Bisakah Hewan Merasa Cemburu?

Mungkin kamu sering melihat video lucu di media sosial memperlihatkan tingkah hewan peliharaan yang sangat posesif pada majikannya, terutama jika kedatangan peliharaan baru. Ya, sama seperti manusia, ternyata hewan juga bisa memiliki perasaan cemburu.
Namun, perasaan cemburu pada hewan bukan karena keterikatan atau interaksi sosial. Berdasarkan laporan Live Science, perasaan tersebut muncul karena emosi primordial yang telah ada sejak lahir, mirip seperti yang dimiliki manusia dan beberapa hewan seperti anjing dan primata.
Ada istilah "cemburu" dan "iri hati”. Para psikolog melihatnya sebagai dua emosi yang sangat berbeda. Iri hati adalah emosi dua entitas yang terjadi ketika kita kekurangan sesuatu. Sementara, kecemburuan membutuhkan segitiga sosial dan muncul ketika seseorang atau sesuatu mengancam hubungan khusus.
Untuk merasa cemburu diperlukan kemampuan kognitif tertentu untuk mengenali dan mengukur potensi ancaman terhadap hubungan tertentu. Pada sejumlah hewan, kemampuan kognitif seperti ini merupakan tingkatan tinggi.
Seringkali kecemburuan muncul karena seks dan hubungan romantis. Namun bisa juga terjadi di situasi lain, seperti antara teman, anggota keluarga atau rekan kerja. Berdasarkan penelitian, bayi berusia 6 bulan sudah bisa merasa cemburu ketika ibunya berinteraksi dengan bayi lain.
Ini menunjukkan bahwa rasa cemburu adalah emosi bawaan (tidak dipelajari) yang berevolusi untuk melindungi semua jenis hubungan sosial dari penyusup, dan yang mungkin ada pada hewan.
Para peneliti dari Universitas California mempublikasikan penelitiannya di jurnal Plos One terkait kecemburuan pada anjing. Mamalia itu menjadi lebih pecemburu saat pemiliknya membelai anjing palsu.
Sepertiga anjing tersebut mencoba masuk, menyela pelukan, di antara pemilik dan anjing palsu. Lalu, seperempat anjing menyerobot pelukan anjing palsu.
Namun ada anjing yang tak menunjukkan kecemburuan. Para peneliti menduga anjing itu mengetahui bahwa 'musuh' mereka bukanlah anjing sungguhan, atau mereka paham tidak ada ikatan yang kuat antara pemilik dan si 'musuh.'
Mereka juga tidak cemburu saat pemiliknya sibuk dengan buku atau lentera Jack-o', hiasan Halloween dari labu kuning. Kesimpulan serupa juga muncul pada penelitian di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution pada 19 Oktober 2017 lalu.
Penelitian tersebut mendeskripsikan kecemburuan pada monyet titi yang sebagai primata monogami, sangat tepat untuk dijadikan objek penelitian yang mempelajari neurobiologi dari reaksi emosi. Mereka menggunakan hewan untuk lebih memahami neurobiologi dari emosi yang kuat.
Menghadapi saingan romantis, monyet menjadi agresif. Mereka akan menempatkan diri di antara pasangan mereka dan calon saingan, dan kadang-kadang secara fisik menahan pasangan mereka untuk mencegah mereka bergerak ke arah pengganggu.
Penelitian ini dilakukan dengan metode pengamatan monyet titi jantan saat melihat pasangan mereka berinteraksi dengan pejantan asing selama 30 menit. Mereka juga menyaksikan betina asing berinteraksi dengan pejantan asing dengan jumlah waktu yang sama.
Saat itu terjadi monyet mengalami peningkatan kadar hormon testosteron akibat agresi dan persaingan terkait pasangan dan kortisol karena indikasi stres sosial. Pemindaian otak mengungkap adanya peningkatan aktivitas di area otak terkait dengan pengucilan sosial pada manusia (korteks consulate) dan area lain yang terkait dengan perilaku agresif (septum baterai).
Selain anjing dan monyet titi, sebagian besar hewan peliharaan juga pencemburu, seperti kuda, burung, dan kucing. Penelitian lebih lanjut tentang emosi sosial hewan selain anjing dan primata dapat mengungkapkan bagaimana kecemburuan tampak pada hewan.
