simulasi bencana tsunami akibat Palung Nankai.

Gempa di daerah Sapporo, Jepang. Foto: Kyodo/ Reuters

Selain itu, Jepang juga membuat Undang-Undang baru untuk “Gempa Bumi Palung Nankai”. Dalam Undang-Undang itu, Jepang menetapkan sebuah rencana induk dengan target mengurangi jumlah kematian akibat bencana hingga 80 persen dalam kurun waktu 10 tahun.

Upaya-upaya tersebut diimplementasikan dalam tiga aspek mitigasi bencana. Aspek pertama adalah menghadapi gempa bumi dengan cara membuat bangunan tahan gempa dan pencegahan kebakaran. Aspek kedua adalah untuk menghadapi tsunami dengan cara membuat langkah-langkah struktural, perencanaan tata ruang, dan evakuasi. Aspek terakhir adalah kesiapsiagaan, meliputi sektor pendidikan dan pelatihan bencana, relawan, logistik, penyelamatan, dan perawatan medis.

“Pemerintah Jepang juga membentuk tim untuk menjelaskan bagaimana caranya masing-masing kota melakukan perencanaan penanggulangan bencana,” ujar Naoto Tada, Pakar Pengurangan Risiko Bencana Jepang, di acara konferensi pers penanggulangan bencana di kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (31/7).

Naoto Tada, Pakar Pnegurangan Risiko Bencana Jepang saat Konferensi Pers Penanggulangan Bencana. Foto: Habib Ferdian/kumparan

Sebagai contoh, kota Kuroshio di Jepang “diramal” akan mengalami tsunami dengan estimasi ketinggian tsunami hingga 34 meter akibat gempa Palung Nankai. Di kota itu terdapat 11 ribu jiwa dengan perkiraan dampak terburuk akan menelan 2.300 korban jiwa akibat gempa bumi dan tsunami.

Tim penanggulangan bencana sempat melakukan wawancara dengan warga setempat ihwal kemungkinan terjadinya bencana itu. Sedihnya, sebagian besar warga menjawab dengan pesimis. Mereka menjawab “kami tidak punya pilihan selain menyerah untuk evakuasi”, atau “kita pasti meninggal karena tsunami besar”.

Untuk mengubah pemikiran mereka menghadapi bencana, tim kemudian membuat tiga prinsip bagi masyarakat pesisir yang wilayahnya berpotensi terkena bencana. Tiga prinsip tersebut adalah “tidak boleh menyerah”, “mulai evakuasi setelah guncangan”, dan “evakuasi cepat ke tempat aman”.

Dalam konsep “tidak boleh menyerah”, tim membuat program pembuatan kartu yang di dalamnya terdapat data nama keluarga, tetangga, penyandang disabilitas, dan jalur evakuasi. Kartu ini dikelola oleh komunitas yang nantinya, setiap komunitas akan selalu mengadakan latihan evakuasi secara berkala.

Gempa di Osaka, Jepang. Foto: Kyodo/via REUTERS

Setelah tiga prinsip ini diberikan dan diajarkan kepada penduduk selama kurang lebih 4 tahun, pemikiran mereka pelan-pelan mulai berubah. Saat ditanya kembali terkait potensi tsunami yang akan melanda tempat tinggalnya, sebagian besar warga menjawab “kami tidak akan pernah menyerah untuk melakukan evakuasi” dan “kami akan bertahan hidup tanpa adanya korban”.

Ini menandakan bahwa prinsip yang diterapkan dan dibangun di masyarakat telah berhasil dilakukan dengan baik. Hal itu bisa mengurangi angka kematian saat terjadinya gempa. Lebih lanjut, dalam menghadapi bencana tsunami, Jepang juga mulai menerapkan pendidikan kebencanaan. Di mana setiap kota harus mengajarkan tiga prinsip tersebut kepada penduduk dan siswa secara menyeluruh.

Gambar dari udara menunjukkan rumah penduduk yang rusak akibat gempa di Tsuruoka, perfektur Yamagata, Jepang. Foto: Kyodo/via REUTERS

Mereka juga mulai merelokasi bangunan, seperti balai kota yang dipindahkan ke dataran yang lebih tinggi. Selain itu, Jepang juga membangun menara evakuasi dengan ketinggian 22 meter, yang setiap menara dapat menampung 230 orang. Setiap daerah yang berpotensi diterjang tsunami memiliki enam menara evakuasi.

Tidak hanya itu, pemerintah Jepang telah membuat 230 rute jalur evakuasi serta membangun tanggul tsunami dan menambah sistem informasi. Mereka juga mulai merekomendasikan kepada warganya untuk membuat bangunan tahan gempa, dengan memberikan subsidi untuk uji tahan gempa dan memperkuat bangunan.

Pemerintah Jepang bertekad, pada tahun 2020, 90 persen program yang mereka miliki bisa diterapkan di seluruh wilayah Jepang.