Berbagai Risiko Buruk Intai Mereka yang Hidup di Usia Tua Tanpa Anak

Lebih dari 1 juta orang berusia di atas 65 tahun yang hidup tanpa anak berada dalam "bahaya". Mereka berada dalam risiko tak terurus, terisolasi, kesepian, punya kondisi kesehatan buruk, miskin, dan tidak mampu mengakses layanan kesehatan.
Hal itu berdasarkan temuan dari organisasi Ageing Well Without Children (AWwoC). Kirsty Woodard, pendiri AWwoC, mengatakan bahwa jumlah orang berusia lanjut di Inggris akan meningkat dua kali lipat pada 2030.
Woodard menjelaskan ada beberapa kelompok yang rentan hidup menua tanpa anak. Misalnya, komunitas LGBT dan kaum disabilitas. Namun banyak juga orang biasa yang punya anak, tapi saat tua tak hidup bersama anak-anak mereka.
Berdasarkan analisis Woodard, sebagaimana dilansir The Guardian, individu berusia lanjut yang tidak memiliki anak punya kesehatan yang lebih buruk, tidak menjaga kesehatan, dan punya tingkat kematian yang lebih tinggi. Selain itu, mereka juga memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia mereka.
Woodard juga menemukan bahwa para lansia yang tidak punya anak memiliki akses lebih rendah ke layanan kesehatan gratis. Hal ini karena layanan kesehatan usia tua tanpa biaya sebagian besar diberikan oleh anak-anak yang bersangkutan.
"Orang lanjut usia yang tidak memiliki anak terjebak di dalam suatu siklus di mana mereka cenderung membutuhkan layanan perawatan formal tapi kesulitan untuk mengusahakannya sendiri. Karena itu biasanya dilakukan oleh anak-anaknya," ungkap Woodard.
Woodard mengatakan perlu adanya peraturan pemerintah bagi kelompok ini. Ia menambahkan bahwa sekarang ini, kelompok orang usia lanjut tanpa anak terabaikan oleh para ahli dan peneliti. "Mereka diletakkan di dalam kotak 'terlalu sulit ditangani' dan diabaikan," kata Woodard.
Paul Goulden, kepala eksekutif Age UK London, mengatakan bahwa kerentanan orang lanjut usia tanpa anak berada di "titik buta" masyarakat. "Ada asumsi bahwa semua orang memiliki anak yang bisa menopang mereka," ujar Goulden kepada The Guardian.
"Tapi mereka yang tidak memiliki anak, tidak memiliki penopang vital itu. Jika Anda tidak memiliki seseorang yang bisa membantu mengangkat telepon, Anda rentan mengalami penipuan dan kejahatan lainnya, dan biasanya memiliki kualitas hidup yang buruk," lanjut dia.
Catherine Seymour, kepala kebijakan Independent Age, mengatakan hal serupa. Menurutnya, jika para lansia yang hidup tanpa anak ini dibiarkan saja, maka jumlah kelompok ini akan semakin membesar, terus terabaikan, dan kebutuhan mereka tidak akan terpenuhi.
Dominic Carter dari Alzheimer’s Society secara khusus mengkhawatirkan jumlah penderita demensia di Inggris yang menurutnya bisa meningkat sampai 1 juta orang pada 2021. Demensia adalah penurunan kemampuan otak yang biasanya terjadi pada lansia. Kondisi ditandai dengan otak lansia yang mulai pikun dan sulit berpikir untuk mengambil keputusan dengan benar.
"Sistem perawatan bagi mereka yang menderita demensia sangat bergantung pada keluarga. Jika Anda tidak memiliki keluarga yang bisa merawat, Anda akan terpaksa merawat diri sendiri yang sangat berisiko tinggi. Kita memerlukan sebuah sistem layanan kesehatan dan perawatan yang menangani kelompok penduduk (lansia tanpa anak) ini," ujarnya.
